
"Kamu gila? Kamu pikir suami ku kue cubit yang bisa di bagi-bagi? Kamu pikir aku ini wanita gila yang mau berbagi suami dengan kamu? Maaf, sampai aku mati pun, aku gak mengikuti keinginan kamu, Amanda." Tegas Kalista dengan perasaan murka.
"Sombong sekali kamu, Kalista. Mentang-mentang pernikahan kalian sudah sah secara negara, kamu jadi sombong kayak gini."
"Tidak masalah aku sombong, dari pada kamu wanita tidak tau diri, kamu masih mengejar-ngejar laki-laki yang sudah beristri."
Amanda semakin memutar bola matanya kesal juga menaikan bibir atasnya sebelah menatap ke arah Kalista dengan tatapan tidak suka.
"Dengerin ya Kalista, kalau nanti suami yang kamu banggakan itu benar-benar jatuh hati padaku, kamu jangan gigit jari ya. Karena aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan dia."
Kalista hanya menanggapi dengan tersenyum menyeringai penuh kebencian lalu pergi dengan elegan meninggalkan Amanda yang kini mulai merasa kesal.
'Pelakor jaman sekarang hebat, terang-terangan mau jadi pelakor, hadeuh ... Coba saja rebut suamiku, kamu gak akan pernah bisa melakukannya meskipun kamu bertel*njang di depan dia sekalipun.' (batin Kalista.)
Bruk ....
Tiba-tiba saja Kalista menabrak suaminya yang juga hendak menemui dirinya sebenarnya.
"Sayang? Maaf Mas gak sengaja." Ucap Adryan tersenyum sangat manis menatap wajah istrinya.
"Heuuuh ..." Ketus Kalista hendak pergi.
"Tunggu, sayang. Kamu masih marah sama Mas?"
Kalista hanya mendengus kesal tidak menanggapi ucapan suaminya.
"Sayaaaaang ..." Rengek Adryan dengan suara manja.
"Apaan si? Gak lucu tau."
"Mas 'kan nanya sama kamu, Cinta. Kamu masih marah sama suami kamu yang tampan ini?"
"Dih, ganjen." Kalista sedikit terkekeh lalu melenggang pergi begitu saja dan tentu saja langsung diikuti oleh Adryan sang suami yang masih saja merengek seperti anak kecil.
"Hmm ... Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Sudah minum?"
"Sudah.''
"Sudah mandi?"
"Ikh, Mas ini apaan si. Pertanyaannya basi banget si. Udah makan? Udah minum? Udah mandi? Gak lucu tau.'' Ketus Kalista seketika menghentikan langkah kakinya.
"Ya Mas 'kan lagi godain istri Mas yang lagi ngambek."
"Hmm ...."
Bruk ....
__ADS_1
Kalista pun merebahkan diri di kursi ruang tamu seraya memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa pusing.
"Kamu kenapa, sayang? Kepala kamu pusing, heuh ...?" Tanya Adryan terlihat khawatir.
"Entahlah Mas. Sepertinya iya."
"Mau Mas beliin obat sakit kepala?"
"Gak usah, nanti juga sembuh sendiri."
"Ya udah kalau gitu, Mas pijitin aja ya."
"Hmm ....''
"Berarti kamu udah gak marah lagi sama Mas ya."
"Kata siapa?" Kalista memutar bola mata kesal lalu menatap wajah Adryan suaminya.
"Ya ini kamu udah mau dipijitin sama Mas. Itu berarti kamu udah gak marah sama Mas."
"Dih, enak aja. Acara bulan madu kita kacau gara-gara Mas tau."
''Lho kok jadi gara-gara Mas si? 'kan mereka datang sendiri.''
"Kalau Putra, Daddy sama Mommy gak masalah. Tapi, si ulet keket itu yang bikin mood aku hancur."
"Apa? Ulet keket? Hahahaha ... Sejak kapan kamu jadi pandai mengumpat seperti itu?" Adryan terkekeh, baru kali dia melihat wajah anggun istrinya berubah menjadi wanita jutek lengkap dengan tatapan penuh rasa kebencian.
"Hahahaha ... Kamu gemesin banget si, sayang. Mas baru tahu kalau kamu bisa marah-marah sama orang kayak gini.''
"Ya habisnya aku kesel banget sama dia Mas. Udah tau Mas udah punya istri, masih aja ngejar-ngejar kamu.'' Gerutu Kalista mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.
"Kamu cemburu?"
"Tentu saja? Apa salah kalau aku cemburu?"
"Gak ada yang salah, Mas cuma seneng aja ngeliat kamu cemburu kayak gini. Itu tandanya kamu cinta sama Mas."
"Dih, udah tua. Gak pantas cinta-cintaan kayak gitu." Celetuk Kalista terkekeh.
"Hahahaha ... Enak aja tua, biar tua tapi Mas masih tampan 'kan?" Celetuk Adryan seraya mengusap rambut kulimisnya.
"Hahahaha ... Iya-iya, sayang. Mas tampan dan rupawan suaminya jeng Kalista.'' Celetuk Kalista terkekeh.
Keduanya pun seketika tertawa bersama lalu saling berpelukan.
Cup ....
Adryan bahkan mengecup pucuk kepala istrinya lembut dan penuh kasih sayang.
Tanpa mereka sadari, Amanda saat ini mengepalkan kedua tangannya seraya menatap sepasang suami-istri yang sedang bermesraan.
__ADS_1
Rasa panas pun terasa membakar hati dan seluruh organ di dalam tubuhnya. Panas dan begitu menyiksa hati seorang Amanda.
'Malam ini kamu harus jatuh di dalam pelukanku, Adryan.' (batin Amanda mengepalkan tangannya.)
❤️❤️
Malam hari.
Adryan nampak tersenyum menatap gelas anggur berwarna merah yang saat ini ada di dalam genggamannya.
"Hmm ... Malam ini akan menjadi malam yang indah bagi Yuda." Celetuk Adryan tersenyum menyeringai.
Dia pun membawa minuman itu dan mencoba mencari Yuda sang supir.
"Yuda ...'' teriak Adryan memekikkan telinga.
"Mas Adryan mencari siapa?" Tanya Amanda tiba-tiba keluar dari dalam kamar.
"Kamu ngeliat Yuda?"
"Yuda? Tidak, aku sama sekali tidak melihat dia." Jawab Amanda matanya tertuju pada gelas yang di bawa oleh Adryan kini.
"Hmm ... Oke."
Adryan pun hendak pergi.
"Tunggu, Mas. Kebetulan aku haus sekali. Makasih ya.''
Amanda tiba-tiba meraih gelas tersebut dan meminumnya tanpa basa-basi dan tanpa izin lagi.
'Astaga, apa yang dia lakukan? Obat ini 'kan udah saya campur obat pera*gsang.' (batin Adryan.)
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Selamat siang Reader. Mampir juga di karya teman Othor ya. Othor bakalan kasih kalian bocoran ceritanya.
Judul : Hasrat Kaka Tiri.
Karya : Desi Puspita.
Blurb.
Menginjak usia 32 tahun, Zayyan Alexander belum juga memiliki keinginan untuk menikah. Berbagai cara sudah dilakukan kedua orang tuanya, namun hasilnya tetap saja nihil. Tanpa mereka ketahui jika pria itu justru mencintai adiknya sendiri, Azoya Roseva. Sejak Azoya masuk ke dalam keluarga besar Alexander, Zayyan adalah kakak paling peduli meski caranya menunjukkan kasih sayang sedikit berbeda.
Hingga ketika menjelang dewasa, Azoya menyadari jika ada yang berbeda dari cara Zayyan memperlakukannya. Over posesif bahkan melebihi sang papa, usianya sudah genap 21 tahun tapi masih terkekang kekuasaan Zayyan dengan alasan kasih sayang sebagai kakak. Dia menuntut kebebasan dan menginginkan hidup sebagaimana manusia normal lainnya, sayangnya yang Azoya dapat justru sebaliknya.
“Kebebasan apa yang ingin kamu rasakan? Lakukan bersamaku karena kamu hanya milikku, Azoya.” – Zayyan Alexander
“Kita saudara, Kakak jangan lupakan itu … atau Kakak mau orangtua kita murka?” - Azoya Roseva.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️