
"Maksud Mommy apa?" Tanya Amanda yang juga menghentikan langkah kakinya.
"Sayang, dengerin Mommy. Kalau kamu memang masih bersikukuh ingin menikah dengan laki-laki itu, Mommy akan melakukan apapun untuk mewujudkan keinginan kamu. Kamu tidak lupa 'kan kalau Mommy mampu mewujudkan apapun keinginan kamu?'' lembut sang ibu.
"Tapi, Mom--''
"Udah, kamu tenang saja, sayang. Kamu adalah putri kesayangan Mommy dan Mommy tidak bisa melihat kamu sedih seperti ini.''
Amanda seketika tidak mampu mengatakan apapun lagi, dia menunduk sedih mengingat janji dari pemuda bernama Yuda yang saat ini sedang menanti kepastiannya.
Keduanya pun kembali berjalan secara beriringan masuk kedalam rumah besar dan mewah berlantai tiga tersebut.
♥️♥️
Sementara itu, Adryan dan istrinya memutuskan untuk menyudahi rencana bulan madu mereka yang sebenarnya masih punya banyak waktu yang tersisa.
Karena keadaan putra yang tiba-tiba saja sakit, membuatnya terpaksa harus di rawat di Rumah Sakit yang berada di kota. Dia pun sudah di tempatkan di ruangan VVIP dan terkulai lemah dengan jarum infus yang tertancap di pergelangan tangan kecilnya.
"Semua ini gara-gara kalian," celetuk Nyonya Rosa menatap putra serta menantunya secara bergantian.
"Lho, ko jadi gara-gara kami si, Mom? Kami juga tidak ingin Putra sakit seperti ini." Jawab Adryan tidak terima.
"Ya gara-gara kalian tidak segera memberi cucu Mommy ini seorang adik yang lucu."
Adryan dan Kalista pun seketika tersenyum merasa lucu. Mereka kira sang ibu akan menyalahkan kepergian mereka untuk berbulan madu dan tidak membawa serta sang putra.
Adryan pun tiba-tiba bangkit dan hendak pergi.
"Mau kemana kamu, Adryan?'' Tanya Nyonya Rosa.
"Mau apa lagi, saya mau beli obat yang mujarab untuk putra biar dia bisa cepat sembuh."
"Hah?"
Nyonya Rosa dan juga Kalista pun seketika saling melirik dan menatap satu sama lain merasa tidak mengerti.
"Putra baru saja minum obat dari Dokter, kamu mau cari obat mujarab kemana lagi?"
__ADS_1
"Obat lain yang lebih mujarab dari yang berikan oleh Dokter."
Nyonya Rosa dan juga Kalista semakin merasa tidak mengerti.
"Hahahaha ... Kenapa kalian jadi bingung kayak gitu? Saya mau beli alat tes kehamilan. Mudah-mudahan di apotek Rumah Sakit ini juga ada.''
Nyonya Rosa pun seketika merubah raut wajahnya menjadi tersenyum sumringah.
"Kamu serius?"
"Tentu saja, Mom. Saya akan memastikan kalau Kalista benar-benar hamil buah hati kita yang kedua.'' Jawab Adryan lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
Ceklek ....
Pintu kamar pun di buka. Adryan benar-benar keluar dari dalam kamar untuk membeli atas tes kehamilan.
"Mommy benar-benar berharap kamu benar-benar hamil, Kalista.'' Ucap sang ibu sesaat setelah Adryan sang putra keluar dari dalam sana.
"Saya juga berharap seperti itu, Mom."
"Kamu lihat, putra sudah besar dan sudah sangat menginginkan seorang adik. Mommy hanya punya satu putra saja dan berharap bisa memiliki banyak cucu dari kamu, kalau bisa lima atau enam cucu juga gak apa-apa, biar rumah kita semakin ramai."
"Hey, kenapa kamu malah bengong, sayang?" Tanya sang ibu menatap wajah menantu kesayangannya.
"Hah? Eu ... Nggak ko, Mom. Saya akan berusaha mewujudkan keinginan Mommy, tidak masalah bagi saya harus melahirkan berapa anak pun asalkan Mommy bahagia dan tidak merasa kesepian lagi." Lembut Kalista menatap penuh kasih sayang wajah ibu mertuanya.
Nyonya Rosa yang semula duduk tepat di samping Putra yang saat ini sedang berbaring pun seketika bangkit lalu berpindah tempat duduk tepat di samping menantunya kini.
Dengan penuh kasih sayang, wanita berusia pertengahan 50han itu pun meraih pergelangan tangan Kalista lalu mengusap punggung tangannya lembut.
"Maafkan Mommy karena sempat membenci kamu, Mommy baru sadar kalau ternyata kamu adalah wanita yang baik, istri yang baik dan juga menantu yang baik. Mommy sempat merendahkan diri kamu hanya karena kamu lahir dari keluarga biasa dan lulus Sekolah Menengah Atas."
"Mommy sadar, kalau pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang memiliki adab yang baik, lahir dari keluarga kaya tidak menjamin seseorang berprilaku sopan. Mommy telah lihat dan rasakan sendiri, kamu wanita biasa yang tidak berpendidikan tinggi tapi, mampu bersikap baik bahkan beradab melebihi wanita yang yang bersekolah tinggi." Lembut Nyonya Rosa panjang lebar lalu memeluk tubuh Kalista sang menantu yang sempat dia tolak kehadirannya.
Seiringan dengan itu, Adryan pun berdiri tepat di depan pintu mendengar setiap kata yang diucapkan oleh ibundanya. Dia bahkan menyaksikan dengan kedua matanya sendiri sang ibu sedang memeluk istrinya penuh kasih sayang.
Sungguh, hati seorang Adryan benar-benar merasa bahagia sekarang.
__ADS_1
'Terima kasih, Tuhan. Karena engkau telah benar-benar membuka mata hati ibu hamba.' (batin Adryan.)
Dia pun mengetuk pintu dan benar-benar masuk ke dalam kamar tersebut, membuat Nyonya Rosa dan Kalista seketika langsung mengurai pelukan.
"Hmmm ... Seneng deh liat mertua sama menantunya akrab kayak ini. Coba dari dulu." Celetuk Adryan membuat wajah Nyonya Rosa seketika memerah.
"Udah jangan banyak bicara, mana alat tes kehamilannya?'' tanya sang ibu mengalihkan pembicaraan.
"Tenang aja, ada ko. Nih ..." Jawab Adryan memperlihatkan lebih dari 10 alat test kehamilan yang dia bawa.
"Astaga, Mas. Banyak banget, satu aja cukup kali.''
"Hehehehe ..."
Adryan hanya terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
''Sudah jangan berdebat segala. Sayang, cepat kamu gunakan alat ini, Mommy benar-benar sudah tidak sabar ingin segera melihat hasilnya."
Kalista menganggukkan kepalanya lalu berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi dengan mambwa satu buah alat test kehamilan.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Promosi lagi ya, Reader. Jangan bosan dan jangan lupa mampir.
Blurb 👇👇👇👇
Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Akibat tekanan yang cukup besar dari orang tua suaminya, akhirnya Suci berdoa dan berserah diri kepada Pencipta-Nya. Hingga akhirnya Suci mendapatkan pencerahan dan memiliki solusinya sendiri.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Suci sudah berusaha ikhlas untuk merelakan sang suami tercinta supaya mencari pendamping baru untuk segera memberikan cucu kepada keluarga Dimas yang selalu menuntut anak dari Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?
__ADS_1