Pernikahan Rahasia Sang Presdir

Pernikahan Rahasia Sang Presdir
Berbagi Suami


__ADS_3

"Ada apa ini?" Tiba-tiba terdengar suara Adryan berjalan mendekat dengan menatap wajah Yuda dan juga Amanda secara bergantian.


"Tuan bos? Eu ... Anu kami--" Jawab Yuda terbata-bata.


"Apa jangan-jangan pacar kamu yang waktu itu kamu ceritakan itu adalah dia?"


Yuda seketika tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.


"Astaga, dunia benar-benar sempit lho. Amanda, Yuda itu pemuda yang baik, meskipun dia berkerja sebagai supir, tapi merangkap sebagai Assiten pribadi saya juga lho." Ucap Adryan mengalihkan pandangannya kepada Amanda.


"Apa maksudnya kamu cerita sama Adryan masalah kita?" Tanya Amanda menatap wajah Yuda dengan tatapan tidak suka.


"Ya apa salahnya? Saya cuma curhat sama beliau." Jawab Yuda singkat.


"Itu namanya bukan curhat. Tapi, ember, mulut kamu itu ember tau. Lagian kita itu udah putus ya dan aku benci sama kamu.'' Ketus Amanda lalu pergi begitu saja meninggalkan Adryan dan juga Yuda.


Adryan hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum menatap wajah Yuda yang saat ini terus menatap wajah Amanda yang perlahan berjalan menjauh.


"Kamu masih cinta sama dia?" Tanya Adryan akhirnya.


"Ya begitulah, bagi saya dia adalah wanita yang sangat spesial. Meskipun dia jutek seperti itu tapi, di mata saya dia terlihat menggemaskan.'' Jawab Yuda masih menatap punggung Amanda hingga wanita itu menghilang di balik tembok kini.


"Hmm ... Bucin juga kamu ya."


"Hah, Tuan bos tau istilah bucin juga?"


"Memangnya saya apaan gak tau istilah seperti itu? Saya gak kudet-kudet amat kali, Yud. Umur saya juga belum nyampe 40 ko.''


"Tapi tahun ini genap 40, Tuan bos."


"Ish, kamu ini."


"Hehehehe ...! O iya, Tuan bos. Eu ... Apa beneran Amanda dijodohkan sama Tuan bos?''


"Kata siapa?"


"Alasan dia mutusin saya ya karena dia di jodohkan.''


"Hmm ... Kamu gak usah khawatir, saya sudah mendaftarkan pernikahan saya dengan Kalista, jadi perjodohan saya dengan Amanda sudah benar-benar batal."


"Benarkah? Waah ... Syukurlah, saya senang sekali mendengarnya. Apa masih ada harapan untuk saya kembali sama dia?"


"Mau saya bantu?"


"Hah? Seriusan? Tuan mau bantu saya buat dapatin dia lagi?" Yuda seketika tersenyum senang.

__ADS_1


"Bukan hanya mendapatkan, tapi kamu bisa langsung nikah sama dia.''


Yuda semakin tersenyum lebar, kedua matanya bahkan nampak berbinar terlihat begitu senang.


"Mau, Tuan bos. Saya mau."


"Sini, saya kasih tau caranya."


Adryan seketika mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga Yuda.


Adryan berisik sekitar beberapa detik, lalu seketika Yuda membulatkan bola matanya merasa terkejut.


"Hah? Gila ... Mana mungkin saya berani berbuat seperti itu, Tuan." Ucap Yuda seketika membulatkan bola matanya.


"Kamu pasti bisa, Yuda. Katanya kamu pengen nikahi dia? Ya, satu-satunya cara ya itu. Lagian saya juga jengah di kejar-kejar terus sama dia."


Yuda nampak diam tidak bergeming. Otaknya mencoba untuk berfikir keras.


"Hmm ... Gimana ya?"


"Udah, jangan kebanyakan mikir. Mumpung saya lagi mau bantuin ini.'' Bujuk Adryan.


"Ya sudah saya mau, Tuan. Tapi Tuan yang atur ya. Saya cuma tahu jadi saja."


"Ish, kamu ini. Sejak kapan kamu memberi perintah sama saya?"


"Beres, pokoknya nanti malam saya atur. Kamu tinggal menjalankan rencana saja, oke?" Ucap Adryan penuh percaya diri.


Meski ragu, akhirnya Yuda pun mengangguk pasti tanda setuju.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan bos. Saya mau cucu mobil dulu."


Adryan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


'Akhirnya saya bisa terlepas juga dari jerat si Amanda. Semoga rencana saya bisa berjalan lancar,' (batin Adryan lalu berjalan menuju meja makan.)


♥️♥️


Rupanya, Kalista masih menyimpan rasa kecewa kepada suaminya. Terbukti dengan dia sama sekali tidak keluar dari dalam kamar meskipun hari sudah beranjak malam.


Ceklek ....


Pintu kamar pun di buka. Nyonya Rosa sang mertua masuk ke dalam kamar.


"Kalista! Kamu baik-baik saja?" Tanya sang ibu mertua berjalan menghampiri.

__ADS_1


"Mommy, saya baik-baik saja, Mom.'' Jawab Kalista tersenyum ramah.


"Mommy tau gimana perasaan kamu, sayang. Hati istri mana yang tidak akan sakit saat ada wanita lain yang menginap di rumahnya."


Kalista tersenyum ramah.


"Tapi, sayang. Kamu tidak usah khawatir, Mommy pastikan kalau si Amanda itu tidak akan macam-macam sama suami kamu." Lembut Nyonya Rosa mencoba menenangkan menantunya.


"Terima kasih, Mom. Perasaan saya sudah agak tenang sekarang."


"O iya, seharian ini Mommy perhatikan kamu belum makan lho. Kamu makan dulu ya, Mommy tidak mau kalau kamu sampai sakit lho.''


Kalista menganggukkan kepalanya lalu turun dari atas ranjang. Mereka berdua pun berjalan ke arah pintu dan keluar dari dalam kamar secara bersamaan.


Di ruang makan.


Amanda nampak sedang menyantap makan malam di meja makan. Dia memakan makanan yang dimasak oleh Kalista dan juga Adryan tadi siang. Dengan tanpa rasa malu, dia pun makan dengan begitu lahapnya sampai akhirnya Nyonya Rosa dan juga Kalista memasuki ruang makan.


"Makanan ini pesan dimana? Rasanya sedap sekali sumpah." Tanya Amanda bersikap sangat santai.


"Makanan yang kamu makan adalah makanan yang saya masak sendiri." Ketus Kalista menarik kursi lalu duduk.


"Oh, begitu? Hmm ... Masakan kamu lumayan juga."


"Hmm ..." Kalista hanya bergumam.


Sebenarnya, selera makan Kalista seketika hilang setelah melihat wanita bernama Amanda itu di meja makan. Yang ada, dia sangat jengah melihat wanita itu yang bersikap sangat santai seolah rumah itu adalah rumahnya sendiri.


"Sayang, Mommy mau lihat Putra dulu ya. Tadi dia lagi main di kamar sama Opanya."


Kalista menganggukkan kepalanya.


'Sialan, kayaknya nenek tua ini sudah benar-benar menerima dia sebagai menantunya. Lalu aku? Apa aku tidak punya lagi kesempatan untuk menjadi menantunya?' (batin Amanda.)


Keheningan pun seketika tercipta. Baik Amanda maupun Kalista keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Kalista pun menyudahi acara makan malamnya lalu hendak bangkit meninggalkan meja makan.


"Tunggu, Kalista? Ada sesuatu yang ingin saya katakan sama kamu," pinta Amanda membuat Kalista seketika menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa? Kalau kamu mau pulang, pintu utama ada di depan dan terbuka lebar."


"Maukah kamu berbagi suami denganku? Aku mencintai suamimu dan aku tidak akan pernah menyerah sebelum aku mendapatkan dia."


Kalista seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


Apa kabar Reader semua. Kali ini Othor bawakan rekomendasi novel yang luar biasa bagus dan pastinya tidak membosankan saat di baca. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya.



__ADS_2