
Bagus bingung harus bagaimana," lantas kita harus bagaimana pah-mah?"
"Ya mau bagaimana lagi, terpaksa menunggu nomor ponsel Sinta telah aktif, baru kamu bisa menghubunginya ulang," saran Papahnya.
Dengan rasa malas Bagus pun akhirnya melangkah pergi dari ruang tengah menuju ke kamarnya.
Sementara saat ini Sinta dan ibunya telah sampai di kantor polisi. Kebetulan sekali Om Broto juga baru sampai hingga mereka bertemu di pelataran kantor polisi tersebut.
"Ya ampun, sudah lama sekali baru bertemu dengan kalian berdua. Bagaimana kabar kalian berdua?" sapa Om Broto kepada Sinta dan ibunya.
"Terakhir aku bertemu dengan Sinta, pada saat dia mau masuk sekolah dasar kalau tidak salah," ucap Om Broto.
Broto pun menanyakan ada keperluan apa Sinta dan Ibunya pagi-pagi datang ke kantor polisi. Bahkan dia mengajak Ibu dan anak ini untuk masuk dan berbicara di ruangannya supaya lebih nyaman.
Ibunya Sinta menceritakan permasalahan yang saat ini sedang dihadapi tanpa ada ditutupi sama sekali.
Broto terperangah setelah mendengar cerita tersebut," astaghfirullah aladzim, jika akan tahu seperti ini, dulu aku penjarakan saja wanita itu. Sinta, kamu nggak usah khawatir. Om akan bantu kamu, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!"
"Almarhum Ayahmu itu sahabat baik bahkan teman semasa kecil, Om juga. Makanya pada saat meninggalnya ayahmu, om merasa sangat kehilangan. Om sudah akan memenjarakan wanita yang telah menabraknya hingga meninggal, tetapi ibumu ini nggak tega malah pilih jalan damai."
"Om, sangat geram sekali mendengar tingkah anak wanita itu! sok-sokan banget sih! coba jika dia yang ada di posisimu? jika Ayahmu tidak meninggal, tentu saja kamu bisa kuliah setinggi-tingginya."
"Ayoh kita ke rumahnya sekarang juga! om sudah sangat kesal padanya!"
Hingga saat itu juga Om Broto mengajak Sinta dan ibunya ke rumah Rindu. Hanya beberapa menit saja sudah sampai di pelataran rumah Rindu.
Mamahnya yang ada di teras halaman merasa panik, pada saat melihat Broto. Karena dia sudah hapal dengan Broto.
__ADS_1
"Untuk apa aparat polisi itu datang kembari bersama Sinta dan ibunya? kenapa perasaanku mendadak tidak enak seperti ini ya? aku jadi ingat peristiwa dulu lagi," batinnya.
Tak berapa lama, Broto, Sinta dan ibunya telah ada di hadapan mamahnya Rindu.
"Sinta, kenapa kamu mengajak bapak polisi kemari?" tanya Mamahnya Rindu panik.
"Kamu tidak mengizinkan kami untuk duduk terlebih dahulu! tidak ada sopan santunnya sama sekali! ada tamu kok dibiarkan berdiri," oceh Broto.
"Silakan duduk, pak polisi."
Ketika semuanya sudah duduk dengan nyaman, barulah Sinta mengatakan apa maksud dan tujuan dirinya datang.
Sinta menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, Begitu pula dengan ibunya, dia juga ikut bercerita. Setelah mendengar semua cerita dari Sinta dan ibunya, mamahnya Rindu terperangah.
"Aku bahkan tidak tahu menahu tentang hal ini, karena Rindu sama sekali tidak bercerita apapun. Ternyata selama ini Faisal jatuh cinta padamu dan kamu sengaja pergi ke sini untuk menghindarinya?" tanya Mamahnya Rindu untuk memastikan.
"Aku san ibuku kemari bersama, Om Broto juga ingin meminta pertanggung jawaban, Tante. Yang sudah menabrak Ayahku hingga meninggal dunia. Gara-gara Tante, aku jadi tidak punya ayah. Gara-gara Tante juga, Ibuku Haris mencari nafkah sendiri. Intinya gara-gara Tante juga, kami jadi susah."
"Jika Rindu akan memenjarakan aku san Ibu. Aku juga tidak akan segan mengangkatnya kembali kasus kematian ayah. Kebetulan Om Broto yang waktu dulu menangani kasusnya tabrak lari terebut."
Mamahnya Rindu memanggil anaknya secara berteriak," Rindu cepat kemari!"
Rindu yang pada saat itu berada di kamar sedang bersiap-siap akan berangkat ke kantor, merasa heran mendengar mamahnya tiba-tiba berteriak sangat kencang.
"Ada apa sih, Mamah? pagi-pagi sudah berteriak. Dari nada teriakannya, dia sangat kesal."
Rindu cepat melangkah menuju ke teras halaman. Ia juga sempat terhenyak kaget pada saat melihat Sinta bersama ibunya dan seorang aparat kepolisian yang sangat tersohor di kota tersebut.
__ADS_1
"Untuk apa mereka datang kemari, mah?" tatapan Rindu sinis ke arah Sinta.
"Duduklah, nanti kamu akan tahu untuk apa mereka datang kemari!" ucap ketus mamahnya.
Setelah Rindu dudukz barulah mamahnya menegurnya," untuk apa kamu meminta uang dua miliar kepada Sinta?"
Rindu malah tersenyum sinis," jadi Sinta telah mengadu kepada Mamah? bahkan dia membawa Ibunya dan seorang polisi kemari? justru aku yang akan membuatnya dipenjara ,jika Sinta tidak bisa mengembalikan uang du miliar yang telah dipakai oleh almarhum Papah, untuk membiayai sekolahnya dari SD hingga kuliah. Kalau dihitung-hitung sepertinya lebih dari dua milyar."
PLAK! satu tamparan mendarat di pipi Rindu
Rindu pun memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan tersebut," mah, kenapa malah menamparku? seharusnya Mamah marah pada Sinta, karena dia telah merebut Faisal dariku!'
"Kamu sudah menikah seharusnya bisa bersikap dewasa, koreksi diri! bukan malah menyalahkan Sinta dengan pemikiranmu sendiri! Mamah saja sudah paham dari cerita Sinta dan ibunya barusan. Kamu malah mempermasalahkannya dengan meminta uang dua miliar dari Sinta. perbuatanmu ini bisa membuat Mamah benar-benar masuk ke dalam penjara!" ucapnya lantang.
"Kenapa Mamah mengatakan hal seperti itu? tidak akan mungkin mamah dipenjara, justru yang akan dipenjara itu Sinta!' ucap Rindu dengan sangat yakinnya.
Satu tamparan untukmu, apakah itu belum cukup? hingga perlu Mamah tampar lagi untuk yang kedua kalinya," ancam Mamahnya.
"Kenapa sih, Mamah seperti ini? coba jelaskan supaya aku, paham," ucap Rindu bingung dengan sikap mamahnya yang kesannya membela, Sinya.
"Biarkan saya yang menjelaskan semuanya kepadamu, hai wanita sombong!" ucap Broto kesal.
Om Broto menjelaskan segalanya kepada Rindu tentang kecelakaan yang dihadapi oleh almarhum ayahnya Sinta, karena sebuah tabrakan yang dilakukan oleh mamahnya Rindu.
"Kamu tahu jika waktu itu ibunya Sinta tega, mamahmu sudah masuk dalam penjara dalam jangka waktu yang cukup lama karena kasus tabrak lari yang mengakibatkan almarhum ayahnya Sinta meninggal dunia."
"Dan saat ini ibunya Sinta ingin membuka kembali kasus yang lama. Saya akan membawa mamahmu untuk diproses karena kebetulan saya masih menyimpan berkas-berkas dulu. Jadi hanya dalam waktu sekejap saja saya bisa menjebloskan mamahmu ke dalam penjara."
__ADS_1
"Silahkan saja kamu meminta kembali uang dua milyar, dan saya akan mengkasuskan hal ini. Jika ditelusuri keluargamu yang salah. Bayangkan saja jika pada saat itu Ayahnya Sinta tidak meninggal dunia pasti sudah bisa menyekolahkan Sinta hingga setinggi-tingginya."