
Kehidupan rumah tangga Rindu dan Faisal dirasakan sangat hambar mereka suami istri itu hanya status, karena sebenarnya tidak pernah terjadi hal yang terjadi layaknya suami istri lakukan.
"Sayang, kita sudah beberapa bulan menikah tetapi gini-gini aja pernikahan kita. Sebenarnya kamu itu cinta padaku atau tidak sih? kalau memang cinta padaku tidak sedingin ini. Aku kadang bingung, kamu mau menikah denganku, tetapi setelah menikah, jangankan untuk melakukan hubungan suami istri untuk kita pergi berdua pun jarang sekali."
Perkataan yang dilontarkan oleh Rindu membuat Faisal naik pitam," aku memang menikahimu bukan karena dasar cinta."
"Lantas, jika kamu tidak mencintaiku kenapa kamu mau menikahiku?" tanya Rindu heran.
"Karena aku terpaksa, pada waktu itu almarhum papahmu sebelum meninggal memberikan pesan supaya kita menikah bukan! Apa kamu sudah lupa?" ucap ketus, Faisal.
"Kamu jangan pernah menyalahkan almarhum papahku. Dia bertindak seperti itu karena kamu hampir setiap hari ke rumahku bukan? almarhum Papah tahunya kita ini berpacaran. Lagi pula untuk apa kamu sering ke rumahku, jika ternyata kamu tidak mencintaiku?" ucap Rindu heran.
"Itu karena aku ingin berte... Ah sudahlah!"
"Coba katakan yang jelas, biar aku tahu. Jangan di potong seperti itu, mas,."
Rindu penasaran dengan ucapan Faisal yang tak juga di selesaikan.
Tetapi bukannya Faisal melanjutkan perkataannya, tetapi dia malah berlalu pergi begitu saja.
"Hampir saja aku keceplosan dalam berbicara, jika tadi aku mengatakan yang sebenarnya pasti nanti Rindu akan membenci Sinta," batin Faisal.
Rumah tangga yang terlihat harmonis ternyata sama sekali tidak sehat. Mereka bisa memainkan peranan jika berada di hadapan orang tua mereka, seolah saling mencintai satu sama lain. Padahal tidak ada keromantisan dan kehangatan di dalam rumah tangga mereka.
"Rindu, apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil? dulu pada saat mamah menikah, satu bulan kemudian dinyatakan hamil," tanya Mamahnya penasaran.
"Setiap wanita kan berbeda-beda, mah. Ada yang cepat hamil dan ada yang tidak langsung hamil. Dan aku salah satu dari wanita itu, belum ada tanda-tanda aku hamil, mah," ucap Rindu.
"Dari mana aku bisa hamil, disentuh saja tidak pernah," batin Rindu kesal.
__ADS_1
Bahkan Mamahnya memberi saran untuk cek masa kesuburan, supaya lekas hamil.
"Oh ya, Rindu. Apa nggak sebaiknya kamu berhenti bekerja saja, dan meminta Faisal menggantikan posisimu di kantor. Mungkin itu salah satu alasan kenapa kamu nggak hamil juga," ucap mamahnya.
Rindu pun menjelaskan, jika Faisal tidak akan pernah mau menggantikan posisinya di kantor. Faisal lebih suka bekerja di kantor, Bagus.
"Suamimu itu aneh ya? malah lebih suka bekerja pada orang lain dari pada mengurus perusahaan Almarhum Papah mertuanya. Nanti mamah yang akan mencoba untuk menasehatinya."
Tetapi Rindu melarangnya," nggak usah, mah. Nanti yang ada, Mas Faisal marah. Di kira aku mengadu banyak hal pada, mamah. Biarkan kami menyelesaikan segala permasalahan yang ada di dalam rumah tangga kami ya, mah."
Mamahnya hanya bisa bernapas panjang secara menggelengkan kepalanya," hem...ya sudah dech, terserah kamu saja jika seperti itu. Tetapi Mamah sudah ingin sekali menimang cucu."
"Iya, aku tahu kok. Sabar ya mamahku sayang, akan aku berikan cucu yang banyak untuk mamah."
Rindu mencoba meyakinkan Mamahnya.
Walaupun di dalam hatinya tidak yakin dengan diri sendiri, karena memang sikap Faisal terlalu dingin padanya.
"Jika aku terus protes padanya, yang ada dia marah dan semakin mengacuhkanku. Entahlah, aku harus bagaimana lagi? supaya benar-benar di perhatikan olehnya?"
Terus saja di dalam hati Rindu penuh dengan keluh kesah. Sedangkan saat ini Faisal sudah tidak bisa menahan rasa rindunya pada, Sinta. Hingga ia memutuskan untuk menemuinya di rumah, Bagus.
"Aku hanya ingin melihat wajahnya saja, supaya aku bisa terobati rasa rinduku ini padanya. Semoga saja, Sinta tidak marah-marah padaku."
Mobil pun telah sampai di pelataran rumah Bagus, kebetulan Bagus sedang bersantai di teras halaman, hingga dia bisa melihat kedatangan, Faisal.
"Liburan kok kemari, ada apa ya?"
Bagus lupa jika Faisal cinta pada Sinta.Dua mengira kedatangan Faisal untuk membahas pekerjaan.
__ADS_1
"Ada apa, Faisal? apa kamu nggak pergi liburan dengan istrimu, kok malah kemari?" tanya Bagus heran.
"Maaf ya, mas. Jadi terganggu karena kedatanganku. Aku hanya ingin melihat, Sinta," ucap Faisal agak malu.
"Maaf ya, Faisal. Sinta sudah nggak bekerja di sini lagi. Dia memutuskan untuk berhenti, sudah agak lama. Pada saat esok harinya setelah ia datang di acara pernikahanmu dengan Rindu."
Faisal terperangah," masa? bukannya dia mengatakan tidak akan pergi jika aku bersedia menikah dengan, Rindu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu tentang hal itu. Karena aku tidak berani bertanya atau ikut campur lagi. Aku nggak ingin Sinta marah padaku, seperti waktu itu."
Dengan rasa penuh kecewa, akhirnya Faisal pamit pulang. Dia benar-benar sedih, karena sudah tidak bisa lagi melihat, Sinta.
Seperginya Faisal, Bagus segera melangkah ke paviliun belakang, untuk menemui, Sinta.
"Sinta, baru saja Faisal datang kemari. Tetapi aku telah mengatakan apa yang telah kamu pesankan waktu itu kepadaku dan keluargaku. Supaya tidak mengatakan keberadaanmu di sini. Tetapi pesanku padamu, berhati-hatilah. Karena bisa saja suatu saat, Faisal datang lagi kemari. Karena dia masih saudaraku, setiap waktu bisa datang berkunjung kemari," ucap Bagus.
"Terima kasih sebelumnya, aku akan waspada supaya Mas Faisal tidak menemukanmu, Den. Mohon maaf, Den Bagus. Karena aku telah merepotkan Aden dan keluarga Aden," ucapnya seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Nggak usah minta maaf seperti itu, karena ini adalah hal sepele. Ya sudah, lanjutkan lagi pekerjaanmu."
Bagus segera melangkah kembali ke paviliun utama. Dia melangkah ke kamarnya.
"Kasihan juga, Sinta. Tetapi Rindu juga kasihan. Masa iya, Faisal hingga sampai sekarang tak melakukan hubungan badan dengannya? kok bisa seperti itu ya?" batin Bagus heran.
Sementara Faisal sudah sangat frustasi, hingga ia pun melajukan mobilnya dengan laju yang cepat. Dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan nyawanya sendiri. Putus asa, itulah yang saat ini di rasakan oleh, Faisal karena tidak bertemu dengan, Sinta.
"Percuma jika aku hidup, tetapi hidupku menderita karena tak bisa bersama dengan wanita yang aku kasihi."
"Untuk apa aku hidup, jika wanita yang aku cinta saja sama sekali tak pernah memikirkan diriku. Yang dia pikirkan hanya sahabatnya saja."
__ADS_1
BRUG!"
Mobil yang di kemudikan Faisal menabrak sebuah pohon besar yang ada di pinggir jalan. Karena dia mencoba menghindari laju mobil yang akan dia tabrak.