
Sinta sangat senang dan bahagia karena pada akhirnya ia berhasil mewujudkan impiannya untuk bisa memberikan kebahagiaan untuk ibunya.
"Bu, ibu ingin apa? katakan saja, karena sekarang aku sudah bisa memberikan apapun yang ibu inginkan," ucap Sinta sumringah.
"Ibu nggak ingin apa-apa, nak. Ibu susah cukup bersyukur karena kamu sudah bisa meraih kesuksesan seperti sekarang ini. Ibu lega karena keinginan mendiang almarhum ayahmu telah kesampaian. Kamu sukses seperti sekarang ini."
"Ibu hanya ingin berpesan supaya kamu tidak takabur dengan kesuksesanmu ini. Ibu ingin kamu selalu jadi Sinta, anak itu yang murah hati dan tidak sombong."
Sinta tersenyum," itu sudah pasti, Bu. Aku tidak akan membuat ibu kecewa padaku. Aku akan tetap menjadi Sinta, anak ibu. Selamanya aku tidak akan berbangga dirinyae, karena apa yang kita miliki adalah fana. Yang kapan saja bisa hilang di telan massa."
Sebenarnya Sinta ingin sekali ibunya meminta baju baru atau perhiasan. Tetapi malah hanya sebuah pesan saja yang di lontarkan oleh ibunya.
"Jika itu tidak meminta apapun, aku akan mengajaknya ke mall sekarang juga," batinnya
"Bu, temani aku Yuk?"
"Temani kemana, Sinta?" ibunya memicingkan alisnya.
__ADS_1
"Ayok dech, ibu ikut saja ya? aku malas jika pergi sendirian saja, aku ingin ada yang menemaniku."
Sinta membujuk ibunya, hingga ibunya bersedia turut serta dirinya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan.
"Kenapa kamu ke mall nggak mengajak teman-temanmu saja, Sinta? kan lebih seru jika jalan sama teman-temanmu," ucap ibunya.
"Aku nggak ada teman, Bu. Hanya ibu teman setiaku selama ini yg selalu ada di dalam suka dukaku, iya kan Bu?" goda Sinta terkekeh.
Pada saat sedang asik bercanda ria, tidak sengaja ada seseorang menabrak Sinta.
"Nggak apa-apa, Rindu-tante? sudah lama banget ya, kita nggak bertemu."
Sinta mengulurkan tangannya pada Mamahnya Rindu, dan pada saat Mamahnya akan menyalami Sinta, tangannya di tarik oleh Rindu," pantang bagi kami bersalaman dengan wanita tak tahu balas budi seperti dirimu!"
"Rindu, jaga bicaramu! nggak sopan kamu mengatakan hal itu pada, Sinta apa lagi ada ibunya!" tegur Mamahnya.
"Rindu, mau sampai kapan kamu marah padaku? padahal ku sudah menganggapmu sebagai saudaraku. Tetapi kamu masih salah paham saja padaku. Cobalah untuk tidak suudzon padaku, Rindu," ucap Sinta.
__ADS_1
Rindu menarik paksa mamahnya untuk berlalu pergi dari hadapan Sinta dan ibunya.
"Astaghfirullah aladzim, Rindu masih saja di rasuki kebencian padamu. Kamu yang sabar ya, Sinta. Janganlah kamu membalas kebencian dengan kebencian, karena itu tidak baik. Ingat selalu pesan ibu," ucapnya.
"Itu sudah pasti, Bu. Sampai kapanpun, Rindu adalah teman dan saudaraku. Aku yakin suatu saat nanti dia akan mengerti dan tidak salah paham lagi padaku."
"Aku tidak akan bisarm membenci saudaraku sendiri, Bu. Apa lagi almarhum papahnya telsh berjasa pada kita."
"Sudahlah, Bu. Sebaiknya kita lanjut saja yuk. Kita kesana ya, Bu."
Sinta mengajak ibunya ke toko perhiasan, dan meminta ibunya untuk memilih sepaket perhiasan yang ibunya suka. Tetapi ibunya sama sekali tidak mau," nggak usah Sinta, lagi pula berbahaya jika memakai perhiasan terlalu banyak dan kesannya seperti toko berjalan."
Ibunya terkekeh menggifa Sinta.
"Begini saja, Bu. Jika ibu tidak mau membeli sepaket, ya setidaknya membeli anting dak cincin ya?"
Akhirnya sang ibu mengangguk tanda setuju.
__ADS_1