Persahabatan Dan Cinta

Persahabatan Dan Cinta
Teguh Pada Pendirian


__ADS_3

Sinta kesal," Bu, kenapa menahanku? biarkan saja aku bungkam mulut mereka yang telah merendahkan ibu. Aku masih bisa tahan jika aku di hina di rendahkan. Tapi tidak jika ibu yang di rendahkan, aku tidak akan terima sama sekali!"


"Sinta, sudahlah. Nggak perlu marah-marah seperti itu. Ibu sama sekali nggak marah atau sedih, biarkan saja, toh nanti jika mereka sudah tahu sendiri kebenarannya tidak akan seperti itu lagi. Janganlah segala permasalahan kita sikapi dengan amarah, itu sama sekali tidak baik."


"Justru ini cambuk bagi dirimu untuk membuktikan pada mereka jika yang di katakan tidaklah benar. Buktikan dengan kesuksesanmu saja. Tak usah melayani omongan yang tak baik, itu hanya akan menghambat masa depanmu yang cerah."


Terus saja Ibunya menasehati Sinta, supaya tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh, para tetangga. Karena para tetangga hanya bisa menghakimi dan melihat dari satu sisi saja. Mereka tidak tahu yang sebenarnya. Dan nggak perlu juga ibu Sinta memberikan sebuah pembuktian pada para tetangga tersebut.


" Bu, maafkan aku ya? karena baru saja aku terbawa emosi seperti ini. Aku nggak akan mengulang hal ini lagi, Bu."


Sinta memeluk ibunya penuh dengan kasih sayang.


Sementara Mamahnya Faisal merasa sangat puas karena telah berhasil mempermalukan Sinta dan ibunya di hadapan para tetangga di kontrakan rumah mereka.


"Puas sekali, next time aku akan melakukan hal yang lebih extrem lagi untuk ibu dan anak itu!" batinnya sangat puas.


*******


Sesampainya di rumah, ia langsung mendapatkan teguran dari suaminya," mamah dari mana sih? tumben keluar rumah nggak ajak papah, nggak seperti biasanya?"


" Mamah sengaja nggak mengajak papah, karena jika mamah mengajak papah, pasti yang ada papah menghalangi mamah" ucapnya singkat.

__ADS_1


"Kalau ngomong itu yang jelas, mah? menghalangi dalam hal apa sih?" ucap suaminya heran.


"Mamah habis dari rumah kontrakan Sinta, dan melabraknya macam-macam. Bahkan sempat mempermalukannya di hadapan para tetangga. Tolong papah jangan katakan hal ini pada Faisal ya? pasti yang ada nanti Faisal akan marah jika mengetahui hal ini."


Tetapi naas, karena pada saat ia mengatakan hal itu di belakang tempatnya ia berdiri telah berdiri pula Faisal. Karena baru saja Faisal dari garasi mobil," apa, jadi Mamah telah melabrak Sinta? apakah mamah sudah lupa dengan apa yang telah aku katakan? bahwa semua yang terjadi pada rumah tanggaku dan Rindu itu bukanlah kesalahan dari Sinta, justru Sinta yang telah menyatukanku dengan Rindu!"


"Tega banget sih Mamah, berbuat seperti itu pada Sinta? padahal dia adalah seorang gadis yang sangat baik, tetapi malah dipermalukan seperti itu oleh mamah. Aku tidak menyangka jika sifat Mamah sangat picik seperti halnya sifat Rindu. Aku benar-benar kecewa sama mamah."


Faisal berlalu pergi dari hadapan orang tuanya, ia segera ke garasi mobil kembali untuk mengemudikan mobilnya dengan tujuan ke rumah kontrakan Sinta.


"Faisal, kamu mau ke mana? jangan katakan jika kamu akan ke rumah kontrakan Sinta ya. Mamah tidak akan memaafkanmu bahkan akan melakukan hal buruk lagi terhadap Sinta dan ibunya!" ancam Mamahnya.


"Silahkan saja Mamah lakukan hal itu! jika sampai Mamah benar-benar melakukannya, aku akan pergi selamanya dari rumah ini, dan tidak akan memberitahukan kepada Mamah tentang keberadaanku. Ini bukan suatu ancaman lagi, Mah. Tetapi benar-benar akan aku lakukan!" teriak Faisal dari arah garasi yang tak jauh dari pelataran rumah.


Tapi suaminya sama sekali tidak bergeming dari tempat duduknya, ia hanya tersenyum ke arah istrinya," Mamah seperti tidak pernah muda saja. Ingatlah akan masa muda kita dulu, juga melakukan hal seperti yang Faisal lakukan. Malah kita lebih parah dengan melakukan kawin lari bukan? hingga pada akhirnya kedua orang tua kita menyetujui pernikahan kita."


"Apa yang Faisal lakukan saat ini masih wajar, berbeda dengan apa yang dulu kita lakukan. Jadi janganlah bersikap terlalu mengatur anak, karena Faisal itu sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi. Dia pasti lebih paham dan lebih tahu apa yang terbaik buat kehidupannya buat masa depannya."


Tetapi istrinya terus saja mengoceh," nggak bisa seperti itu, Pah! sampai kapanpun aku tidak akan setuju jika suatu hari nanti Faisal ingin menikahi Sinta, aku akan menentangnya mati-matian."


Suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena memang ia telah paham akan tabiat istrinya yang sangat keras kepala bagaikan batu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikan Faisal telah sampai di pelataran rumah kontrakan milik Sinta.


Kebetulan saat itu Sinta dan ibunya masih duduk di teras halaman. Sinta langsung menghardik Faisal," untuk apa kamu datang kemari, Mas? janganlah menambah permasalahanku dengan kamu masih mengganggu kehidupanku. Aku tidak ingin dipersalahkan lagi oleh mamahmu."


"Kenapa juga kamu mengatakan tentang perasaanmu terhadapku kepada Rindu, hingga pada akhirnya kalian berpisah. Apakah kamu telah lupa dengan janjimu padaku, jika akan membahagiakan Rindu? kamu telah ingkar janji dengan bersikap tidak baik kepada Rindu, itu sama saja kamu menyakiti hatiku, Mas."


"Karena kebahagiaan Rindu adalah kebahagiaanku juga. Kesedihan rindu juga kesedihanku. Seharusnya kamu belajar untuk mencintainya, bukan malah seperti ini."


Faisal pun tidak tinggal diam, dia juga mengatakan banyak hal kepada Sinta.


"Aku minta maaf jika tidak bisa menepati janjiku kepadamu. Karena aku sudah mencobanya untuk move on darimu. Tetapi semakin aku mencoba melupakan mu, semakin besar rasa cintaku terhadapmu."


"Jujur saja aku sangat tersiksa dengan pernikahan yang tidak sehat. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri Sinta, apalagi membohongi Rindu."


"Aku ke sini untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh mamahku terhadapmu dan ibumu. Aku pastikan tidak akan terjadi hal seperti ini lagi."


"Dan aku harap, kamu masih menyimpan rasa cintamu untukku supaya aku bisa kembali merajut kasih yang belum sempat kita lalui."


Sinta tersenyum sinis," mohon maaf, Mas Faisal yang terhormat. Aku tidak akan pernah menjilat ludahku sendiri. Dimana aku telah berjanji di dalam hatiku untuk tidak mendekatimu lagi."


"Aku bukanlah dirimu yang gampang sekali mengatakan iya, tetapi hanya di bibir saja. Aku juga tidak mau apa yang mamahmu katakan menjadi kenyataan. Jika aku bersamamu, aku tak lebih seorang pelakor. Dan aku tidak mau di cap sebagai pelakor."

__ADS_1


"Aku akan tetap memegang teguh pendirian dan keputusanku untuk tidak memperjuangkan cintaku padamu. Dengan adanya semua kejadian ini. Aku yakin jika memang kamu di ciptakan bukan untukku hingga banyak sekali rintangan."


__ADS_2