Persahabatan Dan Cinta

Persahabatan Dan Cinta
Tetap Pada Pendirian


__ADS_3

Faisal hanya diam saja pada saat Sinta mengatakan banyak hal. Di dalam hatinya dia juga membenarkan apa yang barusan dikatakan oleh Sinta, Tetapi dia juga tidak mengingkari bahwa dirinya tidak bisa berpura-pura untuk mencintai, Rindu. Karena di dalam hatinya sudah terukir nama, Sinta.


"Kenapa kamu diam saja, mas? jika kamu masih berkeras hati ingin tetap bersamaku, aku akan kembali pergi menjauh darimu. Karena aku tidak ingin menyakiti hati, Rindu dan mamahnya."


"Tiba-tiba Faisal memanggil Bagus," Mas, bisakah kemari sebentar?"


Bagus yang sedang bersama mamah Mira, segera menghampiri Faisal. Sedangkan Mamah Mira, memutuskan untuk tidak ikut campur. Ia melangkah pergi dari paviliun belakang menuju ke teras halaman.


"Ada apa, Faisal? aku tidak ingin ikut campur dalam permasalahan kalian berdua."


Belum juga Faisal menjawab, Sinta memberanikan diri berkata," Den Bagus, sudah termasuk turut campur."


"Den Bagus, mengatakan tidak ingin turut campur dalam permasalahan kami? tetapi secara tidak langsung, Den Bagus telah turut campur karena memberitahu keberadaanku pada, Mas Faisal."


"Seharusnya, Den Bagus tidak melakukan hal itu. Aku jadi tak nyaman seperti ini, padahal aku sudah tenang."


Bagus pun baru menyadari jika dirinya memang salah," aku minta maaf ya, Sinta. Aku juga tidak berniat seperti ini, aku pikir gadis yang di cari oleh Faisal bukanlah kamu. Sehingga pada saat ia ingin bertemu denganmu, aku izinkan. Baiklah, sebagai permintaan maaf dariku. Apa pun akan aku lakukan demi kamu, Sinta. Sebagai penebus kesalahanku," ucap Bagus.


"Entahlah, Den. Karena semua sudah terjadi," ucap Sinta kecewa.


"Sinta, kamu nggak usah menyalahkan Mas Bagus. Karena dia tak bersalah apa pun," bela Faisal.


Sinta hanya diam saja, bahkan dia meminta pada Faisal untuk tidak mengganggu dirinya. Karena dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Sinta benar-benar marah baik pada Bagus juga pada Faisal.


"Mas Bagus, Sinta marah. Aku bingung jika seperti ini. Padahal aku senang sekali bisa bertemu dengannya lagi. Dia mengancam akan pergi lagi dari kota ini."

__ADS_1


Bagus juga tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia pun diam seolah sedang berpikir.


"Aku juga bingung, Faisal. Aku juga merasa bersalah padanya. Rasa empatinya pada Rindu begitu besar. Jarang ada seorang gadis yang mengorbankan cintanya demi gadis lain." ucap Bagus.


Sementara Sinta entah kenapa sudah tidak bisa lagi menahan rasa marahnya. Dia pun memutuskan untuk risgn dari rumah Bagus. Dia menemui Mamah Mira yang ada di teras halaman.


"Maafkan saya, Nyonya Mira. Saya ingin berhenti sekarang juga, maaf bila selama ini saya punya banyak salah."


Sinta menangkupkan kedua tangannya di dada.


Mamah Mira merasa heran kenapa tiba-tiba, Sinta memutuskan untuk berhenti bekerja di rumahnya.


"Sinta, kamu tidak pernah bersalah. Pekerjaanmu luar biasa rapi, bagus. Apa ada yang menyinggung perasaanmu hingga kamu tiba-tiba ingin berhenti? apa karena kedatangan, Faisal?" tanya Mamah Mira.


Akhirnya Sinta pun mengatakan sejujurnya kepada, Mamah Mira. Dia sudah susah payah menjauh dari Faisal, tetapi malah bertemu disini.


"Astaghfirullah aladzim, Sinta. Saya tahu niatmu baik. Tetapi mau sampai kapan kamu terus saja menghindar dari permasalahanmu, dengan selalu berpindah tempat dari kota satu ke kota yang lain."


"Sinta, kamu harus menghadapi masalah bukan malah lari dari masalah. Taklukan masalahmu itu, mohon maaf ya jika kesannya saya ini menggurui."


"Berpikirlah lagi, kasihan Ibumu bukan? Jika harus terus berpindah-pindah seperti itu. Nanti saya akan menasehati Faisal, supaya tidak terlalu dekat denganmu. Saya mohon jangan seperti ini ya, Sinta. Bagaimana dengan, Misel? dia pasti akan merasa sangat kehilangan jika kamu pergi dari sini."


Hingga pada akhirnya, Sinta pun mengurungkan niatnya untuk risgn dari rumah, Mamah Mira.


"Baiklah, nyonya. Saya akan mendengarkan nasehat nyonya, dan tidak akan berhenti bekerja dari rumah ini. Saya permisi, nyonya. Ingin melanjutkan pekerjaan saya kembali."


Saat itu juga, Sinta pun berlalu pergi dari hadapan Mamah Mira. Mamah Mira menatap kepergian Sinta seraya menggelengkan kepalanya," hem, ada-ada saja masalah anak muda."

__ADS_1


Sinta melanjutkan pekerjaannya di paviliun belakang, akan tetapi hatinya tak tenang setelah bertemu dengan Faisal. Jujur saja di dalam hatinya ada rasa senang bisa bertemu dengan pemuda yang dicintainya. Tetapi di dalam hatinya juga ada rasa cemas, jikalau Rindu suatu saat nanti, tahu tentang perasaan Faisal yang sebenarnya kepada dirinya.


"Ya Allah, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk memberikan pengertian kepada Mas Faisal supaya dia tidak mendekatiku lagi. Aku rela berkorban merasakan sakit hatiku ini demi kebahagiaan, Rindu. Apakah aku harus mencari seorang pemuda yang lain untuk berpura-pura menjadi pacarku? supaya Mas Faisal membenciku, hingga dia tidak lagi berharap padaku?"


Di dalam hati Sinta begitu dilema, memikirkan hal itu. Dia tidak ingin merebut kebahagiaan Rindu.


*******


Menjelang pukul tiga sore, Sinta berpamitan pulang pada Mamah Mira. Dia akan kembali lagi, jika Misel sudah pulang dari sekolah, untuk memberikan les.


Pada saat Sinta akan melangkah pulang, Bagus sudah ada di hadapannya," Sinta, aku ingin bicara sebentar denganmu. Tolong luangkan waktumu ya."


"Den Bagus, aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Semua sudah jelas, dan aku juga harus buru-buru pulang ke rumah. Pasti Ibuku sudah menungguku."


Tetapi Bagus tak bergeming dari berdirinya, hingga Sinta sama sekali tidak bisa melangkah.


"Sinta, please. Sebentar saja."


Akhirnya Sinta pun duduk di teras halaman. Begitu juga dengan Bagus.


"Sinta, tolong jangan bersikap seperti ini padaku. Aku sudah menasehati, Faisal. Dan dia berjanji untuk tidak mendekati dirimu lagi. Dia juga tidak akan mengatakan pada, Rindu tentang keberadaanmu di kota ini."


"Faisal juga berkata, dia akan menuruti kemauanmu dengan dia kelak menikah dengan Rindu jika Rindu telah lulus kuliah. Hanya satu pintanya, supaya kamu jangan menjauh lagi dengan kabur dari kota ini."


"Dan Faisal memintamu untuk membuka hatimu untuk pemuda lain, supaya dia juga tidak merasa bersalah padamu karena dia akan menikahi, Rindu kelak."


Sinta menghela napas panjang," Alhamdulillah jika, Mas Faisal benar-benar berkata seperti itu. Terima kasih, Den Bagus. Sudah kan nggak ada lagi yang ingin di bicarakan? saya permisi pulang."

__ADS_1


__ADS_2