Persahabatan Dan Cinta

Persahabatan Dan Cinta
Keberhasilan Sinta


__ADS_3

Faisal sangat kecewa pada saat mendengar penolakan dari bibir, Sinta. Tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja.


"Baiklah Sinta, aku terima keputusanmu ini. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan selalu menunggumu, sampai kamu mengatakan ya, untuk bersedia bersanding denganku."


"Aku yakin sekali di dalam hatimu sekarang ini masih tersimpan rasa cinta untukku, walaupun cuma setitik saja."


"Rasa cinta yang setitik itu, jika terus kamu pupuk dan sirami pasti perlahan akan kembali merekah. Tolong buka hatimu untukku, setidaknya izinkan aku ada di sampingmu walaupun hanya sebagai seorang sahabat.'


Tetapi Sinta tentap kepada keputusannya," maaf Mas Faisal, janganlah terlalu berharap lebih kepadaku karena aku sudah benar-benar move on darimu."


"Aku juga tidak ingin kamu kembali ada di sampingku, walaupun hanya sebagai seorang sahabat. Karena penafsiran terhadap orang tidak semuanya baik. Jika kamu berada di sampingku, walaupun hanya sekedar sebagai sahabat, pandangan orang akan berpikiran lain. Aku tidak ingin para tetangga atau orang-orang semakin menghakimiku tentang hancurnya rumah tanggamu bersama Rindu."


"Aku juga tidak ingin dikejar-kejar atau diteror oleh Rindu atau mamahmu, mas. Aku ingin hidup tenang bersama dengan ibuku, jadi tolong kamu jangan mengganggu kehidupanku lagi, Mas Faisal."


"Sudah cukup semua permasalahan terjadi di dalam kehidupanku.


Untuk saat ini aku hanya ingin fokus dengan kuliahku saja."


"Melangkahlah ke depan Mas Faisal, dan janganlah kamu sesekali menoleh ke belakang. Anggaplah aku ini hanyalah masa lalumu saja. Apalagi kita hanya bisa saling mencintai dalam diam, karena selama ini kita tidak pernah saling bersama."


Faisal sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia pun melangkah pergi dengan rasa kecewa dan sedih. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.


"Maafkan aku, Mas Faisal. Kamu memang benar, jika di dalam hati ini masih ada rasa cinta untukmu. Walaupun hati ini sangat sakit karena tidak bisa bersama denganmu, apa lagi memiliki dirimu. Tetapi aku tidak akan egois, dengan memperjuangkan cintaku padamu."


"Aku akan benar-benar move on darimu, mas. Harga diriku lebih dari segalanya. Aku tidak ingin cap pelakor semakin mengena di hati ini, jika aku bersamamu."


"Aku akan selalu berdoa untukmu, mas. Supaya kamu juga bisa move on dariku, dan membuka hatimu untuk wanita lain."

__ADS_1


Selagi Sinta diam saja menatap kepergian, Faisal. Tiba-tiba dia terhenyak kaget pada saat, ibunya menepuk bahunya," Sinta, ayok kita masuk. Ibu bangga padamu, yang bisa membuat keputusan yang sangat bijaksana."


"Karena tidak gampang untuk bertindak seperti dirimu, padahal kamu cinta padanya. Jika gadis lain yang ada di posisimu, pasti justru akan mengejar cintanya sampai dapat tanpa memperdulikan orang lain. Apa lagi sudah sangat jelas jika kalian saling mencintai."


"Ibu tahu, Sinta. Jika kamu masih cinta padanya, tetapi kamu bisa menutupi rasa cintamu itu di hadapannya. Dan kamu bisa menahan dirimu sendiri untuk mengekang egomu itu."


Ibunya merangkul Sinta melangkah masuk ke dalam rumah.


Berbeda dengan Faisal, selama perjalanan pulang ke rumah dia begitu kesal pada mamahnya.


"Jika saja mamah tidak melabrak Sinta, aku yakin Sinta bersedia merajut kasih denganku. Semua ini karena ulah, Mamah. Padahal aku sudah sangat senang karena Rindu sudah menggugat cerai aku!"


"Kenapa cinta ini sangat menyakitkan? di saat aku merasakan jatuh cinta, dan cintaku juga berbalas.. Tetapi kami tidak bisa bersama. Lantas untuk apa juga Allah memberikan perasaan cinta di dalam hatiku dan Sinta jika kami tidak bisa bersama?"


"Sinta, jika saja kamu bisa bertindak sedikit egois. Dengan mementingkan kebahagiaan dirimu, pasti kita sudah bisa bersama dan bahagia selamanya."


"Sinta, aku tahu betapa sakitnya hatimu saat ini. Seperti apa yang sedang aku rasakan. Sakit karena cinta kita tidak bisa bersatu."


Tak berapa lama, Faisal telah sampai di rumah. Di teras halaman, Mamahnya sedang menunggu.


"Lama sekali kamu pergi? pasti dari rumah pelakor itu, bukan? apa saja yang kalian bicarakan hingga selama ini?" tegur Mamahnya lantang.


"Mah, tolong jangan mengatakan Sinta pelakor. Karena dia itu bukan pelakor, tetapi gadis baik-baik. Dan jika aku dengar kata itu keluar lagi dari mulut Mamah, aku tidak akan bersedia berkomunikasi dengan mamah. Dan jangan pernah datang lagi ke rumah kontrakan, Sinta! awas ya, karena aku bukan hanya gertak sambal doank!"


Faisal tak ingin berlama-lama di hadapan Mamahnya. Ia segera berlalu pergi begitu saja.


"Sejak Faisal mengenal Sinta, dia semakin berani padaku, membantah segala perkataanku. Padahal dulu, ia adalah seorang anak yang sangat penurut, pendiam dan tidak banyak kata."

__ADS_1


"Sinta membawa dampak buruk terhadap Faisal. Dan ini tidak bisa di biarkan begitu saja."


"Aku harus mencari cara supaya, Faisal benar-benar melupakan Sinta dan kembali menjadi Faisal yang dulu."


Entah apa yang akan dilakukan oleh mamahnya Faisal, untuk membuat anak semata wayangnya tersebut patuh kembali kepadanya.


Hari-hari Sinta, dilalui dengan kesibukan kuliah, bekerja di rumah Bagus serta menjadi guru les bagi, Misel. Dia selalu berusaha untuk tidak memikirkan tentang perasaan cintanya terhadap Faisal.


Hingga tidak terasa waktu berjalan begitu cepatnya, dan kini Sinta telah lulus kuliah dengan peringkat yang terbaik. Dan ia di rekomendasikan di sebuah perusahaan terbesar di kota tersebut. Perusahaan yang ternyata adalah milik dari seorang CEO muda yang bernama Sadewa yakni anak sulung dari Om Broto.


Tetapi Sinta sama sekali tidak tahu jika kantor tempatnya bekerja adalah milik dari, Sadewa.


Sinta langsung di percaya untuk menjadi seorang direktur utama di perusahaan tersebut, dan mendapatkan inventaris berupa rumah dan mobil. Hingga kini Sinta sudah tidak tinggal di rumah Kontrakan.


Bahkan Sinta sudah tidak lagi bekerja di rumah Mamah Mira. Hal ini membuat Misel dan Bagus merasa kehilangan.


"Mah, padahal aku sudah cocok di ajari sama Mbak Sinta. Malah dia sudah berhenti," ucap Misel.


"Iya, mah. Sudah nggak ada lagi yang menyetrika bajuku lagi," Bagus ikut-ikutan saja.


"Bagus, apa kamu nggak senang jika mendengar sekarang Sinta sudah sukses berhasil bekerja dan bahkan dudukannya setara denganmu sebagai seorang direktur utama," ucap Mamah Mira.


"Hah, masa mah? Mbak Sinta sekarang menjadi seorang direktur utama? oh my God, sungguh pencapaian yang luat biasa. Dari seorang pekerja cuci seterika, kini menjadi seorang direktur utama."


Misel merasa kagum dengan, Sinta.


"Itu sudah sepantasnya buat seorang gadis yang sangat baik seperti dirinya. Makanya kamu harus mencontoh Sinta, supaya kelak kamu juga sukses seperti dirinya," nasehat Mamah Mira kepada, Misel.

__ADS_1


__ADS_2