
Sinta sejenak diam pada saat mendapatkan tawaran bagus dari, Om Broto. Dia menatap ibunya seolah meminta saran.
"Semua terserah kamu saja, Sinta. Ibu tidak ingin memaksakan kehendak ibu," ucapnya karena tahu arti tatapan matanya.
"Sinta, lagi pula waktu itu kuliahmu hanya kurang beberapa bulan saja bukan? di lanjutkan saja, nanti Om bisa membantu bicara pada dekan di kampus tempatmu kuliah. Kalau kamu merasa canggung, biar nanti anak om yang bantu kamu juga nggak apa-apa."
Terus saja Broto membujuk Sinta untuk bersedia menerima tawaran darinya. Karena dia menyayangkan pendidikan Sinta yang hanya kurang beberapa bulan saja.
Belum juga Sinta menjawabnya, malah sudah sampai di pelataran kontrakan rumahnya.
"Om, nanti aku kabari jika aku sudah ambil keputusannya ya. Mohon maaf, aku belum bisa memutuskan sekarang."
Sinta menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Ya nggak apa-apa, Sinta. Ya sudah om pamit ya, mau langsung ke markas besar kepolisian."
"Mas Broto, terima kasih dan hati-hati ya," ucap ibunya Sinta.
__ADS_1
Broto hanya merespon dengan anggukan kepalanya seraya tersenyum. Ia pun lekas melajukan mobilnya arah ke markas besar kepolisian.
Sinta masuk rumah seraya merangkul ibunya," Alhamdulillah, akhirnya urusanku dengan Rindu selesai juga. Semua ini berkat ide brilian ibu. Terima kasih ya, ibuku sayang."
Sinta memeluk ibunya penuh haru, sedangkan ibunya membalasnya dengan sesekali mengusap punggungnya.
"Semua ini berkat bantuan Allah, Ia yang telah memberikan petunjuk pada ibu untuk meminta bantuan pada, Om Broto. Entah apa jadinya jika kita tidak di bantu oleh Allah dengan perantaraan, Om Broto."
Sinta sudah tidak sedih lagi, dia kini bisa tersenyum lega. Sebenarnya dia juga sangat tertarik dengan tawaran dari, Om Broto. Hanya saja sia tidak tega, jika ibunya yang cape bekerja sendirian.
Sinta melangkah ke kamarnya, dan ia merebahkan tubuhnya. Tanpa lupa, mengaktifkan ponselnya lagi.
"Astaghfirullah aladzim, ada apa ya? hingga Den Bagus menelponku sebanyak ini? Sinta juga membaca chat pesan tersebut satu persatu.
Sinta memutuskan untuk menelpon balik kepada Bagus.
Kring kring kring kring kring
__ADS_1
Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel, Bagus. Ia yang saat ini sedang bersantai di dalam kamarnya langsung mengangkatnya.
📱"Maaf, Den Bagus. Ada apa ya, menelponku?"
📱"Lain kali, kalau pergi tetap aktifkan Ponselnya. Memangnya kamu dari mana sih?"
📱"Dari markas besar kepolisian, Den."
📱"Hah, ada apa kamu kesana?"
Sejenak Sinta menceritakan semuanya pada, Bagus. Tanpa ada yang ia tutupi. Bahkan ia juga mengatakan jika urusannya dengan Rindu sudah selesai berkat bantuan dari, Om Broto.
Setelah menjelaskan tentang apa yang dilakukan Sinta ke markas besar kepolisian, kini ia bertanya balik kepada, Bagus.
📱"Den Bagus, ada apa menelponku? tadi kan belum jawab pertanyaanku."
Kini giliran Bagus mengatakan untuk apa dirinya menelpon Sinta. Mendengar perkataan dari Bagus, Sinta merasa iba. Karena majikannya begitu baik dan sangat perhatian, hingga rela akan meminjam uang senilai dua milyar. Padahal belum tentu, ia bisa membayarnya dengan waktu yang sangat singkat.
__ADS_1
📱"Den Bagus, tolong sampaikan terima kasih atas niat baik Nyonya dan Tuan. Tetapi semua sudah clear. Mohon maaf ya, Den Bagus. Aku telah merepotkan keluarga, Aden dengan persalahkanku. Karena pada waktu itu, nyonya nggak sengaja melintas dan mendengar semua yang sedang Rindu katakan."
📱"Ok, siap. Syukurlah, jika semua sudah clear. Pasti mamah dan papah juga akan ikut senang mendengarnya."