
Adryan masih belum menyadari bahwa istrinya merasa kesal karena dirinya mengijinkan wanita lain untuk menginap di rumahnya tanpa bertanya terlebih dahulu kepada dirinya.
Sebagai seorang istri, tentu saja dirinya merasa tidak dihargai apalagi Amanda adalah wanita yang sempat akan di jodohkan dengan suaminya itu.
Dia pun berjalan ke arah kamar seraya menggendong Putra yang kini tertidur di atas pangkuannya dengan hati dan perasaan kecewa. Baru saja keduanya bermesraan dan dirinya dihujani dengan kata-kata gombal yang membuat jiwanya terasa melayang dan sekarang dirinya benar-benar merasa di hempasan ke dasar jurang.
Ceklek ....
Blug ....
Kalista pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kasar.
"Mas Adryan gimana si? Di anggap apa aku ini, tega sekali dia." Ketus Kalista mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa.
Dengan sangat hati-hati dia pun membaringkan tubuh putra di atas ranjang lalu dia pun meringkuk di sampingnya dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya kini.
Ceklek ....
Tiba-tiba saja pintu pun di buka dan Adryan sang suami masuk ke dalam kamar dengan tersenyum dan masih belum menyadari kesalahannya sendiri.
"Sayang makan dulu yu. Kita 'kan udah masak tadi, tadi katanya kamu lapar." Ucap Adryan berjalan menghampiri lalu duduk di tepi ranjang.
Kalista hanya terdiam memejamkan kedua matanya kini.
"Sayang ...!"
Kalista masih tidak bergeming.
"Kamu marah sama Mas?"
Kalista akhirnya membuka mata dan menoleh menatap wajah suaminya dengan mata memerah menatap tajam wajah Adryan.
"Mas masih tidak sadar dengan kesalahan Mas?" Tanya Kalista dengan setengah berbisik tidak ingin sampai membangunkan putranya yang saat ini sedang terlelap.
"Hah? Jadi, kamu beneran marah?"
"Astaga ..." Kalista kembali meringkuk dan memejamkan mata dengan membelakangi tubuh suaminya.
"Sayang, apa kamu marah karena Mas ngizinin Amanda menginap di sini?"
__ADS_1
Kalista diam tidak menjawab.
"Sayang ...!"
Kalista masih tidak bergeming.
"Mas minta maaf kalau kamu merasa tidak enak dengan kehadiran dia di sini. Mas hanya--''
"Tidak enak? Tidak enak Mas kata? Istri mana yang bakalan enak tinggal seatap dengan wanita yang hendak dijodohkan dengan suaminya? Yang lebih menyakitkan dari itu adalah, Mas sama sekali tidak bertanya kepadaku apakah aku setuju atau tidak. Mas malah langsung membuat keputusan begitu saja tanpa memikirkan perasaan aku, istri macam apa aku ini.'' Ketus Kalista masih dengan setengah berbisik.
"Mas minta maaf, sayang. Mas tau Mas salah. Mas benar-benar minta maaf."
Kalista diam tidak bergeming.
"Kalau kamu memang tidak suka, Mas akan menyuruh dia pulang sekarang juga."
"Gak usah, telat. Kenapa tidak tadi saja Mas suruh dia pulang."
Adryan menarik napas berat lalu mengusap wajahnya kasar.
"Ya udah sekarang kita makan ya, Mommy sama Daddy sudah nungguin kita di meja makan."
"Lho, tadi katanya kamu lapar, sayang?"
"Sekarang udah nggak." Ketus Kalista kembali memejamkan mata.
"Sayang ...!"
"Lebih baik Mas keluar, aku ngantuk mau tidur."
"Lho, kita 'kan sudah tidur seharian, sayang."
Kalista memutar badan lalu menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam lengkap dengan bola mata memerah menahan rasa amarah.
"Iya-iya, Mas gak bakalan maksa kamu lagi. Tapi, nanti kalau udah lapar kamu makan ya. Mas gak mau kalau kamu sampai sakit nantinya."
"Gimana nanti aja. Mendingan sekarang Mas keluar, sebelum aku benar-benar marah."
Adryan pun kembali mengusap wajahnya kasar, sepertinya kemarahan sang istri tidak akan mudah untuk diredakan.
__ADS_1
"Ya sudah, Mas keluar ya."
Kalista hanya mengangguk datar.
❤️❤️
Yuda menarik tangan Amanda dan membawanya ke halaman belakang rumah besar milik majikannya itu.
"Kamu? Lagi apa kamu di sini?" Tanya Amanda membulatkan bola matanya kesal.
"Saya yang seharusnya bertanya sama kamu, sedang apa kamu di sini Manda?" Jawab Yuda mendekap erat jemari Amanda seraya menatap lekat wajahnya kini.
"Bukan urusan kamu, lepaskan aku, Yuda."
"Tidak, saya tidak akan melepaskan kamu, Manda. Saya antar kamu pulang ya?"
"Gak usah, kamu tidak dengar tadi, kalau Adryan sudah ijinin saya menginap di sini?''
"Itu karena kamu merengek-rengek tidak berani pulang sendiri. Saya akan antar kamu pulang ke kota kalau kamu memang tidak berani pulang sendiri."
"Nggak mau, apaan si. Ingat, kita udah putus ya. Kamu gak usah ikut campur dengan urusan aku. Oke?'' Ketus Amanda menepis kasar kedua tangan Yuda.
"Kita memang sudah putus. Tapi, kita belum lama putus. Saya masih sayang sama kamu, Amanda. Dan saya gak rela kalau kamu ngejar-ngejar pria beristri seperti Tuan Adryan ini. Kamu itu cantik, apa pantas kamu melakukan hal rendahan seperti ini?"
Plak ....
Amanda tiba-tiba saja menampar keras pipi Yuda membuat pria berwajah tampan dan bertubuh tinggi itu seketika meringis merasakan perih di satu sisi rahangnya kini.
"Argh ... Kamu nampar saya, Manda?"
"Iya, kenapa? Kurang keras? Aku sudah bilang jangan ikut campur dengan urusan aku. Mau aku ngejar-ngejar pria beristri atau apapun itu, bukan urusan kamu lagi karena kita tidak ada hubungan apa-apa lagi.''
Yuda hanya bisa menarik napas berat dan menghembuskan'nya secara kasar. Satu tangannya masih memegangi rahangnya yang kini terasa terbakar.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba terdengar suara Adryan berjalan menghampiri dengan tatapan heran menatap wajah Yuda dan juga Amanda secara bergantian.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
SELAMAT SIANG READER, MAMPIR JUGA DI KARYA TEMAN OTHOR YA. DI JAMIN BAKAL MENGHIBUR KALIAN SEMUANYA KARENA CERITANYA SANGAT MENARIK. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA. SEMOGA KALIAN SEHAT SELALU.
__ADS_1