
Esok harinya, Faisal sudah dinyatakan boleh pulang ke rumah. Tetapi perasaan hatinya tak menentu setelah perkataan Rindu pada saat berada di rumah sakit.
Sesuai dengan keinginannya, Rindu juga membawa pulang seorang perawat untuk merawat segala kebutuhan, Faisal.
"Sejak aku tahu bahwa ternyata, Mas Faisal tidak mencintaiku sama sekali. Entah kenapa diriku menjadi ilfil padanya. Bahkan ingin lekas berpisah darinya," batin Rindu terus saja bergumam.
Sikapnya benar-benar berubah, bahkan dia tidak menginginkan dirinya tidur bersama dengan Faisal. Walaupun dirinya sama sekali tidak pernah di sentuh oleh suaminya tersebut.
"Mas Faisal, kamu tidur di kamar tamu ya. Karena aku tidak ingin terganggu pada saat tengah malam kamu ingin ke kamar mandi. Dan aku harus mengantarmu.".
Perkataan yang barusan di katakan oleh Rindu, benar-benar menyakiti hatinya," kenapa sekarang kamu berubah seperti ini?"
"Tanyakan pada dirimu sendiri kenapa juga aku seperti ini. Aku sungguh kecewa padamu, karena ternyata selama ini kamu tidak cinta padaku malah cinta pada Sinta. Waktuku terbuang-terbuang seperti ini," ucap ketus Rindu.
"Ter buang-buang bagaimana maksudmu?" Faisal sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Rindu.
"Masih saja kamu menanyakan apa yang barusan aku katakan? masa iya kamu tidak mengerti jika saja kamu dari awal jujur bahwa tidak cinta padaku tak mungkin pernikahan ini akan terjadi. Aku pasti akan lebih bahagia hidup tanpamu, karena selama aku hidup bersamamu justru aku tidak merasa bahagia karena sikap dinginmu kepadaku."
"Sudahlah, tak perlu banyak pertanyaan lagi. Intinya aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengurus perceraian kita. Karena aku juga masih punya hati nurani, tidak mungkin melakukan gugatan cerai di saat kondisimu masih seperti ini. Aku hanya berharap supaya dirimu lekas pulih, penglihatannya bisa normal kembali. Karena aku sudah ingin mengurus perceraian."
"Jujur saja, aku begitu kecewa karena merasa telah dibohongi olehmu dan Sinta. Terlalu besar rasa cintaku padamu, sehingga aku tidak peka jika ternyata di belakangku kalian saling mencintai."
Setelah mengatakan banyak hal, Rindu meminta sang perawat untuk memapah Faisal menuju ke kamar tamu. Dan juga mengemasi pakaian Faisal yang masih ada di kamar utama.
"Sus, kamu antar suamiku ke kamar tamu. Setelah itu kamu ke kamarku untuk mengemasi semua pakaiannya dan membawanya ke kamar tamu ya!"
__ADS_1
"Baiklah, Nona Rindu. Mari, Den Faisal saya antar ke kamar tamu."
Sang perawat menuntun Faisal secara perlahan-lahan menuju ke ruang tamu. Setelah itu dia mengamati semua pakaian Faisal yang ada di kamar Rindu.
Sedangkan Rindu saat ini melamun di balkon kamarnya," aku tidak akan memaafkan Sinta setelah apa yang dia lakukan padaku. Sudah jelas, aku yang berkenalan dengan, Mas Faisal. Kenapa tiba-tiba dia malah jatuh cinta padanya? lihat saja Sinta, aku akan mencarimu tetapi untuk membuat perhitungan."
"Kamu benar-benar sungguh keterlaluan karena sudah mencuri perhatian, Mas Faisal. Padahal selama ini orang tuaku sudah baik padamu dan ibumu. Secepatnya aku pasti bisa menemukan keberadaan dirimu, Sinta.Dan setelah itu, aku akan membuatmu hancur sehancur hancurnya."
"Supaya kamu juga merasakan apa yang telah aku rasakan saat ini. Aku juga ingin kamu merasakannya, Sinta. Aku menderita karenamu, kamu juga harus merasakan penderitaanku ini."
Kini di dalam hati Rindu telah dirasuki rasa kebencian bukan hanya terhadap Faisal tetapi juga terhadap Sinta.
Sementara saat ini di rumah Bagus, Sinta juga sedang memikirkan kondisi Faisal. Kali ini dia berani untuk bertanya kepada Bagus.
"Oh iya, aku lupa mengatakannya padamu bahwa Faisal sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Tetapi kondisinya belum stabil, belum pulih. Saat ini dia tidak bisa melihat dan harus menjalani operasi mata, tetapi menunggu kondisi fisiknya pulih terlebih dahulu. Itulah informasi yang aku dapatkan."
Sinta merasa iba, pada saat mendengar Faisal tidak bisa melihat," apa yang mengakibatkan Mas Faisal tidak bisa melihat, Den?"
Bagus menjelaskan bahwa pecahan kaca mobil yang melukai mata, Faisal. Yang membuat Faisal tidak bisa melihat.
"Astaghfirullah aladzim, kasihan sekali Mas Faisal. Semoga saja, dia lekas pulih hingga lekas di operasi matanya."
Mendengar perkataan Sinta, Bagus merasa kagum akan perhatian Sinta pada Faisal," Sinta, apakah kamu masih mencintai Faisal?"
DEG!
__ADS_1
Sinta langsung berdebar jantungnya, pada saat Bagus menanyakan tentang perasaannya terhadap Faisal.
Dia bingung harus mengatakan apa, karena pada hakekatnya dia memang masih sangat mencintai Faisal dan belum bisa melupakan cintanya tersebut.
Hingga pada akhirnya dia pun berbohong tentang perasaannya terhadap Faisal," Den Bagus, sejak Mas Faisal menikah dengan Rindu, perasaan ini sudah tidak ada lagi untuknya. Karena aku juga tahu diri, tidak mungkin selamanya menyimpan rasa cinta kepada seseorang yang tidak bisa dimiliki."
"Aku tahu, Sinta. Jika kamu barusan berbohong padaku, karena dari caramu bertanya dan dari ekspresi wajahmu itu membuktikan bahwa kamu masih sangat mencintai Faisal."
"Betapa beruntungnya Faisal, dia mendapatkan dua cinta sekaligus. Sedangkan aku hingga detik ini tidak ada satupun wanita yang benar-benar tulus mencintaiku apa adanya. Kebanyakan wanita yang aku kenal hanya mengincar hartaku saja, supaya mereka bisa dengan mudah berbelanja berfoya-foya."
Sejenak Bagus malah berkata sendiri di dalam hatinya. Dia tidak munafik, ingin sekali merasakan kasih sayang seorang wanita, tetapi sampai detik ini belum ada satu wanita pun yang benar-benar tulus mencintainya.
Setiap wanita yang mendekatinya hanya memanfaatkannya saja, selalu meminta barang-barang yang mewah. Tapi setelah para wanita tersebut mendapatkan apa yang diinginkannya, mereka berlalu pergi begitu saja dari kehidupan Bagus.
Ini yang membuat Bagus benar-benar trauma jika dekat dengan para wanita. Ia memutuskan untuk tidak membuka hatinya bagi wanita manapun karena menurutnya hanyalah percuma dan kesia-siaan belaka.
Hidupnya hanya untuk bekerja mengurus perusahaannya yang sangat besar. Dan mengabdikan dirinya seutuhnya untuk orang tua dan adiknya saja.
"Den, aku permisi. Akan kembali bekerja ya, terima kasih atas informasinya."
Pamitnya Sinta, mengagetkan lamunan Bagus," Iya Sinta, sama-sama."
Saat itu juga Sinta melangkah pergi dari hadapan Bagus dan lanjutkan pekerjaannya yang sejenak terhenti karena rasa penasarannya yang tinggi untuk mengetahui kondisi Faisal.
"Semoga saja Rindu terus memperhatikan dan benar-benar mengurus Mas Faisal yang saat ini kondisinya masih sakit. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Faisal, mengalami cobaannya yang menurutku terlalu berat seperti ini."
__ADS_1