
Sang Ibu sempat terperangah lalu kemudian terkekeh," walah jadi ibu telat ya. Kalau nggak, nanti pas kamu berangkat Ibu ikut yah? bantuin kerjaanmu supaya nggak terlalu cape."
Namun Sinta melarangnya, karena ia tidak ingin ibunya kecapean," nggak usah ibuku, sayang. Cukup aku saja yang bekerja ya? Ibu cukup di rumah saja, nggak boleh terlalu cape."
Sinta sangat mengasihi ibunya, dia tidak ingin ibunya kecapean hingga pada akhirnya sakit. Sinta menginginkan ibunya selalu sehat.
Sementara di rumah Mamah Mira, Bagus celingukan mencari keberadaan Sinta," mah, apakah pagi ini Sinta tidak bekerja kembali?"
Mamah Mira pun menceritakan segalanya, bahwa barusan pagi sekali Sinta datang.
"Jika Sinta kuliah lagi, lantas dari mana dia membayar biaya kuliahnya, mah?" Bagus merasa penasaran, bagaimana Sinta bisa membayar biaya kuliahnya sedangkan kondisi ekonominya tidak memadai.
"Mungkin saja tanpa sepengetahuan kita, Sinta memiliki tabungan. Sudahlah tak perlu memikirkan atau mencemaskan Sinta lagi, karena kita sudah tahu bahwa sekarang kondisinya baik-baik saja."
Tetapi tidak, di dalam hati Bagus. Karena entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa resah gelisah jika tidak melihat wajah Sinta.
Mamah bisa, tidak cemas lagi. Tetapi aku masih merasa cemas, jika aku tidak bisa melihat wajahnya. Entah kenapa rasa ini hadir beberapa hari terakhir. Apakah aku telah jatuh cinta kepada Sinta?"
Mamah Mira merasa heran melihat kemurungan yang sangat terlihat di wajah anak sulungnya.
"Bagus, kenapa kamu seperti sedih sekali mengetahui bahwa Sinta baru bisa bekerja setelah pulang kuliah? apakah kamu telah jatuh cinta kepadanya?"
DEG!
Sontak saja pertanyaan mamahnya membuat jantung Bagus semakin berdegup kencang, wajahnya sepintas terlihat sangat pias.
"Bagus, kenapa kamu diam saja? cerita saja pada Mamah tak perlu merasa malu."
Terus saja mamahnya membujuk Bagus untuk mengutarakan isi hatinya tersebut. Akan tetapi Bagus malah berlalu pergi dengan alasan buru-buru untuk segera sampai ke kantor.
__ADS_1
"Maaf mah, aku segera berangkat ya karena kebetulan ada jadwal deadline."
Mamah Mira hanya bisa menghela napas panjang, seraya menggelengkan kepalanya," hem.. mamah tahu, kamu telah jatuh cinta pada Sinta. Hanya saja enggan untuk mengakuinya."
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, hari Bagus terus saja resah gelisah memikirkan Sinta. Rasa ingin bertemu begitu menggebu-gebu," masa iya aku telah jatuh cinta pada, Sinta? bagaimana nantinya jika Faisal tahu akan hal ini ya?"
Terus saja Bagus bergumam di dalam hatinya, seraya terus saja memukul-mukul tangannya di kemudinya. Dia tidak bisa menolak perasaan yang hadir tiba-tiba di dalam dirinya. Perasaan cinta yang tidak pernah ia rasakan selama ini, ia rasakan kepada Sinta.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Faisal jika mengetahui bahwa aku juga mencintai Sinta. tietapi aku tidak bisa memungkiri perasaanku ini. Apakah aku juga harus mengalami hal yang serupa dengan Faisal yang memendam rasa cintanya terhadap, Sinta?"
"Ternyata orang jatuh cinta itu tidak enak rasanya, karena seperti ini. Mungkin saja jika rasa cintaku terbalaskan oleh Sinta, akan aku akan merasa bahagia. Tapi aku tidak akan mungkin menyakiti hati, Faisal."
"Dulu aku sempat berpikir betapa bodohnya Faisal menyimpan rasa cinta begitu saja. Aku menghakiminya tetapi kini aku malah mengalami hal yang serupa."
*******
Kondisi Faisal sudah membaik, hingga ia dinyatakan boleh melakukan operasi pada matanya.
Saat Faisal menjalani operasi mata, Rindu tidak hadir sama sekali. Dengan alasan ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Hal ini sangat membuat kecewa orang tua Faisal. Begitu juga mamahnya Rindu, merasa tidak enak hati kepada orang tua Faisal.
"Mas-mbak, aku minta maaf ya. Tidak bisa membujuk Rindu untuk datang ke rumah sakit. Karena urusan kantornya tidak bisa di tinggalkan begitu saja."
Mamahnya Rindu menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Sebenarnya ada apa dengan Faisal dan Rindu, karena kami merasa ada yang janggal dengan pernikahan mereka?" tanya papah Faisal.
Sejenak mamahnya Rindu terdiam, lidahnya tercekat, ia menelan salivanya. Ia bingung harus mengatakan apa kepada orang tua, Faisal," apa yang harus aku katakan kepada orang tua Faisal ya? apakah aku mengatakan saja tentang permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh Faisal dan Rindu? tetapi tidak etis rasanya jika aku yang mengatakan kebenaran tersebut."
"Maaf ya, Mbak-Mas. Sebaiknya kalian bertanya langsung saja kepada yang bersangkutan, maksudnya kepada Faisal. Apakah kiranya ada suatu permasalahan di antara Faisal dengan Rindu. Karena selama ini Rindu tidak mengatakan apapun padaku," ucap Mamahnya Rindu berbohong.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti jikalau Faisal telah selesai menjalankan operasi matanya, kami akan menanyakannya kepadanya. Kenapa kami melihat rumah tangga Faisal dan Rindu seperti ada suatu hal yang telah terjadi di antara mereka berdua," ucap Mamahnya Faisal.
Sebenarnya di dalam hati Mama rinduy merasa berdosa, karena telah berbohong kepada orang tua Faisal. Tetapi menurutnya itu adalah jalan yang terbaik.
Beberapa jam kemudian...
Operasi mata Faisal telah selesai di lakukan, dengan hasil yang sangat memuaskan.
"Alhamdulillah, Mah-Pah. Sekarang aku sudah bisa melihat kembali. Alangkah bahagianya hatiku, karena beberapa bulan yang lalu mataku terasa gelap. Kini sudah terang kembali."
Faisal sungguh terharu, dia menengadahkan kedua tangannya seraya mengucap syukur.
Orang tua Faisal juga merasakan hal yang sama, mereka ikut bahagia melihat anaknya telah pulih penglihatannya. Begitu pula dengan mamahnya Rindu.
"Selamat ya Faisal, akhirnya penglihatanmu telah kembali seperti setia kala. Mamah ikut senang, dan mamah minta maaf karena Rindu tidak bisa mendampingimu pada saat kamu melakukan operasi mata," ucapnya merasa tidak enak hati.
"Terima kasih, mah. Nggak apa-apa
kok, aku juga tahu jika saat ini Rindu sedang sibuk di kantornya, aku bisa memahaminya," ucap Faisal.
Beberapa hari kemudian, Rindu pun langsung mengajukan gugatan cerai terhadap Faisal. Tanpa sepengetahuan mamahnya maupun orang tua Faisal.
"Jika aku sudah berpisah dari Mas Faisal, aku akan lega dan tenang. Aku akan mencoba move on dan memulai hidupku yang baru tanpa adanya, Mas Faisal."
"Walaupun pada dasarnya semua ini teramat sangat menyakitkan bagiku. Tetapi ini lebih baik, daripada aku harus memendam rasa sakit yang berlarut-larut, jika aku masih menjadi istri, Mas Faisal."
"Semua yang terjadi padaku ini karena ulah, Sinta. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkannya. Aku akan ingat selalu dengan apa yang telah ia lakukan kepadaku."
"Apalagi Mamah juga membelanya mati-matian di hadapanku. Aku merasa, hidupku ini sebatang kara. Tidak ada satu orang pun yang menyemangatiku, karena mamahku sendiri berpihak pada, Sinta."
__ADS_1