
Amanda seketika tertegun, apa iya ibunya itu akan sudi menerima Yuda yang notabenenya hanyalah seorang supir biasa? Akan tetapi, apakah dia sanggup menikah dengan laki-laki lain sementara laki-laki itu telah membobol gawang miliknya beberapa hari yang lalu?
Akh ... Entahlah, dada seorang Amanda tiba-tiba saja merasa sesak kini. Hanya memikirkannya saja membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
"Hey ... Ko malah ngelamun?" Tanya sang ibu seketika membuyarkan lamunannya.
"Hah? Eu ... Nggak ko, Mom. Aku hanya--"
"Katakan sama Mommy, siapa laki-laki hebat yang sudah membuat kamu move dari si Adryan? Dia dari keluarga mana? Pekerjaannya apa? Satu lagi, dia Presdir dari perusahaan mana?"
Amanda semakin merasakan sesak di dadanya kini.
Dari keluarga mana? Pekerjaannya apa? Yang paling mengejutkan Presdir dari perusahaan mana? Astaga ... Amanda hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Sedetail dan sesempurna itulah kriteria menantu idaman sang ibu?
"Nah 'kan, di tanya baik-baik malah ngelamunin lagi, astaga Amanda. Kamu kenapa si? Tinggal jawab aja pertanyaan Mommy susah amat si? Atau, jangan-jangan--" Nyonya Anita tidak meneruskan ucapannya.
Dia menatap tajam wajah sang putri membuat Amanda seketika merasa gugup.
"Jangan-jangan apaan, Mom?"
"Jangan bilang kalau kamu pacaran sama laki-laki biasa saja, yang gak jelas asal usulnya bahkan pengangguran, begitu?"
"Hah? Eu ... Anu, Mom--"
"Anu apa?"
"Dia bukan pengangguran ko. Dia punya pekerjaan yang jelas juga, hanya saja--"
"Hanya saja apa? Astaga, Manda. Kalau ngomong itu yang jelas dong, jangan berbelit-belit kayak gini, kesel Mommy jadinya."
Amanda pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali dengan wajah yang cengengesan.
"Malah cengar-cengir gitu 'kan. Pokoknya Mommy gak mau kamu menikah dengan laki-laki sembarangan, kamu itu harus menikah dengan laki-laki yang lebih baik dari si Adryan itu, gedeg Mommy sama jeng Rosa itu, heuh ...'' Ketus sang ibu benar-benar merasa kesal.
'Ya ampun, Mom. Apa yang akan terjadi sama aku kalau Mommy sampai tahu siapa sebenarnya laki-laki yang akan menikahi aku itu?' (Batin Amanda merasa gelisah.)
__ADS_1
"Kamu dengar 'kan apa yang Mommy katakan barusan? Bengong mulu dari tadi.''
"Iya, aku dengar, Mom."
"Ya udah, Mommy masuk kamar dulu. Capek, Mommy mau berendam air hangat biar emosi Mommy sedikit mereda."
Amanda hanya mengangguk datar dan menatap tubuh sang ibu yang kini berjalan meninggalkan dirinya di ruang tamu.
Bruk ....
Amanda seketika menggemaskan tubuhnya di atas kursi seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja merasa pusing.
Ting ... Tong ....
Suara bel rumah seketika terdengar begitu nyaring.
"Aduh ... Siapa si yang datang siang-siang gini, ganggu aja si." Gerutunya bangkit lalu berjalan ke arah pintu dengan perasaan malas.
Ceklek ....
Pintu pun di buka dan Amanda seketika terkejut saat menatap seseorang yang saat ini berdiri tepat di depan pintu.
"Apa saya ganggu waktu istirahat kamu, Manda?'' Tanya Yuda tersenyum ramah.
"Eu ... Mau apa kamu datang ke sini? Aku 'kan udah bilang kalau aku yang akan ngehubungi kamu nanti.''
"Nanti kapan? Udah satu Minggu kamu gak ngehubungi saya lho.''
"Ya itu karena aku sibuk, Yuda."
"Sibuk apa? Sibuk mikirin saya?"
"Ko tahu? Eh ... Maksud aku, so tahu. Astaga, pake salah ngomong segala lagi." Wajah Amanda seketika memerah.
"Bukan salah ngomong. Tapi, kamu benar-benar mikirin saya, iya 'kan?''
__ADS_1
Amanda pun hanya bisa tersenyum datar.
"O iya, apa kamu tidak akan mempersilahkan saya masuk?" Tanya Yuda kemudian.
"Jangan sekarang, lebih baik sekarang kamu pulang dulu, Yuda."
"Lho kenapa? Jadi, kamu ngusir saya?"
"Bukan begitu? Hanya saja, aku masih mencoba bicara sama Mommy tentang kamu dan tentang niat baik kamu buat nikahin aku. Gak mungkin 'kan tiba-tiba saja kita ngerencanain pernikahan tanpa bicara apa-apa dulu? bisa kena serangan jantung nanti Mommy."
Yuda seketika terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Amanda.
"Aku mohon kamu ngerti ya. Aku janji akan segera memberi kamu kabar baik nanti."
"Kalau yang kamu berikan kabar buruk gimana? Kalau ternyata orang tua kamu tidak ingin punya menantu seorang supir, gimana?"
Amanda seketika terdiam tidak mampu berkata apapun lagi.
"Ya sudah, kalau memang kamu tidak ingin saya ada di sini, saya pulang sekarang ya. Saya tunggu kabar baik dari kamu secepatnya." Ucap Yuda akhirnya kembali berpamitan dan hanya di tanggapi dengan anggukan kecil oleh Amanda.
Yuda pun berbalik dan hendak melangkah.
"Siapa yang datang, Amanda?" Tiba-tiba saja terdengar suara sang ibu berjalan menghampiri mereka berdua.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Promosi lagi ya Reader. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian.
Blurb 👇👇👇
Pernikahan karena perjodohan antara Nala dan Reigha sedang terkoyak. Hubungan tanpa cinta itu terombang-ambing ketika Reigha kembali bertemu dengan masalalu yang cintanya sempat terhalang restu.
Nala merasa, usahanya selama ini berakhir sia-sia. Reigha sering berbohong dan diam-diam masih menemui Sandra, sesuatu yang harusnya tidak boleh dilakukan oleh Reigha yang sudah menjadi suami dari Nala.
Mampukah Nala membawa kapal rumah tangganya berlayar di dermaga?
__ADS_1
Atau justru kapal rumah tangganya harus tenggelam karena kalah dalam berperang?