
Sementara Sinta yang sedang asik duduk bersama ibunya di depan rumah kontrakan, mendadak kaget karena kedatangan seorang pria yang tak di kenalnya.
"Hay Sinta-Tante, boleh gabung kan?"
Sapaaan yang sok akrab tersebut membuat Sinta dan ibunya saling berpandangan satu sama lainnya.
"Tante, masa lupa sama aku? oh ya, dulu kita bertemu pada saat aku masih kecil ya? jadi Tante lupa sama aku," ucap pemuda gagah berperawakan tinggi tegap tersebut seraya terkekeh.
"Maaf, siapa sih ya? aku benar-benar lupa," ucap ibunya Sinta.
"Tante, aku ini anak sulung dari Ayah Broto. Sahabat almarhum ayahnya Sinta," ucapnya mencoba mengingatkan ibunya Sinta.
"Astaghfirullah aladzim, Dewa? benarkah kamu Sadewa? ya Allah, kamu gagah dan tampan sekali. Bagaimana kabarmu, nak?"
"Sinta, ini anak sulung Om Broto. Dia ini semasa kecil suka sekali ikut kemana saja Om Broto pergi."
Sejenak Sinta dan Sadewa berkenalan satu sama lain.
"Umur kalian terpaut lebih tua , Nak Dewa dua tahun. Ibu ingat betul pada saat ibu baru melahirkan kamu, Om Broto dan istri jenguk ke rumah bawa, Nak Dewa."
Sejenak ibunya Sinta terkekeh pada saat mengingat masa lalu tersebut. Sontak dia baru ingat, belum mempersilahkan duduk, Dewa.
"Astaghfirullah aladzim, duduklah Nak Dewa.. Maafkan Tante ya, sampai lupa nggak memintamu duduk," ucapnya terkekeh.
Sadewa duduk di hadapan Sinta dan ibunya. Dia mengatakan apa maksud dan tujuannya datang," Tante-Sinta, aku datang kemari atas permintaan ayah. Untuk membantu Sinta mendaftar ke kampus lagi, karena sayang juga beberapa bulan saja kok berhenti."
"Tapi bagaimana dengan ibu, jika aku melanjutkan kuliahku? biarkan saja aku seperti ini, Mas Dewa," ucap Sinta.
"Jangan seperti itu, Sinta. Karena
ayahmu pernah berpesan supaya kamu menjadi orang sukses dan juga berpendidikan tinggi."
"Kamu pasti mencemaskan pekerjaan ibu, bukan? nanti bisa diatur waktunya kapan kamu kuliah dan kapan kamu bantu ibu, nggak usah terlalu memikirkan ibu. Lagi pula hanya beberapa bulan saja, bukan?"
__ADS_1
Ibunya terus saja menasehati Sinta, hingga pada akhirnya Sinta pun bersedia menuruti perkataan ibunya. Saat itu juga dia ke kampus dimana dulu dia kuliah.
Dengan di temani oleh, Sadewa.
"Sinta, kenapa baru kemari? pihak kampus sangat menyayangkan dirimu yang tiba-tiba berhenti kuliah tanpa ada pemberitahuan darimu. Kamu hilang begitu saja, nak di telan bumi," ucap sang dekan.
"Oh iya, Nak Dewa. Bagaimana kamu bisa kenal dengan, Sinta?"
Ternyata sang dekan sudah hapal dengan, Sadewa. Hingga tak sulit bagi Sinta untuk bisa melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda. Supaya bisa mendapatkan gelar sarjana ekonomi.
Sejenak Sadewa bercerita bagaimana dia bisa mengenal Sinta. Hingga sesekali dekan dan Sadewa saling terkekeh.
"Boleh kan om, jika Sinta kembali melanjutkan kuliahnya? nanti urusan biaya biar ayah yang tanggung," ucap Sadewa.
"Sangat boleh, justru kami merasa sangat kehilangan pada saat, Sinta tiba-tiba menghilang bK di telan bumi," ucapnya tersenyum ramah.
"Sinta, sangat di sayangkan sekali. Padahal waktu itu, pihak kampus sudah mempersiapkan sesuatu untukmu, yakni akan merekomendasikan dirimu ke sebuah perusahaan ternama di kota ini. Supaya begitu kamu lulus, segera mendapatkan pekerjaan yang layak. Tapi berhubung kamu tiba-tiba hilang, kesempatan itu juga sudah hilang dan tidak berlaku lagi," ucap sang Dekan.
Setelah cukup lama bercengkrama di ruang dekan, Sinta dan Sadewa berpamitan pulang.
"Bagaimana nggak kenal, Dekan tadi rumahnya samping rumahku persis. Sebelum kita kemari, ayah sudah menemuinya di rumah. Dan kita kemari hanya sebagai formalitas saja.".
Entah kenapa, Sinta bisa dengan mudahnya akrab pada, Sadewa. Padahal dia terkenal sebagai seorang gadis yang sangat pendiam.
Tetapi pada saat di samping Sadewa, dia berani bercerita dan bertanya. Padahal baru pertama kalinya bertemu.
"Aneh, kenapa aku seperti ini pada Mas Dewa ya? tanpa ada rasa malu kepo padanya? bibir ini nyerocos bak tidak ada remnya sama sekali, memalukan!" batinnya kesal.
"Mas Dewa, aku minta maaf ya?"
Sadewa heran, kenapa juga tiba-tiba Sinta meminta maaf padanya," Maaf? memangnya kamu melakukan kesalahan apa?"
"Aku terlalu lancang bertanya banyak hal padamu. Padahal kita baru bertemu, tetapi aku sok akrab," ucap Sinta dengan polosnya.
__ADS_1
Hal ini justru membuat Sadewa terkekeh," astaghfirullah aladzim, aku pikir apa? justru aku suka sikapmu yang seperti ini. Lagi pula ini kan masih wajar."
********
Esok harinya, Sinta datang ke rumah mewah Bagus.
"Sinta, syukurlah kamu datang. Selamat ya, akhirnya permasalahanmu selesai juga," ucap Mamah Mira.
"Alhamdulillah, nyonya. Oh ya, mohon maaf nyonya. Saya datang kemari karena ada hal penting yang ingin saya katakan."
"Katakan saja, Sinta.. Nggak perlu sungkan."
"Begini, Nyonya. Mulai besok saya akan melanjutkan kuliah yang sempat tertunda. Dan mungkin tidak bisa datang bekerja telat waktu."
"Intinya begini, nyonya. Jika pada saat saya jadwal kuliah sore, pagi saya datang kemari. Jika saya kuliah jadwal pagi, sore saya baru bisa kemari."
"Kira-kira masih bisa nggak ya, saya bekerja di sini dengan jadwal bekerja tak menentu seperti itu? tetapi jika memang nyonya keberatan, ya saya terpaksa berhenti bekerja di sini."
Mamah Mira tersenyum," Alhamdulillah. Akhirnya kamu memutuskan hal yang baik untuk masa depanmu. Padahal saya dan Bagus juga sempat menyayangkan kuliahmu yang sempat terputus tersebut. Nggak apa-apa, Sinta. Saya nggak akan keberatan..
Justru pintu rumah saya selalu terbuka untukmu. Mau kamu berangkat kerja pagi atau sore sama saja."
"Tetapi bagaimana dengan jadwal Les, Misel? karena dia nggak mau di ajar les oleh guru yang lain," ucap Mamah Mira bingung.
Tapi Sinta tetap akan mengajar les pada Misel, walaupun dia bisanya sehabis Maghrib. Di saat waktu luangnya. Karena dia tidak ingin kehilangan sumber keuangan.
Setelah cukup lama berada di rumah Mamah Mira, Sinta berpamitan pulang. Dan pada saat pulang, ibunya langsung menegurnya," Sinta, kamu darimana? padahal ada hal yang ingin ibu katakan padamu. Biasa pergi pamit, ini sama sekali nggak pamit ke ibu?"
"Maafkan aku ya, Bu. Tadi ibu aku cari-cari nggak ada, jadi aku pergi begitu saja. Memangnya ada apa sih, Bu? kok wajahnya terlihat sangat serius sekali?" Sinta terus saja menatap ke wajah ibunya.
"Hestah, kok cara menatapmu seperti itu sih? begini Sinta, apakah nggak sebaiknya ibu saja yang menggantikan pekerjaan mu di rumah, Nyonya Mira?"
Sinta terkekeh," oalah... sudah telat Bu . Karena baru saja aku dari rumah, Nyonya Mira. Aku barusan membicarakan tentang pekerjaanku yang akan aku kerjakan setelah selesai kuliah."
__ADS_1
"Ibu juga nggak usah bekerja yang berat-berat, biar ini aku yang melakukannya."