
Amanda tersenyum senang saat menyadari bahwa dirinya sudah lebih dari dua bulan tidak datang bulan. Dia pun berharap bahwa tebakannya benar, kalau dirinya sedang dalam keadaan hamil.
"Aku hamil? Hahahaha ... Aku hamil, yeeeeey ...'' Sorak Amanda seperti orang yang baru saja mendapat undian berhadiah.
Dia pun pengusap perutnya lembut lalu berdiri dan berjingkrak kesenangan seraya memegangi perutnya kini.
"Yudaaaa ... Aku hamil ... Kita akan segera menikah. Hahahaha ..." Teriak Amanda dengan bola mata yang dipenuhi dengan buliran air mata.
Antara bahagia dan dilema, seperti itulah perasaan wanita bernama Amanda. Dia senang karena dirinya sedang mengandung meskipun dia masih tetap harus memastikannya dengan cara melakukan tes kehamilan.
Akan tetapi, dia pun merasa dilema karena tidak tahu bagaimana caranya dia mengatakan tentang kehamilannya kepada sang ibu.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Manda, kamu kenapa teriak-teriak kayak orang gila?"
Tiba-tiba terdengar suara sang ibu mengetuk pintu seraya memanggil namanya dari luar sana, membuat wanita itu sontak menutup mulutnya kini.
"Astaga, semoga Mommy gak denger apa yang baru saja aku katakan,'' gumam Amanda.
"Manda?"
"Iya, Mom. Aku cuma sakit perut, lagi PUP ini makannya teriak-teriak. Arghh ... Huuu ... Sepertinya aku salah makan deh, Mom."
"Apa perlu kita ke Dokter?"
"Gak usah, nanti juga sembuh ko."
"Ya udah, Mommy beliin obat ke apotek ya. Jangan sampai kamu batal ketemuan sama calon suami kamu nanti malam.'' Ucapan sang ibu di luar sana sebelum beliau beranjak dari depan pintu.
Amanda pun akhirnya bisa bernapas lega, karena ibunya itu tidak mendengar apa yang baru saja dia katakan di dalam kamar mandi. Dia pun membasuh wajahnya sendiri dengan air mengalir lalu menatap wajahnya dari pantulan cermin yang berada tepat di hadapannya kini.
"Aku harus segera memastikan kalau aku benar-benar hamil. Setelah itu, aku akan memberitahukan kabar bahagia ini kepada Yuda." Ucapnya kepada diri sendiri.
* * *
Malam hari.
__ADS_1
Tepat pukul 20.00 Nyonya Anita benar-benar mengantarkan Amanda sang putri ke Restoran yang akan menjadi tempat pertemuan antara Amanda dengan laki-laki pilihannya.
Amanda pun terlihat begitu cantik dengan berbalut dress berwarna merah terang lengkap dengan make-up natural yang membuat penampilannya benar-benar cetar membahana. Dia nampak duduk di meja bersama sang ibu dengan memandang wajah masam.
"Senyum dong. Jangan kecut kayak gitu.'' Pinta sang ibu menatap wajah Amanda.
"Hmm ..." Jawabnya singkat terdengar malas.
"Ko lama si, katanya jam 8? Ini udah jam 8 lebih 10 menit lho." Ucap sang ibu kemudian.
"Nah 'kan? Baru jadi calon saja udah berani ingkar janji, janjian jam 8 malam, eh ... Ini udah jam 8 lebih masih belum datang."
"Diam kamu. Mungkin dia terjebak macet di jalan.''
Amanda hanya tersenyum malas.
Tidak lama kemudian, seorang pemuda dewasa pun menghampiri mereka berdua dengan tersenyum ramah menyapa Nyonya Anita juga Amanda.
"Maaf, Tante. Saya datang terlambat, di jalan macet tadi." Ucapnya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Nyonya Anita.
"Iya, tidak apa-apa ko. Tante juga sudah tahu, kamu pasti terjebak macet di jalan." Jawab Nyonya Anita ramah.
"Iya, dia Amanda Putri Tante. Sayang, kenalkan dia Agus calon suami kamu.''
Amanda, seketika terkekeh merasa lucu saat ibunya menyebutkan nama pemuda itu.
'Agus? Namanya wong deso banget si? Apa iya dia beneran seorang Presdir?' (batin Amanda.)
"Hey malah bengong lagi.''
"Hah ... Ieu iya, Mom. Kenalkan aku Amanda," ucap Amanda mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan si Agus itu.
Agus pun menerima uluran tangan wanita itu seraya tersenyum senang. Dia bahkan mengecup punggung tangannya lembut membuat Amanda benar-benar merasa risih lalu seketika menarik paksa pergelangan tangannya.
"Ikh ... Apaan si, biasa aja kali." Ketusnya dan langsung mendapatkan sambaran tatapan tajam dari kedua mata sang ibu.
"Hus ... Yang sopan dong sama calon suami kamu ini." Ketus sang ibu membulatkan bola matanya.
__ADS_1
"Hmm ....''
"Gak apa-apa, Tante. Santai saja, saya gak apa-apa ko.'' Ucap Agus tersenyum ramah.
"Ya udah kalau gitu, Tante tinggal dulu ya. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu,'' ucap Nyonya Anita kemudian, sebelum dirinya benar-benar meninggalkan sang putri bersama pemuda bernama Agus tersebut.
Sepeninggal sang ibu, Amanda masih saja memasang wajah masam. Dia bahkan memalingkan wajahnya tidak melirik wajah Agus sedikitpun.
"Eu ... Kamu sudah pesan makanan?" Tanya Agus memecah keheningan.
"Gak usah, aku lagi diet."
"Masa si? Tubuh kamu itu udah langsing, se*si lagi. Gak usah diet segala, lagian saya lebih suka punya seorang istri yang bohay, bodi aduhai daripada yang terlalu kurus.''
"Dih siapa juga yang mau jadi istri kamu."
"Hahahaha ... Kita itu sudah di jodohkan ya. Jadi, mau tidak mau kamu harus menikah sama saya."
Amanda tersenyum sinis lalu menatap tajam wajah pemuda bernama Agus tersebut.
"Gus ... Sebelum kita menikah, aku mau tanya dulu satu hal sama kamu."
"Tanya apa? Bilang aja, jangan sungkan."
"Apa kamu mau, menikahi wanita yang sedang hamil?"
Agus pun seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Promosi lagi ya, semoga kalian gak bosen.
Blurb 👇👇👇
Alexander Thomas El Farizi alias Zaini El Farizi merupakan sosok pemuda cuek, genius, dan wibawa, kini ia dikenal sebagai salah satu pengusaha berpengaruh di negera ini sebab, hampir 50% ia menguasai pasar internasional dengan segala jenis produk teknologi yang mereka kembangkan, namun ternyata keberhasilannya di dunia bisnis menyimpan banyak luka batin yang tragis dibalik tirai kehidupannya, membuat ia harus berjuang untuk melawan rasa trauma semasa kanak-kanak.
Hingga suatu hari Alex harus menerima perjodohan dari sang Kakek dengan seorang wanita bernama Alecia, disaat waktu tak tepat ia juga dipertemukan dengan Mina. Apakah seorang Alexander alias Zaini mampu bertahan dalam persaingan bisnis dan cintanya?
__ADS_1