Pernikahan Rahasia Sang Presdir

Pernikahan Rahasia Sang Presdir
Restu


__ADS_3

Nyonya Anita pergi dari kediaman Yuda dengan perasaan hancur dan juga terluka. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia merasa telah gagal dalam mendidik putri semata wayangnya hingga sang putri terjerumus dalam lingkaran se*s bebas yang telah dia saksikan dengan kedua matanya sendiri.


Harapan yang terlalu besar, juga rasa kasih sayang yang terlalu berlebihan membuat rasa kecewa yang didapatkan oleh Nyonya Anita pun sangat-sangat besar.


Sementara itu, Amanda yang masih di dalam sana nampak menangis sesenggukan setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh ibundanya itu. Dia tidak menyangka kalau rasanya akan sesakit ini, ketika sang ibu mengatakan bahwa beliau tidak akan lagi menganggap dia sebagai putri kandungnya.


"Kamu yang sabar ya, kita bersih-bersih dan minta maaf sama ibu kamu." Lembut Yuda mencoba untuk menenangkan seraya memeluk tubuh sang kekasih.


"Apa kamu gak dengar apa kata Mommy tadi? Dia sudah tidak menganggap aku sebagai putrinya lagi, hiks hiks hiks ..." Jawab Amanda menangis di dalam dekapan sang kekasih.


"Itu karena beliau sedang dalam keadaan emosi. Wajar jika Tante marah melihat kita seperti ini, tapi sudah kewajiban kita sebagai seorang anak untuk meminta maaf kepada beliau. Saya akan temani kamu, dan saya akan selalu ada di samping kamu, sayang."


"Benarkah? Apa Mommy akan memaafkan kita? Apa beliau akan menikahkan kita juga?"


"Tentu saja, senakal-nakalnya seorang anak pasti akan selalu dimaafkan oleh ibunya. Semarah-marahnya seorang ibu, pasti akan selalu membuka pintu maaf untuk anaknya karena apa? Karena beliau yang mengandung dan melahirkan kita. Kita juga sebagai anaknya jangan pernah menyerah untuk mendapatkan maaf dari ibu kita." Jawab Yuda panjang lebar.


"Kalau Mommy gak maafin kita gimana? Mommy itu keras orangnya. Sekali tidak ya tidak."


"Kamu tenang saja. Meskipun beliau tidak memberi restu kepada kita, saya akan tetap menikahi kamu, sayang.''


Amanda hanya bisa terus menangis tiada henti, hatinya pun benar-benar terluka juga diliputi rasa penyesalan yang mendalam.


"Sekarang kamu bersih-bersih dulu. Kita ke rumah kamu dan memohon maaf kepada Tante Anita. Semoga saja, beliau masih membuka pintu maaf untuk kita berdua." Pinta Yuda dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Amanda.


♥️♥️


Ceklek ....


Amanda membuka pintu dan masuk ke dalam rumah bersama Yuda sang kekasih tentu saja. Dia pun segera berjalan menuju kamar sang ibu dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Mom ... Ini aku Amanda. Boleh aku masuk?" Tanya Amanda diiringi dengan ketukan pintu.


Ceklek ....


Amanda pun membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar. Gelap dan hening, gorden di kamar nampak masih di tutup rapat. Sementara sang ibu meringkuk di atas ranjang dengan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


"Mom, maafkan aku Mom. Aku ngaku salah, aku benar-benar minta maaf.'' Amanda seketika langsung menghampiri lalu duduk di atas lantai seorang sedang memohon.


"Buat apa kamu pulang? Mommy 'kan sudah bilang kalau Mommy gak mau lihat muka kamu lagi." Jawab sang ibu tanpa menoleh sama sekali.


"Aku menyesal, Mom. Hiks hiks hiks ...''


"Apa penyesalan kamu ada gunanya?"


Amanda diam menundukkan kepalanya.


"Apa penyesalan kamu dapat mengobati rasa kecewa Mommy?"

__ADS_1


Amanda masih diam tidak bergeming.


"Kamu tahu, kamu putri satu-satunya yang Mommy miliki. Mommy menyimpan harapan yang besar sama kamu, Manda. Tapi apa? Kamu benar-benar telah menghancurkan harapan Mommy, mengecewakan Mommy, bahkan kamu tidak mendengarkan larangan dari Mommy untuk tidak berpacaran dengan si Yuda itu." Teriak Nyonya Anita, memutar badan lalu menatap wajah putrinya penuh rasa kecewa.


Bukannya menjawab. Amanda kini meringis kesakitan seraya memegangi perutnya. Perutnya yang masih datar itu tiba-tiba saja terasa sakit, bahkan sangat-sangat sakit.


"Arghhhhh ... Perut aku, Mom. Perut aku sakit banget. Arrghh ...'' Ringis Manda.


"Kamu kenapa, Nak? Perut kamu kenapa?" Nyonya Anita seketika bangkit lalu menghampiri putrinya.


"Aku juga gak tau, Mom. Sakit banget."


"Kamu 'kan lagi hamil. Kita harus segera pergi ke Rumah Sakit. Apa kamu ke sini bersama si Yuda?"


Amanda menganggukkan kepalanya seraya meringis menahan rasa sakit.


"YUDAAAA ..." Teriak Nyonya Anita kemudian.


Yuda yang semula hanya menunggu di ruang tamu pun segera masuk ke dalam kamar dan menghampiri kekasihnya dengan perasaan khawatir. Dia pun berjongkok tepat di depan kekasih serta calon ibu mertuanya.


"Amanda kenapa, Tante? Tante apakan dia?" Tanya Yuda dengan perasaan khawatir.


"Tante tidak apa-apakan dia, tiba-tiba saja dia kesakitan tadi."


"Bohong, tadi saja Tante tega memukuli dia padahal dia sedang hamil muda lho."


Nyonya Anita pun mengingat apa yang telah dia lakukan di kediaman Yuda, dimana dia menjambak bahkan memukuli putrinya secara habis-habisan. Dia pun hanya bisa menatap wajah sang Putri yang saat ini di gendongan oleh Yuda dan mulai berjalan keluar dari dalam kamar diikuti oleh dirinya kemudian.


♥️♥️


Di Rumah Sakit.


Yuda dan juga Nyonya Anita menunggu di luar ruangan Unit Gawat Darurat dengan perasaan khawatir. Sudah lebih dari 30 menit Amanda berada di dalam sana dan belum juga keluar. Yuda pun tidak bisa mengatakan apapun lagi di depan Nyonya Anita, rasa canggung membuat bibirnya terasa terkunci.


"Kalau sampai cucu saya kenapa-napa, saya tidak akan pernah memaafkan kamu, Yuda." Ketus Nyonya Anita membuat Yuda seketika tersentak.


"Tante?" Gumamnya dengan perasaan tidak percaya.


Apa itu artinya Nyonya Anita mengakui bayi yang saat ini sedang di kandung oleh putrinya yang tidak lain dan tidak bukan adalah darah dagingnya sendiri. Apakah itu artinya dia akan segera dinikahkan dengan Amanda? Batin Yuda penuh tanda tanya.


"Dosa apa saya ini sehingga saya bisa punya menantu mantan seorang supir? Ya Tuhan, apakah ini kutukan untuk saya karena saya terlalu banyak menghina orang yang tidak punya? Heuuuh ... Gara-gara kamu saya gagal menikahkan putri saya sama laki-laki yang sederajat dengan keluarga saya.'' Ketus Nyonya Anita lagi.


Memang terdengar sangat menyakitkan, tapi bagi Yuda itu adalah hal yang membahagiakan. Meskipun cara penyampaian Nyonya Anita yang mengatakan bahwa dia merasa di kutuk karena memiliki menantu seperti dirinya tapi, hal itu cukup untuk membuat Yuda merasa senang karena akhirnya dirinya di terima sebagai calon menantunya.


"Tante serius dengan apa yang Tante ucapkan tadi? Saya benar-benar diterima sebagai menantu Tante?" Tanya Yuda hanya ingin memastikan.


"Terpaksa ... Saya terpaksa menerima kamu, memangnya ada pilihan lain selain menikahkan kamu sama putri saya? Saya gak mau ya, cucu saya lahir tanpa seorang ayah." Ketus Nyonya Anita dengan wajah masam.


"Terima kasih, Tante. Makasih banget, saya janji akan membahagiakan putri Tante, saya janji. Saya juga udah punya pekerjaan yang bagus sekarang, saya bukan seorang supir lagi. Jadi, saya harap Tante tidak terlalu malu punya menantu seperti saya." Ucap Yuda seraya tersenyum senang.

__ADS_1


"Siapa bilang kamu masih boleh kerja di kantornya di Adryan? Setelah kalian menikah, saya akan minta sama suami saya agar kamu bisa menduduki posisi yang bagus di perusahaan.''


Yuda seketika tersentak benar-benar merasa bahagia. Dia pun meraih pergelangan tangan Nyonya Anita dan menciumi punggung tangannya, ya meskipun segera di tepis oleh wanita itu bahkan segera mengusap punggung tangannya seolah merasa jijik.


Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah untuk Yuda. Yang terpenting adalah, calon ibu mertuanya itu sudah merestui dirinya untuk menikahi Amanda, dan bonusnya adalah dia akan di beri posisi yang tadi disebutkan oleh calon ibu mertuanya itu.


Ceklek ....


Pintu ruangan pun di buka. Dokter kandungan keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?" Tanya Nyonya Anita dengan perasaan khawatir.


"Putri Nyonya baik-baik saja."


"Lalu bagaimana dengan kandungannya, Dokter?" Tanya Yuda kemudian.


"Kandungannya sempat mengalami kram tapi, untungnya segera di bawa ke sini dan pasien harus di rawat selama beberapa hari di sini.'' Jawab sang Dokter.


"Syukurlah, boleh kami masuk, Dok?"


"Silahkan.''


Yuda dan Nyonya Anita pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Nyonya Anita berjalan menghampiri dengan perasaan khawatir.


"Aku baik-baik aja, Mom. Maafkan aku, Mom. Aku benar-benar minta maaf.'' Jawab Amanda, diiringi dengan suara tangisan.


"Mommy maafin kamu, sayang. Maafkan Mommy juga karena sudah terlalu keras sama kamu sayang," jawab Nyonya penuh penyesalan.


Amanda pun seketika bangkit lalu memeluk tubuh sang ibu.


"Aku benar-benar menyesal karena telah membuat Mommy merasa kecewa, tapi aku tidak pernah menyesal karena aku telah mencintai Yuda. Kalau Mommy mau usir aku dari rumah, aku akan terima tapi, aku akan tetap menikah dengan Yuda.'' Rengek amanda menangis sesenggukan di dalam pelukan sang ibu.


"Hey, siapa bilang Mommy gak akan menikahkan kalian? Mommy gak mau kalau cucu Mommy lahir tanpa seorang ayah ya."


Amanda seketika langsung mengurai pelukan dan menghentikan suara tangisnya. Dia pun menatap wajah sang ibu dengan perasaan tidak percaya.


"Mom? Maksud Mommy aku dan Yuda boleh--'' Amanda tidak meneruskan ucapannya.


"Mommy akan segera menikahkan kalian berdua, kalau perlu di sini sekarang juga.'' Ucap sang ibu penuh penekanan.


Amanda pun seketika kembali memeluk tubuh sang ibu dan mengucapkan rasa terima kasih, tangisnya pun kembali pecah. Bukan tangis kesedihan seperti yang dirasakan sebelumnya, tapi tangis bahagia karena sang ibu akhirnya memberi restu bahkan akan segera menikahkan dirinya dengan laki-laki pilihannya sendiri.


"Terima kasih, Mom. Makasih banget aku, aku benar-benar bahagia, Mom. Hiks hiks hiks ...'' lirih Amanda kemudian.


Tiga hari kemudian, pernihakan pun diadakan di rumah sakit seperti yang dijanjikan oleh Nyonya Anita sang ibu.


_____________TAMAT______________

__ADS_1


__ADS_2