Persahabatan Dan Cinta

Persahabatan Dan Cinta
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Sinta melangkah pulang, tetapi ada rasa sedih juga pada saat mendengar kata-kata dari, Bagus.


"Apakah aku bisa, membuka hatiku untuk pemuda lain? rasanya kok begini amat ya? seharusnya aku tidak jatuh cinta pada, Mas Faisal. Aku yang salah, karena memang pada awalnya Mas Faisal adalah kenalan dari, Rindu. Jadi aku tidak berhak untuk mencintainya. Siapakah aku ini?"


"Astaghfirullah aladzim, seharusnya senang karena Mas Faisal sudah tidak akan menggangguku lagi. Tetapi kenapa ada rasa sedih juga seperti ini ya?"


Rasa dilema kini menyerang diri, Sinta. Tetapi dia mencoba untuk menepis rasa cintanya pada, Faisal.


Tak berselang lama, dia telah sampai di depan rumah kontrakannya. Tetapi tak langsung masuk. Ia duduk di teras rumah terlebih dahulu. Kadang ia merasa kehidupannya begitu sulit. Harus berjuang mencari nafkah membantu ibunya. Dia menyayangkan jika Ayahnya harus pergi begitu cepatnya.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa aki tiba-tiba mengeluh seperti ini ya? Ya Allah, maafkan hamba. Nggak seharusnya hamba mengeluh, karena Engkau sudah memberikan begitu banyak rezeki padaku," batinnya.


Ibunya yang baru keluar dari ambang pintu rumah, merasa heran pada saat melihat Sinta duduk termenung dengan wajah murungnya.


"Sinta, kamu baru pulang? biasanya pulang lebih cepat, kenapa wajahmu terlihat murung seperti itu?" tanya ibunya heran.


"Nggak apa-apa kok, Bu. Hanyalah saja kebetulan hari ini mencuci dan menyetrika lumayan banyak, tidak seperti biasanya, sehingga aku pulangnya agak telat," ucap Sinta berbohong.


"Sinta, kamu pikir Ibu bisa dibodohi olehmu? Ibu sudah paham dan sudah hafal dengan raut mukamu. Ibu tahu, saat ini ada hal yang sedang kamu pikirkan yang membuatmu dilema.'


Mendengar perkataan ibunya, Sinta pun sudah tidak bisa berbohong lagi. Kemudian ia menceritakan apa yang barusan telah terjadi di rumah, Mamah Mira.


"Apa yang menyebabkan kamu murung? jika Faisal sudah bersedia untuk menerima Rindu dan move on darimu. Seharusnya kamu itu senang, jadi Faisal sudah tidak akan mengganggu hiduu lagi."


Ibunya merasa heran dengan sikap Sinta, yang seharusnya senang mengetahui Faisal sudah tidak akan mengganggu lagi.


"Bu, Mas Faisal memintaku untuk membuka hati bagi pria lain. Sedangkan aku cintanya cuma padanya. Aku nggak ingin jika berpacaran dengan bpria lain, tetapi aku tidak cinta pada pria tersebut. Kasihan juga, bukan? jika pria itu hanya di jadikan sebagai ajang pelarian semata."


Ibunya menggelengkan kepalanya," astaghfirullah aladzim, jadi itu yang meresahkan dirimu. Kamu nggak usah terburu-buru untuk mencari ganti Faisal. Jodoh sejati itu datang sendiri, tak perlulah kamu yang berusaha payah untuk mencari."


"Gunakan waktu luangmu untuk hal yang bermanfaat sehingga tidak bertumpu pada pemikiran tentang, Faisal. Jika kamu sibuk, pasti tidak akan sempat untuk melamun."

__ADS_1


Sinta mengiyakan nasehat yang di berikan oleh ibunya,"baiklah Bu. Aku akan patuhi apa yang ibu katakan barusan."


"Bagus, jika kamu menurut pada ibu. Ibu yakin suatu saat nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Pengorbananmu untuk Rindu, tidak akan sia-sia. Apa lagi keluarganya telah berjasa pada kita."


*********


Beberapa bulan kemudian...


Di saat Rindu telah lulus kuliah, dia dan Faisal sudah merencanakan untuk menikah. Persiapan demi persiapan mereka lakukan. Semua telah terencana dengan matang.


Tiba-tiba Rindu teringat pada, Sinta," mah, jika saja aku tahu keberadaan Sinta dan ibunya. Aku pasti akan memberi tahu kabar gembira ini pada mereka. Kebahagiaanku akdn semakin lengkap jika ada, Sinta."


"Coba kamu tanyakan pada, Faisal. Bagaimana kelanjutan dia dalam mencari Sinta, apakah sudah ada kabar baik atau belum. Siapa tahu saja, Faisal telah berhasil menemukan keberadaan, Sinta tetapi ia belum memberi tahu kita."


Rindu pun lekas menelpon Faisal, sesuai dengan permintaan mamahnya. Panggilan telpon langsung terhubung.


📱"Ada apa, Rindu?"


DEG DEG


Jantung Faisal berdetak kencang. Jika saat ini dia sedang bersama dengan Rindu, pasti Rindu sudah curiga dengan wajah paniknya. Untung saja hanya dalam panggilan telepon, hingga dia bisa menutupi berada gugupnya.


📱"Mas Faisal, kenapa kamu diam saja?"


📱" Maaf, baru saja ada pengamen jadi aku keluar sebentar. Oh ya, tadi kamu ngomong apa ya?"


📱" Astaga... masih muda kok sudah pelupa. Oh ya aku tahu, kamu pasti sedang panik karena kita sebentar lagi akan menikah? nggak usah di buat panik, sayang. Rileks dan santai saja."


Di balik telfon, Faisal menggerutu," justru aku tak ingin menikah denganmu. Tetapi apa daya aku tak bisa menolaknya."


📱" Mas...ya ile. Kok diam lagi sih? masa iya aku harus mengulang pertanyaanku?"

__ADS_1


📱" Nggak perlu, aku ingat kok. Kamu bertanya tentang penyelidikanku terhadap Sinta, apakah sudah membuahkan hasil atau belum? aku belum berhasil menemukan keberadaan Sinta. Jika memang sudah berhasil pasti aku sudah memberitahumu."


📱" Sayang sekali, padahal aku berharap di acara pernikahanku ada, Sinta. ya sudah Mas, terima kasih atas informasinya."


Rindupun, memutuskan panggilan teleponnya pada Faisal dengan wajah murung. Hal ini membuat mamahnya menjadi penasaran," kenapa kamu cemberut begitu?"


"Mas Faisal, belum mendapatkan informasi tentang keberadaan Sinta saat ini. Sayang sekali padahal aku sangat berharap di acara pernikahanku, Sinta turut hadir untuk turut serta mendampingiku, mah."


"Sudahlah, nggak usah terlalu bersedih. Lebih baik kamu fokus dengan persiapan pernikahanmu. Percaya saja jika suatu saat nanti pasti kamu akan bisa bertemu dengan Sinta lagi."


"Amin, semoga saja. Karena aku sudah menganggap Sinta seperti saudaraku sendiri, mah. Sampai saat onimKu masih saja menantikan bisa bertemu dengan, Sinta."


Sementara di kantor, Faisal juga sedang gelisah," jika pria lain di posisiku pada saat ini pasti akan merasakan bahagia sekali dengan moment pernikahan. Tetapi justru aku merasa sedih dan tidak ada sedikitpun kebahagiaan di dalam hidupku."


Tok tok tok tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Masuklah!"


Pintu ruang kerja tersebut dibuka perlahan oleh seorang pemuda yang ternyata adalah, Bagus.


"Astaga, Mas Bagus. Pakai mengetuk pintu segala. Kayak Nggak biasanya langsung masuk saja," goda Faisal.


"Bagaimana dengan persiapan untuk pernikahanmu, Faisal? apakah perlu bantuan?" tanya Bagus.


"Alhamdulillah semua persiapan berjalanan lancar, sudah tidak ada kekurangan apapun, tinggal menunggu hari h-nya saja."


"Kenapa wajahmu terlihat bersedih dan murung seperti itu? Apa kamu masih saja memikirkan, Sinta?" tanya Bagus menatap menyelidik ke wajah murung Faisal.


"Barusan Rindu menelpon menanyakan tentang keberadaan, Sinta. apakah aku telah berhasil menemukan di mana saat ini, Sinta bertempat tinggal."

__ADS_1


"Aku mengatakan padanya jika belum berhasil menemukan tempat tinggal Sinta yang baru. Di dalam hatiku tidak ada rasa bahagia, Mas Bagus. Padahal menjelang pernikahanku, tetapi otakku masih saja bertumpu pada, Sinta."


__ADS_2