
Tok ... Tok ... Tok ....
"Adryan, Kalista, kalian dengar apa yang Mommy katakan?" Teriak Nyonya Rosa lagi.
"Iya, Mom. Kami sudah bangun ko, sebentar lagi kami keluar,'' jawab Adryan yang juga dengan nada suara tinggi.
Setelah itu, suara sang ibu pun sudah tidak lagi terdengar.
"Kira-kira ada apa ya?" Tanya Kalista bangkit dan mulai membenahi pakaian yang sudah tidak beraturan.
"Entahlah, sebaiknya kita cepat keluar sebelum Mommy balik lagi ke sini. Kamu tahu sendiri Mommy seperti apa."
"Hmm ..."
Keduanya pun bercermin dan memastikan bahwa pakaian mereka benar-benar sudah rapi.
Ceklek ....
Adryan membuka pintu lalu hendak berjalan keluar dari dalam kamar.
"Tunggu, Mas." Cegah Kalista membuat Adryan pun seketika menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa, sayang?"
Kalista menarik pergelangan tangan suaminya lalu membawanya kembali masuk ke dalam kamar.
"Kalau Mommy sampai tahu bahwa kita membiarkan si ulet keket sama supir kamu berbuat me*um di sini bagaimana?'' Tanya Kalista setengah berbisik.
"Hmm ... Kita pura-pura tidak tahu saja, gampang 'kan."
Plak ....
Kalista menepuk bahu suaminya keras.
"Argh ... Sakit, sayang."
"Lagian Mas ini, enak aja main pura-pura tidak tahu saja. Jelas-jelas Mas tahu lho, malahan Mas sempat kebawa horny mendengar suara des*han mereka, gimana si?'' Ketus Kalista, entah mengapa bawaannya ingin marah-marah terus kepada suaminya itu.
"Ya mau gimana lagi? Apa kita mau jujur saja kalau kita tahu dan membiarkan mereka melakukan itu di rumah kita? Bisa kena marah nanti, sayang."
Kalista nampak terdiam seraya berfikir panjang.
"Memangnya kamu mau dimarahin Mommy? kamu tahu sendiri beliau kalau marah gimana, bisa gak kelar tujuh hari tujuh malam kalau Mommy lagi kesal."
"Iya si, Mommy sudah mulai baik sama aku, masa iya sekarang mau berubah lagi.''
"Nah, Mas juga seneng sikap Mommy udah mulai baik sama kamu. Itu tandanya beliau sudah benar-benar menerima kamu sebagai menantunya."
Kalista seketika tersenyum senang.
"Ya udah aku turuti apa kata kamu, Mas. Kita pura-pura tidak tahu kejadian tadi malam. Aku juga akan berpura-pura tidak tahu kalau benda keramat kamu sempat tegang dan mengeras saat mendengar suara d*sahan mereka,'' celetuk Kalista kembali membuka pintu kamar lalu keluar dari dalamnya dengan sedikit cengengesan.
__ADS_1
"Dih, dasar. Kenapa benda Kramat Mas jadi di bawa-bawa si." Gumam Adryan, mengusap bagian tengah celananya dimana benda keramat bersembunyi di dalamnya.
Setelah itu, dia pun segera menyusul istrinya keluar dari dalam kamar tersebut.
"Sayaaaaang ... Tunggu Mas." Teriak Adryan melingkarkan tangan di bahu istrinya.
Akhirnya, keduanya pun sampai di ruang tamu.
"Mommy dimana? Ko gak ada di sini?" Tanya Adryan menatap sekeliling.
"Entahlah, emangnya Mommy menunggu kita di sini?"
Adryan mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin beliau di dapur. Coba kita cari di sana.''
Adryan pun mengangguk seraya tersenyum kecil dengan tangan yang masih melingkar di pundak istrinya, namun, istrinya itu segera menurunkan kasar tangan suaminya.
Entah mengapa, hatinya diliputi rasa kesal kepada Adryan sang suami bahkan tanpa sebab yang jelas wajah sang suaminya yang sebenarnya tampan itu nampak sangat menyebalkan.
"Sayaaaaang ...'' Rengek Adryan dengan nada suara manja lalu beralih melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan seketika itu juga kembali diturunkan oleh Kalista.
"Tangannya bisa diam tidak, Mas?"
"Dih, marah-marah terus." Gumam Adryan dengan nada suara pelan.
"Apa? Kamu bilang apa tadi?"
Kalista hanya mendelik kesal.
"Mom ... Mommy dimana?" Adryan akhirnya memutuskan untuk berteriak kencang karena sang ibu sama sekali tidak terlihat dimanapun.
"Mommy di kamar, Adryan.'' Jawab sang ibu dari dalam kamar yang sedikit terbuka.
Kalista dan Adryan pun segera berjalan ke arah kamar lalu masuk ke dalamnya dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Putra?" Kalista menghampiri sang putra yang saat ini berbaring dengan kain hangat yang diletakkan di keningnya.
"Putra demam semalaman, Mommy gak kasih tahu kalian karena takut ganggu tidur kalian. Makannya Mommy kompres saja dia." Ucap sang ibu mengusap kepala cucu kesayangannya itu.
Kalista pun duduk di tepi ranjang lalu memeriksa suhu tubuh putranya dengan wajah dan perasaan khawatir.
"Sayang, ini Mommy. Kamu baik-baik saja?" Tanya Kalista dan Putra pun seketika langsung membuka mata.
"Mommy?" Rengek'nya pelan dan lembut di dengar.
"Bilang sama Mommy, apanya yang sakit, sayang?"
Putra menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya semalam kamu tidur di kamar Mommy, sayang."
__ADS_1
"Aku gak mau ganggu Mommy bikin adik. Gimana, apa adiknya udah jadi?"
"Hah?" Kalista dan juga Adryan nampak mengerutkan kening dan saling menatap satu sama lain, sementara Nyonya Rosa sedikit terkekeh merasa lucu.
"Gimana, adiknya udah jadi belum? Mommy juga juga gak sabar lho ingin segera menggendong bayi lucu." Ledek sang ibu dengan wajah cengengesan.
"Adik kamu ada di dalam perut Mommy, sayang. Tunggu 9 bulan lagi pasti keluar." Jawab Adryan mengusap perut istrinya.
"Mas ..." Kalista menoleh ke arah Adryan lalu membulatkan bola matanya.
"O ya? Kamu hamil, sayang?" Tanya sang ibu tersenyum senang.
"Eu anu, Mom--"
"Tinggal di cek saja, Mom. Nanti saya beli alatnya, sudah dua bulan ini Kalista sepertinya tidak datang bulan."
"Hah? Darimana kamu tau kalau aku tidak datang bulan selama 2 bulan?" Kalista semakin membulatkan bola matanya.
"Ya tau dong. Mas bahkan tahu dan hapal tanggal berapa kamu datang bulan setiap bulannya.''
"Hah?" Kalista semakin membulatkan bola matanya kini.
Sementara Nyonya Rosa, dia hanya bisa terkekeh-kekeh. Sebesar itukah perhatiannya kepada sang istri sampai-sampai dia hapal betul setiap tanggal berapa istrinya itu datang bulan.
'Astaga ...' (batin Nyonya Rosa.)
"Mas ...?"
"Sudah-sudah jangan bahas masalah itu. Sekarang kita fokus sama Putra aja dulu. Kamu ada persediaan obat demam 'kan?" Sela Adryan seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh istrinya itu.
"Ada Mas. Putra kamu tunggu sebentar ya, Mommy ambilkan obat penurun demam dulu buat kamu." Lembut Kalista mengusap kepala putranya.
"Gak usah biar Mas aja, kamu temani saja Putra di sini." Ucap Adryan segera keluar dari dalam kamar.
Dia pun berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat dimana biasanya sang istri menyimpan persediaan obat-obatan.
"ADRYAN ..." Suara teriakan Amanda seketika menghentikan langkah kakinya.
Adryan pun menoleh lalu menatap wajah Amanda dengan tatapan malas seperti biasanya.
Plak ....
Tiba-tiba saja wanita itu menampar keras pipi Adryan membuatnya merasa terkejut.
"Apa yang--"
Plak ....
Dia bahkan menampar pipi sebelah kanan Adryan membuatnya semakin membulatkan bola matanya kini.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1