
Bagus sama sekali tidak percaya dengan perkataan dan senyuman keterpaksaan dari, Sinta.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, karena aku juga pernah merasakan hal yang sama. Bedanya, aku di hianati terang-terangan. Oleh kekasih dan sahabat baikku. Bahkan aku di undang ke acara pernikahan mereka."
"Walaupun mulutmu mengatakan tidak apa-apa, tetapi aku tahu hatimu saat ini merasakan sakit yang teramat sangat. Apa tidak sebaiknya aku antar kamu pulang saja?"
Sinta pun menganggukkan kepalanya, pertanda dia bersedia diantar pulang. Tetapi mereka berinisiatif pulang lewat pintu belakang dari hotel tersebut. Karena kebetulan toilet tersebut bisa mengarah ke pintu belakang.
Terlebih dahulu Bagus mengirimkan chat pesan terhadap Mamah Mira, yang memberitahukan bahwa dirinya pergi sejenak untuk mengantarkan pulang, Sinta.
[Mah, aku pergi sebentar ya. Untuk mengantarkan Sinta pulang, karena dia terlihat sangat sedih dan terpukul pada saat melihat, Faisal dan Rindu.]
Notifikasi chat pesan tersebut langsung masuk ke dalam nomor ponsel, Mamah Mira. Iya pun langsung membacanya.
Sementara Misel, dari tadi celingukan mencari Sinta. Dan hal ini membuat Mamah Mira menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang," kamu gelisah sekali kenapa?"
"Mah, lihat Mbak Sinta nggak? masa iya ke toilet kok lama banget ya?" ucapnya memonyongkan bibirnya.
Mamah Mira mengatakan jika Sinta tiba-tiba sakit kepala dan diantar pulang oleh, Bagus.
"Yah, Mbak Sinta nggak asik banget sih? masa pulang nggak ngomong-ngomong! pergi begitu saja," protesnya kesal.
Mamah Mira mengirimkan chat pesan pada, Sinta.
[Sinta, tadi Misel mencarimu. Jadi saya mengatakan jika kamu tiba-tiba sakit kepala dan diantar pulang oleh, Bagus. Jika besok, Misel bertanya, jawab saja seperti itu ya]
Sejenak Sinta membaca chat pesan tersebut dan ia pun lekas membalasnya.
[Baiklah, Nyonya. Terima kasih.]
Beberapa jam kemudian..
Rindu juga celingukan mencari keberadaan, Sinta. Tetapi dia tak menemukan juga, hingga ia pun memutuskan untuk bertanya kepada, Faisal.
'Sayang, kok dari tadi aku tidak melihat Sinta ya? apa kamu melihatnya?"
Faisal hanya menggelengkan kepalanya, dia tak mengatakan apa pun lagi.
__ADS_1
"Iya, kemana Sinta ya? padahal mamah juga ingin bertanya dimana saat ini dia dan ibunya tinggal. Bahkan mamah ingin supaya dia dan ibunya tinggal lagi bersama dengan kita," ucap mamah Rindu.
"Rindu-Faisal, mamah ke kamar dulu ya. Karena sudah lelah sekali."
Saat itu juga, mamah Rindu melangkah ke kamar hotel yang sudah di sediakan untuk dirinya. Dan malam itu, Rindu dan Faisal juga bermalam di hotel tersebut.
"Sayang, aku juga sudah lelah. Yuk, kita ke kamar untuk istirahat."
Rindu bergelayut manja di lengan Faisal.
Sesampainya di kamar, Faisal sama sekali tidak melakukan apapun pada, Rindu. Hal ini membuat Rindu heran," ada apa ya dengan suamiku? seharusnya dia kan meminta jatah malam pertama padaku, tetapi ini kok diam saja ya? semenjak pacaran, dia juga tak pernah melakukan apapun seperti menciumku."
Rindu berganti pakaian, dan ia merebahkan dirinya di dada bidang, Faisal.
"Sayang, ini malam pengantin kita. Tetapi kok kamu sepertinya tidak bahagia? tidak ada senyuman sama sekali di wajahmu itu."
Faisal hanya menanggapi dengan dua kalimat," aku lelah."
"Hem, ya sudah. Sebaiknya kita tidur saja untuk malam ini."
Dengan rasa kecewa, Rindu pun memejamkan matanya. Padahal dia sudah membayangkan akan merasakan indahnya malam pertama bersama dengan suaminya.
*******
Esok harinya, Rindu mengajak Faisal untuk pergi honeymoon.
"Sayang, bagaimana kalau kita honeymoon? kamu mau honeymoon kemana, sayang?" rengeknya merayu.
"Maafkan aku, karena aku kebetulan sibuk di kantor sedang banyak pekerjaan. Aku tidak bisa libur terlalu lama, aku hanya izin beberapa hari saja," ucap Faisal.
Rindu begitu heran dengan sikap, Faisal. Seharusnya mereka sedang mesra-mesranya.
"Hem..ya sudah dech kalau begitu. Tapi belum waktu kita pergi honeymoon ya," ucapnya menahan rasa kesal.
Sementara saat ini, Sinta juga tetap saja murung. Dia membayangkan apa yang sedang di lakukan oleh, Rindu dan Faisal.
"Pasti saat ini, Mas Faisal dan Rindu sedang asyik-asyiknya. Bisa jadi mereka langsung pergi honeymoon. Semoga saja mereka selalu berbahagia dan langgeng selamanya, dan cepat di karuniai momongan," batinnya seraya tak sadar menitikkan air mata sembari menyeterika baju.
__ADS_1
Mamah Mira yang kebetulan melintas melihatnya begitu iba," Ya Allah, pasti hati Sinta sakit sekali. Seperti yang di rasakan oleh, Bagus pada waktu itu."
Mamah Mira menghampiri, Sinta. Dan menasehatinya," Sinta, yang sabar ya. Semoga saja kelak kamu mendapatkan ganti yang lebih baik. Saya nggak bisa ngomong apa-apa lagi."
"Ya Nyonya, Terima kasih."
Sinta mengusap air matanya.
Mamah Mira benar-benar nggak tega melihatnya, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
******
Beberapa hari kemudian....
Faisal masih saja tidak meminta di layani oleh, Rindu. Hal ini membuat Rindu heran.
"Mas, sebenarnya kami cinta nggak sama aku?" tanyanya pada saat Faisal sedang bersiap akan ke kantor.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? apa maksudnya?" Faisal malah balik bertanya.
"Kamu pasti tahu lah, nggak usah berpura-pura seperti itu. Dari kita awal menikah hingga satu Minggu bersama, kamu tidak memberikan nafkah batin padaku," ucap Rindu kesal.
Faisal pun mengatakan, rumah tangga memangnya hanya hubungan badan yang di inginkan. Itu sama saja hanya n*psu semata. Rindu pun hanya diam saja, dia bingung harus bagaimana lagi.
Faisal segera berlalu pergi ke kantor, dia bahkan tidak bersedia mengelola perusahaan penufg almarhum Papahnya Rindu. Hingga Rindu yang terpaksa memimpin di perusahaan tersebut. Faisal lebih nyaman bekerja di kantor, Bagus.
"Aneh, apakah Mas Faisal tidak normal ya? hingga tidak menginginkan hal itu. Dari awal kita menikah sama sekali dia tidak menj*ma* hku,* batinnya heran.
Beberapa menit kemudian...
Faisal sudah sampai di kantor, seperti biasa dia pun menyambangi ruang kerja, Bagus dengan wajah murung.
"Pengantin baru kok setiap hari wajahnya ngga ceria seperti itu. Seharusnya wajahnya seger, dan sumringah. Apa karena kurang itunya ya?" goda Bagus.
"Mas, aku sedang tidak ingin bercanda. Aku bahkan tidak n*psu sama sekali pada, Rindu. Dari awal pernikahan, aku tidak menyentuhnya sama sekali. Barusan dia protes tentang hal ini," ucap Faisal membuat Bagus terperangah.
"Hah, serius? jadi Rindu masih perawan? kok kamu begitu sih? jangan katakan jika kamu masih belum bisa move on dari, Sinta," ucap Bagus.
__ADS_1
"Ya, mas. Aku sama sekali belum bisa move on dari, Sinta. Mungkin bisa selamanya aku seperti ini, akan selalu cinta padanya."