
"Sinta, jangan terlalu gelisah seperti itu ya? semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Aku juga tidak akan tinggal diam, karena kelakuan Rindu sudah keterlaluan sekali!" Mamah Mira sangat kesal pada Rindu.
"Entahlah, nyonya. Aku sama sekali tidak menyangka jika akan menjadi seperti ini. Aku pikir sudah merelakan, Mas Faisal untuk Rindu. Tetapi kenapa, Mas Faisal justru mengatakan hal yang sebenarnya pada, Rindu? aku tidak menyalahkan Rindu. Jika aku yang ada di posisinya juga akan melakukan hal yang sama, Nyonya," ucap Sinta dengan mata berkaca-kaca menahan supaya air matanya tidak tertumpah.
"Jika kamu yang ada di posisi Rindu, aku yakin kamu tidak akan melakukan hal yang sama. Tetapi akdn mengikhlaskan semuanya. Kamu ini sifatnya berbeda dengan, Rindu. Janganlah kamu terus membela Rindu yang sudah berbuat kejam padamu."
"Tidak seharusnya, dia menagih uang yang almarhum ayahnya keluarkan untuk pendidikan dirimu. Ini sesuatu yang tidak bisa di tolerir sama sekali."
Terus saja, Mamah Mira mengumpat perbuatan Rindu pada Sinta.
Sementara saat ini Rindu tersenyum sinis dalam perjalanan pulangnya.
"Ini balasan yang setimpal untukmu, Sinta. Aku akan senang sekali jika bisa melihat kamu dan ibumu meringkuk di dalam penjara dalam waktu yang cukup lama. Karena aku yakin, kamu tidak akan bisa mengumpulkan uang dua milyar hanya dalem waktu satu Minggu!"
********
Sore menjelang...
Sinta sudah ada di rumah kontrakannya, tetapi dia sedang melamun di kursi panjang yang ada di depan rumah kontrakannya.
"Apakah aku jual saja salah satu ginjalku dengan harga dua milyar? tapi apa ada yang mau beli harga ginjal sebegitu mahalnya? ataukah aku jual kesucianku saja ya, ah menjijikan sekali!"
__ADS_1
"Ya Allah, aku mohon petunjukMu..Apa yang harus aku lakukan? bagaimana caraku mendapatkan uang dua milyar hanya dalam waktu satu Minggu?"
Sinta tak kuasa lagi untuk membendung air matanya. Tiba-tiba tertumpah begitu saja. Hingga ibunya yang sempat melintas dari warung sayuran merasa heran," Nak, kenapa kamu menangis seperti ini? apakah Nyonya Mira marah padamu?"
Sinta mengusap air matanya secara gugup," nggak kok, bu. Aku hanya sedang ingat pada ayah saja, Bu."
Ibunya duduk dan menatap lekat wajah Sinta," jangan bohong, Sinta. Ibu bisa membaca apa yang ada di pikiranmu itu. Jangan menyembunyikan kesedihanmu dari, ibu. Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Ibunya sudah hapal dengan, Sinta. Hingga dia tidak bisa di bohongi begitu saja.
Akhirnya Sinta sudah tidak bisa berbohong lagi, ia pun menceritakan semuanya yang telah terjadi. Dan ibunya begitu terkejut," astaghfirullah aladzim, jadi Rindu sudah tahu semuanya dari mulut Faisal sendiri? dan dia meminta udng dua milyar dari uang yang telah almarhum ayahnya keluarkan untuk pendidikanmu? ini tidak bisa di biarkan! jika dia bertindak seperti ini, ibu juga bisa menuntut balik!"
Sinta memicingkan alisnya," apa maksudnya, Bu? aku sama sekali tidak mengerti tentang hal ini? ibu akan menuntut balik bagaimana?"
Ibunya menelusuri rumah wanita tersebut, dan ternyata wanita itu adalah Ibu dari Rindu.
"Jadi yang menyebabkan Ayah meninggal bukan karena sakit seperti yang pernah ibu katakan dulu? Kemsos ibu menyimpan rahasia ini?" tanya Sinta heran.
"Karena pada waktu itu almarhum Papahnya nya Rindu yang meminta supaya ibu menyembunyikan tentang kejadian naas tersebut."
"Beliau juga yang meminta supaya permasalahan diselesaikan dengan jalan damai. Beliau berjanji akan membiayai sekolahmu dari SD hingga sampai lulus kuliah."
__ADS_1
"Beliau juga yang meminta ibu untuk bekerja menjadi asisten rumah tangga di rumahnya. Waktu itu Ibu tidak tega melihat kondisi mamahnya Rindu yang sangat ketakutan setelah kejadian kecelakaan tersebut, kondisi jiwanya sempat tergoncang karena khawatir jika dirinya akan masuk dalam penjara dalam jangka waktu yang cukup lama."
"Ibu bukanlah seorang yang pendendam, karena menurut ibu semua yang terjadi pada ayahmu sudah menjadi suratan takdir. Bahkan almarhum Papahnya Rindu, sudah berusaha semaksimal mungkin dengan memberikan pengobatan yang terbaik pada almarhum ayahmu, tetapi Allah berkehendak lain, ayahmu meninggal dunia."
"Ibu pikir, percuma saja jika Ibu menyimpan rasa dendam dan membiarkan mamahnya Rindu masuk ke penjara. Itu tidak akan membuat almarhum ayahmu hidup kembali bukan? makanya Ibu mencoba untuk memaafkannya."
"Tetapi jika seperti ini kondisinya, ibu tidak akan terima jika Rindu mengancammu untuk mengembalikan semua uang yang telah almarhum Papahnya keluarkan untuk biaya sekolahmu. Ibu bisa membuka kembali kasus dulu, karena Ibu juga punya bukti yang kuat serta punya seorang kenalan anggota kepolisian yang bisa membantu ibu."
"Seorang anggota polisi yang tak lain adalah sahabat baik almarhum ayahmu, dulu sempat akan membawa kasus kematian ayahmu ke ranah hukum tetapi ibu menolaknya."
Sinta terperangah mendengar cerita dari ibunya. Ia sama sekali tak percaya jika selama ini ibunya menyimpan sebuah rahasia kelam di masa lalu tentang kematian almarhum ayahnya.
"Ya Allah, Bu. Aku sama sekali tak habis pikir ternyata seperti ini kisah masa lalu ibu," ucap Sinta.
"Kamu nggak usah gelisah atau khawatir lagi Sinta, Rindu tidak akan bisa menjebloskanmu ke dalam penjara. Justru sebaliknya Ibu bisa menjebloskan mamahnya Rindu ke dalam penjara dengan kasus tabrak lari hingga membuat ayahmu meninggal dunia," ucap Ibunya tegas.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah karena pada dasarnya kamu ini tidak bersalah sama sekali, Sinta. Ibu tahu bagaimana sifatmu yang sebenarnya. Seharusnya Rindu berterima kasih kepadamu, bukan malah seperti ini? seharusnya yang ia salahkan adalah Faisal bukan dirimu."
"Tiba-tiba, air mata yang tadi mereda kini tertumpah lagi. Sinta memeluk ibunya dengan erat," aku sempat bingung sekali, Bu. Karena Rindu mengancam, jika dalam waktu satu minggu, aku tidak bisa mengumpulkan uang dua miliar, dia akan memenjarakanku. Dan pada saat itu yang aku pikirkan hanyalah ibu."
"Tetapi Rindu sama sekali tidak punya belas kasihan, pada saat aku mengatakan bagaimana dengan nasib Ibuku, jika aku dipenjara. Dia malah mengatakan akan sekalian memenjarakan ibu."
__ADS_1
Sang Ibu menghela napas panjang, seraya sesekali mengusap punggung anak semata wayangnya tersebut, supaya menjadi tenang dan tidak gelisah serta panik lagi.
"Percayalah dengan apa yang barusan Ibu katakan, jika nasib kita akan baik-baik saja. Justru penjara akan mengancam kepada diri mamahnya Rindu. Kamu tenang saja Sinta, sesegera mungkin kita ke kantor Polisi untuk menemui, Om Broto. Kita bisa meminta bantuannya," ucap ibunya meyakinkan Sinta.