Pernikahan Rahasia Sang Presdir

Pernikahan Rahasia Sang Presdir
Penghinaan


__ADS_3

Pria bernama Agus itu seketika tertawa saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Amanda. Calon istrinya itu ternyata bukan hanya cantik dan se*si, tapi juga pandai bercanda membuatnya semakin merasa senang kini.


"Hahahaha ... Maksudnya kalau kita udah nikah, terus kamu hamil. Apa saya masih Sudi menerima kamu, begitu? Tanti saja, sayang. Saya akan menerima kamu meskipun tubuh kamu akan melar nantinya." Ucap Agus kemudian.


"Hah? Dasar bodoh, Gus ... Gus ... Katanya Presdir dari perusahaan besar, tapi otak kamu gak bisa jalan. Kamu gak ngerti dengan maksud dari pertanyaan aku tadi?" Tanya Amanda tersenyum menyeringai penuh ejekan.


"Maksudnya gimana? Bukannya itu maksud dari pertanyaan kamu tadi?"


"Hahahaha ... Tentu saja bukan. Aku ulangi pertanyaan aku, Gus. Gini ... Apa kamu mau menikahi wanita yang sedang hamil? Hamil sama laki-laki lain."


Agus seketika terdiam seraya berfikir, matanya nampak menatap lekat wajah wanita bernama Amanda. Raut wajahnya pun seketika berubah serius juga terlihat begitu kesal.


"Maksud kamu?" Tanyanya merasa penasaran.


"Masih gak ngerti juga? Astaga ..."


Agus semakin menatap lekat menatap wajah Amanda dengan tatapan tajam. Akhir, dia bisa menangkap maksud dari pertanyaan wanita itu dan seketika tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha ... Kamu pasti bercanda 'kan? Mana mungkin saya di jodohkan dengan wanita hamil? Kamu itu putra dari pengusaha kaya raya, dan perjodohan ini ibu kamu yang minta.''


"Tidak, aku gak bohong sama sekali. Aku memang lagi hamil sekarang. Nih buktinya kalau kamu gak percaya." Jawab Amanda menyerahkan alat tes kehamilan yang memang baru saja dia gunakan sebelum mereka bertemu.


Agus meraih alat tersebut dengan perasaan jijik. Kemudian, dia pun menatap dengan seksama dua garis merah yang tertera di permukaan alat itu. Raut wajah seorang Agus pun seketika berubah merah menahan rasa amarah.


"Gila ... Kamu benar-benar gila. Tidak ... Ibu kamu yang gila. Masa dia jodohkan anaknya yang lagi hamil?" Geram Agus benar-benar merasa kesal.


Amanda hanya mengangkat kedua bahunya seraya menarik bibir atasnya sebelah.


"Saya tidak terima dengan penghinaan ini ya, dan saya akan membatalkan rencana perjodohan ini sekarang juga." Tegasnya lagi seraya berdiri dan hendak pergi. Namun, tiba-tiba saja dia meraih gelas berisi air putih lalu sedetik kemudian ....


Byuuur ....


Agus mengguyur kepala Amanda dengan air tersebut membuat wanita itu seketika terkejut membulatkan bola matanya juga membuka mulutnya lebar.


"Ini untuk penghinaan kamu, kamu pikir saya ini laki-laki bodoh." Ucap Agus lalu pergi begitu saja meninggalkan Amanda yang saat ini masih diam mematung dengan perasaan kesal juga kepala yang basah dengan air putih tentunya.


"Brengsek .... Kurang ajar, hey ... Agus, awas kamu ya." Teriak Amanda berdiri dan mengacungkan jari tengahnya.

__ADS_1


"Sial ... Basah semua 'kan. Hadeuh ..." Gumamnya lagi mengusap kepala juga wajah cantiknya


❤️❤️


Keesokan harinya.


Pagi hari, Amanda pergi ke kantor dimana Yuda sang kekasih bekerja sekarang. Dia nekat datang ke sana meskipun dia sama sekali tidak tahu dimana ruangan sang kekasih berada. Untungnya, dia bertemu dengan Adryan tepat di lobi kantor.


"Amanda?" Sapa Adryan ramah.


"Kamu? Eu ... Aku ke sini bukan buat cari kamu ko. Aku mau ketemu Yuda," jawab Amanda, dia tidak ingin kalau Adryan sampai salah paham dan mengira bahwa dirinya datang ke sana untuk bertemu dengan laki-laki itu.


"Iya saya tahu. Yuda sudah cerita semua masalah yang sedang kalian hadapi." Jawab Adryan santai.


"Benarkah, heuh ... Aku kira cewek aja yang suka curcor, ternyata laki-laki juga sama." Jawab Amanda sedikit terkekeh.


"Mau saya antarkan ke ruangan Yuda?"


Amanda menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang. Adryan pun berjalan secara beriringan dengan Amanda kemudian.


Tanpa di sangka, di perjalanan mereka pun akhirnya bertemu dengan Yuda yang saat ini hendak mendatangi ruangan Adryan. Wajah pemuda itu terlihat kesal saat melihat kekasihnya berjalan dengan jarak yang sangat dekat bersama Adryan.


"Kalian kenapa bisa barengan kayak gini?" Tanya Yuda, menatap wajah Adryan dan juga kekasihnya secara bergantian.


"Jangan salah paham dulu. Saya gak sengaja ketemu dia di bawah, katanya dia mau ke ruangan kamu tapi gak tahu ruangannya dimana. Makannya saya mau antar'kan dia ke ruangan kamu ini." Jelas Adryan.


"Hmm ..." Gumam Yuda merasa cemburu sebenarnya.


"Ya udah, saya pergi dulu. Ingat, jangan pacaran di jam kerja ya? Kalau kalian mau pacaran tunggu jam istirahat, oke?" Pesan Adryan sebelum dirinya meninggalkan mereka berdua dan hanya di jawab dengan anggukan sopan oleh Yuda.


"Kita ke ruangan saya." Pinta Yuda datar.


"Wajah kamu kenapa? Ko merah kayak gitu?" Tanya Amanda berjalan dengan menggandeng pergelangan tangan kekasihnya.


Yuda hanya diam tidak menjawab. Rasa cemburu terasa panas membakar hatinya kini. Dia bahkan menatap lurus ke depan, tidak melirik wajah Amanda sedikit pun sampai mereka tiba di ruangannya.


Ceklek ....

__ADS_1


Pintu ruangan pun di buka. Yuda masuk ke dalam ruangan tersebut dengan perasaan kesal bersama Amanda sang kekasih tentu saja.


"Kamu kenapa? Kamu gak senang aku datang ke sini?" Tanya Amanda duduk di kursi.


"Bukannya gak senang. Kenapa kamu bisa barengan sama Bos Adryan si?'' Tanya Yuda mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.


"Tadi 'kan udah dijelasin sama Adryan, kalau kita gak sengaja ketemu di bawah. Jangan bilang kalau kamu masih cemburu sama dia?"


"Nggak, siapa bilang. Saya cuma gak suka aja kamu dekat-dekat sama dia." Yuda berkilah.


"Bohong banget si."


Yuda diam tidak menjawab, mencoba menenangkan perasaannya yang saat ini masih dilanda rasa cemburu.


"Aku bawa kabar bahagia buat kamu, sayang." Ucap Amanda bangkit lalu duduk di atas pangkuan Yuda kini.


"Kabar apa? Bilang aja, saya masih banyak pekerjaan ini.''


"Ish ... Muka kamu jutek banget si."


Yuda pun seketika menarik kedua sisi bibirnya mencoba untuk memberikan senyuman, yang tentu saja senyuman yang dipaksakan.


Amanda mengeluarkan alat test kehamilan dari dalam tas miliknya lalu memperlihatkan benda tersebut kepada sang kekasih dengan tersenyum sumringah.


"Apa ini?" Gumam Yuda menatap dengan seksama alat tersebut.


"Coba tebak."


"Kamu ha-mil?" Tanya Yuda dengan nada suara terbata-bata.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Promosi, siang ini ya Reader. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian di sana ya. Semoga kalian suka dengan ceritanya.


Blurb👇👇👇


Jangan ingin jadi aku, kalau menghadapi cobaanmu saja, kamu masih belum sanggup! Jangan iri dengan hidupku, jika kamu tidak bisa mensyukuri hidupmu! Kamu tidak pernah tahu bagaimana kerasnya kehidupanku. Tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan, mengajariku arti berjuang dan berkorban untuk berkompetisi meraih mimpi. Aku hanyalah seorang Nanditha, bukan kamu yang hanya cukup berkata, lalu semuanya tersedia sekejap mata.”_

__ADS_1


_Bagaimana Nanditha menjalani lika-liku kehidupan agar bisa mewujudkan mimpi masa kecilnya?_



__ADS_2