Persahabatan Dan Cinta

Persahabatan Dan Cinta
Sikap Kasar Rindu Pada Suaminya


__ADS_3

Setelah mendapatkan telpon dari, Sinta. Bagus lekas melangkah mencari keberadaan orang tuanya, hanya untuk memberi tahukan kabar gembira tersebut.


Alangkah senang orang tua Bagus setelah mendengar kabar tersebut. Berbeda situasi di rumah Rindu, dia masih saja marah pada Mamahnya dan juga kesal pada, Faisal.


"Rindu, janganlah bersifat ke kanak-kanakan seperti ini. Mau sampai kapan, kamu marah sama mamah?" tegurnya.


"Entahlah!"


Rindu berlalu pergi dari hadapan, mamahnya pada saat terdengar kegaduhan di kamar tamu.


"Ada apa sih, di kamar Mas Faisal? sepertinya banyak barang yang pecah."


Rindu membuka pintu kamar tamu tersebut. Dan ia langsung terperangah melihat kamar yang berantakan.


"Astagaa, Mas Faisal! apa yang kamu lakukan hingga kamar berantakan seperti ini?" bentak Rindu.


"Rindu, aku minta maaf. Aku ingin buang air kecil, di kamar mandi. Kamu tahu sendiri, mataku gelap hingga aku tidak bisa berjalan dengan benar."


"Tolong, Rindu. Aku sudah nggak tahan lagi ingin buang air kecil. Antar aku sebentar saja ke kamar mandi."

__ADS_1


Dengan sangat malas, Rindu melangkah menghampiri Faisal. Tetapi pada saat ia akan menuntun suaminya tersebut. Tiba-tiba keluar deras air dari celana, Faisal.


"Astagaaaa... Mas! belum juga sampai di kamar mandi, kamu sudah ngompol seperti itu! Bikin repot saja! tunggu disini, aku akan panggil Mbak saja untuk mengurusmu!"


Rindu menutup hidungnya seraya lekas berlalu pergi dari kamar tamu tersebut. Dia mencari perawat pribadi yang merawat, Faisal.


"Mbak, kemana saja sih? itu di urus bayi gedenya ngompolnya!" oceh Rindu sewot.


"Maaf, Non Rindu. Baru saja saya sholat sejenak."


Saat itu juga sang perawat berlalu pergi ke kamar tamu. Dia dengan penuh kelembutan menghampiri Faisal.


"Den Faisal, aku arahin ke kamar mandi ya? nanti Aden lepas sendiri celananya yang basah dan ganti yang baru. Ini celana yang baru."


"Suster, aku minta maaf ya. Selalu merepotkanmu. Aku juga telah membuat, suster jadi tambah kerjaan. Kamar berantakan gara-gara aku ingin ke kamar mandi."


Sang perawat tidak marah sama sekali, dia bisa memakluminya," sudah nggak usah di pikirkan, Den. Justru saya yang minta maaf, karena sejenak pergi meninggalkan, Aden. Saya sholat sebentar. Sekarang ganti saja dulu celananya. Nanti kalau kamar sudah saya rapikan, saya ajarin Aden menghapal lokasi kamar ini. Hingga bisa ke kamar mandi sendiri."


"Baiklah, sus. Terima kasih ya."

__ADS_1


Saat itu juga, Faisal ke kamar mandi. Dan sang perawat segera membersihkan lantai kamar yang berantakan karena air kencing Faisal dan juga barang-barang yang pecah, yang tak sengaja tersenggol olehnya.


Kerja sang perawat sangat cekatan, hanya dalam waktu sekejap saja telah rapi dan lantai juga telah wangi. Faisal juga sudah berada di ranjangnya.


"Sus, aku minta tolong bisa nggak ya?" tanya Faisal.


"Katakan saja, Den."


"Tolong panggilkan, mamah mertuaku suruh kemari. Karena ada hal yang ingin aku katakan padanya."


"Baiklah, Den. Tetapi Aden jangan kemana-mana ya."


Sang perawat lekas keluar dari kamar tamu tersebut, dia segera menemui mamahnya Rindu. Dan mengatakan pesan dari, Faisal.


"Ada apa, Faisal?" tanya mamah mertuanya.


Tiba-tiba Faisal menangis dan meminta maaf padanya. Jika dia selama ini menyembunyikan perasaan cintanya pada Sinta. Faisal meminta maaf, dia sudah mencoba mencintai Rindu, tetapi tetap tidak bisa.


"Faisal, kesalahanmu hanya satu. Tidak jujur dari awal, coba saja jika dari awal kamu jujur. Pasti tidak akan sampai serumit ini. Saya tidak marah padamu, yang namanya suatu perasaan itu tidak bisa di paksakan. Sekeras apapun kamu mencoba mencintai, Rindu. Jika di dalam pikiran mu masih ada Sinta. Itu tidak. akan bisa. Selamanya kamu aku selalu memikirkan, Sinta."

__ADS_1


Faisal pun meminta izin untuk tinggal di rumahnya saja. Karena dia tidak ingin merepotkan, Rindu dan mamah mertuanya.


Hingga pada akhirnya, sang mamah mertua mengizinkannya untuk, Faisal pulang ke rumahnya sendiri.


__ADS_2