
Amanda membulatkan bola matanya dengan bibir yang dibuka lebar, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut laki-laki bernama Yuda.
Wanita murahan? Laki-laki itu bilang bahwa dia adalah wanita murahan? Amanda benar-benar murka dan hendak mengejar laki-laki itu untuk memberinya pelajaran.
"Brengsek ...'' gumamnya berjalan dan hendak menghampiri.
Akan tetapi, dia pun seketika menghentikan langkah kakinya saat melihat Nyonya Rosa berjalan ke arahnya kini dengan membawa sebuah wadah kecil.
"Tante Rosa kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rosa menatap wajah Nyonya Rosa yang terlihat khawatir.
"Putra semalaman ini demam,'' singkat Nyonya Rosa berjalan melintasi Amanda begitu saja.
"Astaga? Kasian sekali Putra," Amanda berpura-pura simpati.
Wajah Nyonya Rosa pun terlihat datar tanpa ekspresi sedikitpun.
"Boleh saya melihat keadaan Putra?"
Nyonya Rosa diam tidak menjawab lalu meletakkan wadah tersebut di atas meja. Setelah itu, dia pun kembali berjalan ke arah kamar dimana cucu kesayangannya berada.
Ceklek ....
Nyonya membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya, dan tanpa rasa malu sedikitpun wanita bernama Amanda itu mengikuti Nyonya Rosa masuk ke dalam kamar tersebut membuat Adryan merasa terkejut juga kesal.
"Gimana demamnya, apa sudah turun?" Tanya Nyonya Rosa naik ke atas ranjang.
"Masih sama, Mom. Tapi, mudah-mudahan setelah meminum obat penurun demam, panasnya akan segera turun." Lirih Kalista.
"Memangnya putra sakit apa?"
Kalista seketika menoleh ke arah sumber suara lalu mendengus kesal juga menatap dengan tatapan tajam.
"Kamu? Sedang apa kamu di sini? Siapa yang ngijinin kamu masuk ke sini?'' tanyanya kesal.
"Eu ... Ya, saya cuma mau lihat keadaan Putra, apa gak boleh?"
"Nggak, mood saya semakin jelek melihat kamu di sini. Lebih baik kamu keluar dari sini sekarang juga."
Amanda tersenyum menyeringai lalu menatap wajah Adryan seolah menginginkan pembelaan.
"O iya, Amanda. Semalam kamu bilang kalau kamu akan pulang pagi ini 'kan? Lebih baik kamu pulang sekarang mumpung masih pagi, takutnya nanti kamu kemalaman di jalan lho. Apa mau diantar sama Yuda biar kamu tidak sendirian di jalan?'' tawar Adryan tidak sesuai dengan harapan Amanda.
__ADS_1
"Kamu ngusir aku?"
"Ya kurang lebih seperti itulah."
"Gak sopan." Ketus Amanda memutar bola mata kesal.
"Sudah cukup. Apa yang kalian lakukan? Putra sedang sakit, apa pantas kalian berdebar di depan anak yang lagi sakit, hah?'' Nyonya Rosa menaikan suaranya.
Mereka bertiga pun seketika terdiam tidak ada yang berani mengeluarkan suara.
"Amanda, benar apa yang dikatakan oleh Adryan. Lebih baik kamu pulang sekarang, mumpung masih pagi juga. Nanti Tante suruh Yuda buat nyupirin kamu ya.''
"Hah? Gak usah, Tante. Saya bisa pulang sendiri ko.''
"Gak bisa, Tante khawatir kalau kamu harus pulang sendirian. Lagipula, Tante juga udah janji sama jeng Anita untuk jagain kamu di sini. Sebentar ya, Tante bilang dulu sama si Yuda.''
"Gak usah Tante saya--" Amanda pun tidak meneruskan ucapannya karena Nyonya Rosa seketika langsung keluar dari dalam kamar.
Kini, tinggallah mereka bertiga di dalam kamar tersebut juga putra yang saat ini tengah memejamkan mata sempurna.
Sejujurnya, ada rasa takut yang kini terselip di dalam hati seorang Adryan, dia merasa takut jika Amanda akan menceritakan apa yang telah terjadi diantara mereka semalam.
"Eheeem ..." Amanda tiba-tiba saja berdehem seraya melirik wajah Adryan.
"Apa kamu bilang?"
"Gak tahu malu."
"Kurang ajar."
"Kalian cukup ya. Manda, saya minta kamu pulang, atau setidaknya keluar dari kamar ini." Tegas Adryan semakin merasa kesal.
"Kamu ngusir aku, Mas?"
"Maaaaas ..." Kalista membulatkan bola matanya merasa kesal.
Sementara Amanda hanya tersebut menyeringai terlihat menyebalkan.
"Sejak kapan kamu boleh memanggil suamiku dengan sebutan Mas, hah?"
"Hmm ... Sejak kapan ya?" Ledeknya membuat Kalista semakin merasa kesal.
__ADS_1
"Mas, coba jelaskan sekarang juga."
"Jelaskan apa?"
"Jelaskan kenapa si ulet keket ini bisa manggil kamu dengan sebutan 'MAS'?"
"ULAT KEKET?" Amanda seketika membulatkan bola matanya merasa kesal.
Sejak kapan namanya diganti dengan sebutan ulet keket? Benar-benar menyebalkan. Batin Amanda merasa tidak terima.
"Amanda, saya minta kamu pergi dari sini sekarang juga." Adryan tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya kepada Amanda.
"Nggak, aku gak akan pergi dari sini. Apa kamu mau aku menc--'' wanita itu tidak meneruskan ucapannya saat melihat Nyonya Rosa dan Yuda masuki ke dalam kamar.
'Sial, kenapa mereka cepet banget datangnya,' (batin Amanda.)
"Astaga, kalian masih berdebat di depan cucu Mommy?" Tanya Nyonya Rosa yang sempat mendengar perdebatan mereka.
"Nona Amanda, saya akan mengantar anda pulang." Ucap Yuda datar.
"Gak usah, aku bisa pulang sendiri ya."
"Tidak bisa Manda, jeng Anita baru saja nelpon Tante, katanya kamu gak boleh pulang sendiri." Ucap Nyonya Rosa sedikit memaksa.
Adryan pun seketika menatap wajah Yuda dan memberinya kode agar segera membawa wanita itu keluar dari dalam kamar.
Yuda pun mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Adryan, dia segera menggenggam pergelangan tangan Amanda dan menariknya keluar dari dalam kamar dan tentu saja hal itu membuat amanda benar-benar merasa semakin merasa kesal.
"Lepasin ..." Bentak Amanda mencoba menepis kasar tangan laki-laki bernama Yuda itu namun, usahanya sia-sia karena pergelangan tangannya di genggam begitu kuat oleh Yuda.
"Saya akan anterin kamu pulang sekarang juga, dan saya pun akan bilang kepada kedua orang tua kamu kalau kita sudah tidur bersama semalam, biar apa? Biar mereka segera menikahkan kita dan kamu berhenti menganggu rumah tangga Tuan Adryan.''
Amanda seketika membelalakan kedua matanya merasa terkejut.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Karina Devita seorang gadis berumur 25 tahun yang harus menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Arfan untuk mengantikan sang Kakak yang tiba-tiba kabur satu minggu sebelum acara.
Di hari resepsi, Karina dikejutkan oleh kehadiran seorang pria dari masa lalunya, pria itu bernama Argantara yang tidak lain adalah Kakak dari suaminya sendiri. Karina tidak habis pikir kenapa takdir malah mempertemukannya dengan Argantara dengan situasi seperti ini.
Situasi antara Karina dan Argantara begitu canggung, mereka memilih untuk bersikap seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Karina memutuskan untuk fokus kepada pernikahannya, namun nyatanya sang suami memperlakukan ia dengan tidak baik. Bukannya bersikap sebagai sumi yang baik, Arfan malah menghina dan menyiksa Karina.
__ADS_1
Karina harus menerima kenyataan bahwa suaminya membenci perjodohan ini. Di saat itulah Argantara hadir sebagai seorang penyelamat. Bagaimanakah kisah cinta terlarang mereka?