
Bagus merasa iba, karena saudara sepupunya harus menikah tanpa ada rasa cinta sama sekali.
"Ya sudah jika memang keputusanmu seperti itu. Semoga saja jika nanti kamu telah menikah dengan Rindu, kamu bisa move on dari Sinta," hibur Bagus.
"Entahlah, Mas. aku berpikir pernikahanku dengan Rindu tidak akan bahagia karena aku tidak mencintainya sama sekali bukankah kita tahu pernikahan yang berdasarkan cinta juga bisa mengalami perceraian apalagi pernikahanku yang dilakukan secara terpaksa dengan, Rindu."
Bagus mencoba memberikan semangat pada, Faisal," kamu seharusnya berkata yang positif supaya hasilnya juga positif. Jangan seperti ini, Faisal. Apa kamu tahu ada istilah, cinta datang karena telah terbiasa bersama? aku yakin suatu saat nanti kamu juga bisa jatuh cinta pada, Rindu."
"Semoga saja, mas. Tetapi aku benar-benar nggak tega, karena pernikahanku ini menyakiti hati Sinta," ucap Faisal.
"Tetapi jika kamu bersama dengan, Sinta. Kamu juga menyakiti, Rindu.'
Faisal memang saat ini sedang ada di posisi terjepit. Dia bagaikan buah simalakama, melangkah kemanapun salah. Ia juga tidak ingin membuat almarhum papahnya Rindu, sedih di alam sana.
********
Tak terasa hari pernikahan, Rindu dan Faisal sudah tiba. Bahkan seluruh keluarga Bagus juga datang ke acara pernikahan tersebut. Pernikahan mereka terdengar hingga ke telinga, Sinta. Karena dia di paksa untuk ikut hadir oleh, Misel.
"Mbak Sinta, pokoknya harus ikut ya?" rengek Misel.
"Ikut kemana, Non Misel?" Sinta penasaran.
"Ke acara pernikahan saudaraku, mau ya? please... karena buat teman aku di sana. Pasti nanti di acara pernikahan , orang tuaku atau Mas Bagus sibuk sendiri dengan kenalan mereka, dan aku di kacangin," oceh Misel.
"Kapan pernikahannya?" tanya Sinta.
"Nanti malam kita ke sebuah hotel berbintang Iima. Pokoknya, Mbak Sinta nggak boleh menolak demi aku ya? katanya sudah menganggapku sebagai adik sendiri."
Sinta pun mengiyakan saja, tanpa terlebih dahulu ia bertanya tentang nama orang yang menikah tersebut. Bahkan Bagus dan orang tuanya tidak tahu jika diam-diam, Misel mengajak Sinta ke acara pernikahan, Faisal dan Rindu.
Hingga saat itu pun tiba, dan Bagus serta orang tuanya begitu kaget pada saat Sinta datang ke rumah.
__ADS_1
"Sinta, kamu kemari dengan siapa?" tanya Mamah Mira.
"Aku jalan kaki, nyonya. Kan jarak dari rumah kontrakan kemari nggak begitu jauh," jawab Sinta.
Bahkan dia mengatakan jika kedatanganya karena permintaan, Misel. Hal ini tentu saja membuat kaget Bagus dan Mamah Mira, karena mereka sudah tahu tentang hubungan percintaan antara Faisal dan Sinta.
"Misel, kenapa kamu nggak mengatakan pada kami dulu jika akan mengajak Sinta ke acara pernikahan?" tegur Bagus menahan geram.
"Loh, memangnya kenapa jika Mbak Sinta ikut? dan kenapa juga aku harus meminta izin terlebih dahulu? kata kalian, telah menganggap, Mba Sinta. layaknya keluarga. Seharusnya tidak usah di permasalahkan dong," rajuk Misel.
Di dalam hati Sinta juga ada rasa heran, kenapa juga Bagus terlihat nggak suka pada saat dia akan ikut ke acara pesta pernikahan.
"Non Misel, sebaiknya mbak pulang saja ya?"
Namun pada saat Sinta akan melangkah pergi, Misel meraih tangannya," jangan mbak!"
"Mas Bagus, jangan seperti itu dong. Kasihan, Mbak Sinta! pokoknya dia tetap ikut, nggak boleh ada yang melarang!"
Misel sangat senang pada saat mendapatkan pembelaan dari papahnya," tuh dengar, mas! papah saja nggak melarang, Mbak Sinta ikut kok."
Hingga akhirnya baik Bagus maupun Mamah Mira hanya bisa diam saja.
Di dalam hati, Bagus mulai cemas," aduh, bagaimana perasaan Sinta nanti ya? tetapi aku nggak mungkin cerita pada, Misel tentang hal pribadi."
"Aduh.... Misel! pakai acara mengajak Sinta segala, apa reaksinya nanti jika melihat sang mempelai?" batin Mamah Mira.
Tak berapa lama, mereka telah sampai di sebuah hotel mewah berbintang lima. Tetapi tiba-tiba hati Sinta merasa tak tenang,' kenapa firasatku tak enak seperti ini ya? mendadak ada rasa cemas dan panik. Astaghfirullah aladzim, semoga tidak ada hal yang mengejutkan bagiku."
Mereka melangkah beriringan menuju ke dalam hotel tersebut. Suasana pesta tersebut begitu ramainya, sudah banyak tamu undangan yang berdatangan.
"Pasti, Mbak Sinta penasaran kan dengan pasangan pengantinnya? aku juga sudah ingin melihatnya. Tetapi kita harus melewati orang-orang yang berjubel ini," bisik Misel terkekeh.
__ADS_1
Dan pada akhirnya keluarga Bagus serta Sinta sampai juga di hadapan sang mempelai. Begitu terkejutnya Sinta pada saat melihat pasangan pengantin yang tidak asing lagi baginya.
"Astaghfirullah aladzim, ternyata pasangan pengantin ini adalah Rindu dan Mas Faisal. Pantas saja hati ini mulai tak tenang pada saat sampai di pelataran hotel," batin Sinta.
Pada saat Sinta akan menghindar, Rindu sudah terlebih dahulu melihat dirinya," Sinta!"
Rindu berlari ke arah Sinta, dan langsung saja memeluknya," Sinta, mana ibumu? kamu kemana saja, aku terus mencarimu tapi tak juga ketemu."
Rindu begitu erat memeluk Sinta, hingga Sinta tak bisa lagi melepaskan diri dari pelukan, Rindu.
"Sinta, aku mohon padamu. Kembali ke rumah ya? apa kamu nggak menyayangkan kuliahmu itu, jadi nggak karuan?"
"Rindu, sudah dulu ya? lain waktu kita lanjut percakapannya. Nggak enak juga bukan, banyak tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat padamu?"
Hingga pada akhirnya, Rindu melepaskan pelukannya dan ia pun kembali ke pelaminannya. Faisal sempat melihat ke arah Sinta begitu pula dengan Sinta. Mereka berdua tak sengaja saling bertatapan satu sama lain. Setelah itu, Sinta memalingkan wajahnya. Dan tiba-tiba tangannya di tarik oleh, Misel.
"Mbak, kita ke sana yuk?"
Kesempatan ini tidak disia-siakan olehnya untuk bisa menghindar dari pandangan Faisal dan Rindu. Mata Sinta berkaca-kaca, dia saat ini sedang menahan untuk tidak menangis.
"Non Misel, mbak ingin ke toilet sebentar ya?" izinnya berlari begitu saja meninggalkan Misel yang belum juga mengiyakan kata-kata Sinta.
"Ada apa dengan, Mbak Sinta? kok gugup amat, apa memang sudah kebelet banget ya?" gumam Misel terpaku menatap kepergian, Sinta.
Hal itu bisa di lihat oleh, Bagus. Dia pun menyusul Sinta ke arah toilet. Karena kebetulan toilet pria dan wanita bersebelahan.
Setelah sampai di toilet, Sinta sudah tak kuasa untuk menangis lagi.
"Ternyata, Den Bagus melarangku untuk ikut karena ini penyebabnya. Sakit juga rasanya melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain."
Setelah merasa lega, Sinta menghapus air matanya dan segera pergi dari toilet tersebut. Dan tiba-tiba Bagus mencekal lengannya," Sinta, apa kamu nggak apa-apa?"
__ADS_1
"Astaghfirullah aladzim, Aden bikin kaget saja. Ya, aku baik-baik saja."