
Setelah Mamahnya keluar dari ruangan, Rindu mulai bertanya secara perlahan pada, Faisal.
"Mas Faisal, kenapa kamu terus saja memanggil nama Sinta? apakah kamu benar-benar telah menjalin hubungan dengannya di belakangku?" tanyanya menahan rasa kesal.
"Aku tidak pernah menjalin hubungan di belakangmu. Jujur saja, aku dan Sinta sudah sejak lama saling mencintai. Hanya saja kamu nggak peka. Aku datang ke rumahmu itu untuk menemui Sinta bukan kamu. Aku cinta padanya, pada saat kita saling berbalas puisi."
"Yang aku tuju itu, Sinta. Tetapi kamu dan orang tuamu salah paham dan mengira aku jatuh cinta padamu. Aku ingin jujur padamu dan kepada orang tuamu, tetapi Sinta melarangnya."
"Dia tahu jika kamu cinta padaku. Hingga dia memintaku untuk tidak mengatakan apapun padamu. Bahkan dia sengaja pergi dari rumahmu, untuk menghindariku."
"Dia juga yang memintaku untuk menikahi dirimu. Walaupun awalnya aku selalu menolak, tetapi disbysng tetud saja memaksanya."
"Dia tidak ingin menyakiti dirimu dan mamahmu, hingga dia yang mengalah pergi dari rumahmu. Dia melakukan hal itu sebagai balas budi atas segala kebaikan yang pernah kamu dan orang tuamu lakukan untuknya dan ibunya."
"Aku minta maaf Rindu. Aku sudah berusaha sebisaku untuk mencintaimu tetapi aku tak bisa sama sekali. Semakin aku berusaha melupakan Sinta, justru semakin aku ingat padanya dan ingin bertemu dengannya."
Rindu tak kuasa menitikkan air matanya, dia masih saja tidak percaya dengan apa yang telah terjadi saat ini. Bahkan dia tidak bisa mengatakan apa pun di hadapan, Faisal.
"Ya Allah, apa yang terjadi ini? sungguh benar-benar membingungkan sekali," gumamnya di dalam hati.
"Rindu, aku minta maaf atas segala kesalahanku dan ketidakjujuranku padamu. Tetapi aku juga meminta padamu untuk tidak membenci Sinta, karena dia tidak salah apapun dalam hal ini. Justru dia yang menyuruhku untuk bersedia menikahimu dan dia juga memintaku untuk melupakan dirinya," ucap Faisal di tengah ketidak berdayaannya.
"Lantas, apakah kamu tahu dimana saat ini Sinta berada? karena aku juga ingin meminta penjelasan darinya," ucap Rindu.
"Terakhir, Sinta berada di rumah saudaraku. Di rumah, Mas Bagus. Dia bekerja sebagai buruh cuci seterika. Tetapi terakhir, aku kesana dia sudah tidak ada lagi. Pergi entah kemana, aku juga tidak tahu," ucap Faisal.
Rindu pun terdiam, dia bingung dengan semua itu. Semua terasa rumit baginya.
__ADS_1
"Baiklah, semua sudah jelas. Nanti jika kamu sudah sembuh, kira bicarakan hal ini dengan orang tua kita. Karena aku juga tidak ingin menjalani pernikahan tidak sehat. Pernikahan tanpa adanya rasa cinta darimu. Pantas saja, kamu sama sekali tak pernah menyentuhku."
Lain situasi di rumah Bagus, saat ini Sinta sedang gelisah ingin sekali mengetahui kabar tentang, Faisal. Dia terus saja mondar-mandir di ruang khusus menyeterika.
"Aku ingin bertanya pada, Den Bagus. Tetapi aku malu. Bila tidak bertanya, hati ini rasanya kok gelisah dan tak tenang seperti ini ya? apa yang harus aku lakukan?"
Selagi terus saja mondar-mandir, datanglah Bagus," Sinta, kamu belum pulang?"
"Belum, Den. Inisgu siap-siap mau pulang," ucap Sinta gelagapan.
*Sinta, aku tahu jika saat ini kamu sedang khawatir pada kondisi Faisal. Kamu nggak usah khawatir, karena barusan aku mendapatkan kabar dari, Rindu. Bahwa Faisal sudah sadarkan diri, hanya saja kondisinya belum stabil. Matanya juga masih di balut perban."
"Alhamdulillah, kalau begitu Den. Aku jadi agak tenang, jujur saja memang sempat khawatir memikirkan kondisi Mas Faisal. Kalau begitu aku permisi pamit pulang."
Tanpa menunggu lama lagi, Sinta melangkah legho dari ruangan tersebut. Sebenarnya, Bagus ingin sekali mengajak Sinta menjenguk Faisal. Karena dia merasa iba pada sepupunya tersebut, tetapi dia juga tidak enak pada, Rindu.
Esok harinya, semua berkumpul di rumah sakit. Semua ingin tahu bagaimana dengan kondisi mata, Faisal setelah perban di buka.
Hanya anggota keluarga yang boleh masuk ke ruangan tersebut.
Dengan sangat perlahan, dokter membuka perban penutup mata, Faisal. Semua yang ada di ruangan tersebut begitu panik dan gelisah.
"Mas Faisal, coba anda buka mata secara perlahan-lahan," pinta sang dokter pada saat selesai membuka perban di mata Faisal.
Dengan sangat perlahan, Faisal membuka matanya tetapi pandangannya tidak jelas," Dok, kenapa mata saya seperti ini? pandangan saya kabur, tidak jelas untuk menatap siapapun."
"Itu berarti luka yang anda alami cukup parah. Anda bisa melihat normal kembali jika melakukan tindakan operasi."
__ADS_1
"Dan anda harus pulih terlebih dahulu, baru bisa melakukan tindakan operasi."
Rindu merasa kecewa, karena dia tidak ingin dibebani dengan merawat, Faisal. Tiba-tiba dia berkata," berarti suami saya belum di izinkan pulang ya, dok?"
"Pasien bisa di rawat di rumah kok, karena kondisi sudah tidak parah. Hanya tinggal masa pemulihan saja. Dan setelah pulih, pasien sudah bisa untuk mengoperasi matanya."
"Tetapi bisakah saya menyewa atau mempekerjakan salah satu perawat di rumah sakit ini, untuk merawat suami saya di rumah, dok?" tanya Rindu.
"Boleh saja kok, Mba Rindu. Oh ya, saya permisi untuk mengecek kondisi pasien yang lain. Jika infus sudah habis, boleh pulang. Dan anda bisa keruang dokter saja, jika memang berniat untuk menyewa seorang perawat."
Mendengar akan hal itu, orang tua Faisal langsung berkomentar," Rindu, kenapa kamu nggak yang merawat Faisal? dia kan suamimu?"
"Mah, kalau aku yang merawat mas Faisal. Lantas siapa yang akan mengurus kantor. Semua harus di seimbangkan bukan? salah satu harus mencari nafkah. Jika semua menganggur, lantas dengan apa kita mencukupi kebutuhan sehari-hari? malah jika perlu, mamah saja yang menjaga dan merawat, Mas Faisal. Toh Mamah nggak punya aktifitas sama sekali, bukan? jadi irit uang, nggak memikirkan biaya untuk membayar perawat."
Perkataan Rindu sangat menyentil hati, Mamah mertuanya. Rindu juga mendapatkan teguran dari, mamahnya sendiri.
"Rindu, kamu nggak boleh mengatakan hal seperti itu. Sama saja nggak sopan, buat mamah malu saja."
Mamahnya Rindu meminta maaf pada Mamahnya Faisal atas nama, Rindu.
"Sudahlah,tak usah saling menyalahkan.Di sini memang aku yang salah, karena kondisiku harus seperti ini hingga merepotkan semua orang. Aku minta maaf pada kalian semua."
Faisal merasa bersalah, bahkan dia benar-benar kecewa dengan sikap Rindu.
"Aku pikir, Rindu tak seburuk ini. Ternyata penilaianku selama ini salah. Jika tahu seperti ini, waktu itu aku perjuangkan saja cintaku dengan Sinta. Untuk apa aku menjaga hatinya, kalsu yang di jaga seperti ini," batin Faisal.
Semua sejenak terdiam, hingga mamahnya Rindu berkata lagi," Faisal, kamu nggak boleh bicara seperti itu. Apa yang menimpamu adalah suatu musibah."
__ADS_1