Persahabatan Dan Cinta

Persahabatan Dan Cinta
Faisal Sadar


__ADS_3

Para pengemudi kendaraan yang lain, yang sempat melihat kejadian tersebut, segera berbondong-bondong menolong, Faisal.


Ada yang menelpon aparat kepolisian, ada yang langsung membawa ke rumah sakit, dan ada juga yang menghubungi anggota keluarganya.


Sementara Sinya seperti bisa merasakan apa yang tengah terjadi pada, Faisal. Tiba-tiba tangannya terkena seterika, dan dadanya begitu berdebar-debar.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa tiba-tiba aku teringat pada, Mas Faisal ya? semoga saja tidak terjadi hal buruk padanya," gumamnya seraya meniup tangan yang terkena seterika.


Hal ini bisa di lihat oleh, Bagus. Yang kebetulan dirinya datang lagi ke paviliun belakang untuk mengambil handuk yang sudah di seterika.


"Ya ampun, Sinta. Pasti kamu melamun ya, hingga tanganmu terkena seterika? nanti dulu akan aku ambilkan obat untuk luka bakar sebentar ya."


Dengan gerak cepat, Bagus berlari kecil menuju rumahnya untuk mengambil obat untuk luka bakar. Hanya sebentar saja, Bagus sudah ada di hadapan, Sinta.


"Biar aku sendiri yang mengolesinya, Den."


"Sudah diam saja, biar aku saja."


Bagus dengan lemah lembut, mengolesi tangan Sinta yang terluka bakar. Mereka begitu dekatnya, dan tanpa sadar saling berpandangan satu sama lain. Sejenak keduanya tidak berkedip.


"EHEM"


Satu suara mengagetkan keduanya, dan Bagus segera melepaskan pegangan tangannya pada, Sinta. Dan Sinta juga melepaskan tangannya dari, Bagus.


"Mamah, bikin kaget saja dech. Mamah jangan berpikiran yang tidak-tidak loh ya? karena aku hanya menolong, Sinta saja. Tangannya terluka karena seterika," ucap Bagus salah tingkah.


"Waduh, kamu sudah berprasangka buruk pada mamah ya? mamah nggak melarang kok, jika memang kalian saling.... hhee," goda Mamah Mira.


"Nyonya, apa yang Dem Bagus katakan benar kok. Dia hanya menolongku saja," ucap Sinta membenarkan apa yang dikatakan oleh, Bagus.


"Iya, Sinta. Lagi pula kenapa kamu bisa sampai ceroboh seperti itu, hingga terkena seterika?"


Sinta diam sejenak, dia tak mungkin menceritakan kegelisahan hatinya tentang, Faisal. Hingga dia mencari alasan yang lain.


"Anu, nyonya. Yang namanya. pekerjaan apapun pasti ada resikonya bukan? tukang seterika ya kena seterika, tukang listrik ya resiko kesetrum listrik. Bukannya seperti itu."

__ADS_1


Mamah Mira hanya menganggukkan kepalanya perlahan, dan dia menatap ke arah Bagus," mamah mau mengajakmu ke rumah sakit. Karena barusan ada yang menelpon mamah."


"Rumah sakit, memangnya siapa yang sakit?" tanya Bagus penasaran.


Mamah Mira menceritakan pada Bagus bahwa barusan dirinya mendapatkan telpon dari orang tua Faisal. Dimana Faisal saat ini di rumah sakit, karena alami kecelakaan tunggal.


"Astaghfirullah aladzim, padahal dia tadi dari sini. Untuk bertemu dengan, Sinta. Tetapi aku mengatakan jika Sinta sudah tidak bekerja lagi di sini. Ya sudah, kira ke rumah sakit sekarang saja, mah."


Bagus merangkul Mamahnya seraya membawanya melangkah pergi dari paviliun belakang. Sementara Sinta menitikkan air matanya.


"Ya Allah, ternyata perasaanku yang tak enak hati karena terjadi hal buruk pada, Mas Faisal. Ya Allah, semoga saja kondisinya baik-baik saja. Ingin rasanya aku menjenguknya, tetapi itu tidak mungkin. Yang ada Rindu akan curiga padaku. Hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk kesembuhan, mas Faisal."


Saat ini Rindu dan mamahnya serta kedua mertuanya juga sudah ada di rumah sakit. Kondisi Faisal saat ini masih belum sadarkan diri. Matanya di balut kain perban, karena terkena pecahan kaca depan mobil.


"Ya Allah, kenapa semua ini bisa terjadi pada Mas Faisal? padahal pad saat dia pergi tidak sedang marah," batin Rindu menangis panik.


Dia sangat cemas dan khawatir terjadi hal buruk pada suaminya. Begitu pula dengan orang tua Faisal.


"Rindu, memangnya Faisal barusan pergi kemana?" tanya Mamah mertuanya.


"Mah, Mas Faisal tidak mengatakan apapun. Hanya pamit, ingin keluar sebentar,' jawab Rindu.


Ucap Bagus yang tak sengaja mendengar pertanyaan yang di lontarkan kepada, Rindu.


"Terus, selama bersamamu. Apakah Faisal bercerita sesuatu, bisa jadi dia mengalami kekecewaan atau kekesalan hingga tidak mengontrol pada saat mengemudikan mobilnya," ucap Papahnya.


"Tidak cerita apa pun kok, Pakde. Kami cerita ringan saja, cerita biasa saja," ucap Bagus tidak mengatakan jika Faisal datang ingin menemui Sinta.


"Mbakyu-Mas, apa yang menimpa Faisal itu bisa jadi karena musibah. Misal mendadak rem blong, hingga laju mobil tidak bisa di kendalikan. Namanya mau kema musibah, kita tidak akan pernah tahu," ucap Mamah Mira.


********


Beberapa saat kemudian....


Semua kembali ke rumah masing-masing, hanya Rindu dan Mamahnya saja yang ada di rumah sakit.

__ADS_1


"Mah, kok Mas Faisal nggak sadar-sadar ya?"


"Rindu, positif thinking saja. Nggak usah panik atau cemas seperti itu. Yakin saja bahwa, Faisal akan baik-baik saja."


Rindu berusaha untuk tidak panik sesuai dengan saran, mamahnya. Dan pada saat dirinya diam begitu juga mamahnya. Tiba-tiba Faisal sadar seraya mengigau.


"Sinta....aku mohon jangan pergi... aku sangat mencintaimu...Sinta..."


Rindu dan Mamahnya saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.


"Rindu, kenaoa suamimu memanggil nama Sinta?" tanya Mamahnya heran.


"Mah, itu di bahas nanti saja. Aku akan panggil dokter dulu."


Sinta memencet tombol yang ada tepat di atas brankar dimana saat ini Faisal sedang berbaring.


Tak berapa lama, datdbg satu dokter dan satu perawat. Dokter segera memeriksa kondisi, Faisal.


"Kondisinya belum begitu stabil, dan kita juga belum bisa membuat kain perban di matanya. Paling besok pagi," ucap sang dokter.


Tak berapa lama...


Setelah dokter dan perawat selesai mengecek kondisi kesehatan, Faisal. Mereka segera pamit pergi karena harus memeriksa pasien yang lain.


"Sinta, kamu dimana Sinta? ada apa dengan mataku ini, Sinta?" Faisal terus saja memanggil nama Sinta hal ini membuat Rindu semakin curiga.


"Mas, kamu sedang ada di rumah sakit. Karena beberapa jam yang lalu alami kecelakaan. Mas, kenapa kamu memanggil, Sinta dari tadi?"


"Iya, Faisal. Istrimu itu Rindu, bukan Sinta."


Sejenak Faisal terdiam, mendengar istri dan Ibu mertuanya berkata.


"Ya ampun, kenapa aku sudah tidak bisa mengontrol rasa ini pda, Sinta? bagaimana ini, karena Rindu sudah mendengarnya?" batinnya mulai cemas.


Rindupun semakin penasaran, ia ingin bertanya banyak hal tetapi ada mamahnya. Hingga ia meminta Mamahnya untuk sejenak memberinya kesempatan untuk berbicara empat mata dengan, Faisal.

__ADS_1


"Mah, tolong Mamah keluar sebentar karena aku ingin berbicara pada, Mas Faisal. Sekalian minta tolong, hubungi orang tuanya, dan katakan jika saat ini Mas Faisal sudah sadarkan diri."


Mamahnya menuruti kemauan, Rindu. Ia segera melangkah keluar dari rumg rawat tersebut.


__ADS_2