Persit Untuk Kapten

Persit Untuk Kapten
-Pergi Pendidikan-


__ADS_3

Ajeep P.O.V


Hari ini adalah H-2 menjelang kepergian ku ke Akmil. Huft! Wish me luck guys! Tasya bahkan sampai izin seminggu karna mau nungguin aku. Ga tega sebenernya karna ngeliat dia tegar banget bantu bunda ngerapihin barang ku. Dia bahkan selalu meluk bunda dan Anya saat mereka bahas kepergianku ke Akmil. Aku akan ke Magelang.


"Sayang? Ini kamu udah semua kan?" Tanya Tasya yang ku jawab anggukan. Tasya menghela nafasnya lalu menatap ku. "Ip!" Panggilnya. Aku menengok dan melihat dia menghampiriku. Dia mengelus pipi ku seraya tersenyum. "Segera selesaiin pendidikan ya. Tasya ga tega liat kamu nanti kalau kamu digalakin." Kata Tasya seraya menatap mata ku. Matanya berkaca-kaca. Aku mengelus kepalanya yang sekarang sudah tertutup hijab.


"Kamu, aku berjuang untuk kamu yang nunggu aku. Do'ain ya sayang." Kata ku seraya tersenyum. Aku membuka laci lemari ku dan mengambil satu kotak berisikan cincin. Cincin berwarna silver dengan batu di tengahnya.



"Aku beli ini untuk kamu. Please suatu saat, aku ga mau kalau kamu ga betah sama hubungan ini tapi kamu paksain. Aku mau, jika suatu saat, kamu ga bisa sama aku. Tolong lepas dan simpan cincin ini. Okay sayang? Harapan aku, kamu selalu pakai cincin ini." Kata ku seraya menyerahkan kotak cincin berwarna pink.


"Ip, sampai kapanpun itu ga akan aku lepas cincin ini. Ga akan aku lepasin kamu." Kata Tasya seraya tersenyum. Dia ke meja belajar ku dan mengambil sisir. "Besok kamu potong rambut kan? Hari ini kita foto dulu ya!" Kata Tasya seraya menyisir rambut ku. "Apa jadinya aku tanpa kamu sayang." Kata ku seraya tersenyum. "Ya tetap jadi Ajeep Akbar seperti ini lah." Katanya seraya tersenyum. Aku mencium keningnya dan setelah itu, kami berfoto bersama.


"Kamu kapan balik ke Depok?" Tanya ku. "Nanti kamu berangkat, abis itu aku langsung ke stasiun." Katanya yang membuat ku menatapnya. "Maaf sayang, Ip ga bisa antar kamu jadinya." Kata ku seraya merangkulnya. "It's okay, Ip. Kamu butuh pendidikan ini. Gerbang abdi negara udah di hadapan kamu. Jangan sia-siain okay sayang!" Kata Tasya yang membuat ku tersenyum. "Siap!" Jawab ku seraya tersenyum.

__ADS_1


"Tasya! Ajeep! Makan dulu sini!" Kata bunda. Aku menggandeng tangan Tasya ke ruang makan. "Ka Tasya kok nangis?" Tanya Anya. "Enggak kok sayang. Kakak tadi kena debu matanya. Jadinya kayak nangis deh." Kata Tasya seraya tersenyum. "Ka, nanti kita beli baju ya buat Tania sama Asya." Kata Anya yang  Tasya jawab anggukan. "Kita beli kain aja. Nanti kita bikin di rumah. Gimana?" Tanya Tasya. "Asik!!!" Teriak Anya girang.


"Tasya? Kamu gapapa kan ya izin seminggu?" Tanya bunda. "Iya bun, gapapa kok." Kata Tasya seraya tersenyum. Makanan siap, kami segera makan bersama. Aku duduk di kursi, Tasya membantu bunda menyiapkan makanan di meja makan. "Bunda takut sayang kalau ngerepotin kamu." Kata bunda. "Aish! Bun, ga pernah ada kata MEREPOTKAN dalam kamus anak dan ibu. Lagian ya, mama aja selalu nyuruh Tasya ke Bandung malah. Karna kalo kata mama, disini juga keluarga Tasya." Kata Tasya yang membuat bunda menatapnya penuh binar.


"Alhamdulillah kalo mama ngizinin ya, Sya. Kan ada ibu yang kesel kalo anaknya pergi terus." Kata bunda yang membuat Tasya tertawa. "Hadeuh, bunda. Mama sama Tasya aja lebih seringan mama yang pergi kumpul sama teman-teman facebooknya. Kalo Tasya mah palingan sama Hiffa dan Ka Vhiya. Itupun kalo mereka ga sibuk." Kata Tasya seraya tersenyum ke arah bunda. "Walah yaudah kalo gitu mah." Kata bunda seraya tertawa.


"Bunda? Nanti selama Ajeep pendidikan, jaga kesehatan ya. Ajeep juga titip Tasya. Kalo dia ngeselin mah jitak aja pakai buku Ajeep." Kata ku seraya tersenyum menatap Tasya. "Enak aja anak bunda mau kamu pukul. Lagian nanti kamar kamu tuh selama pendidikan, jadi kamar Tasya. Kan setelah pendidikan, kamu di tugasin di Jakarta kemungkinan atau di Bandung. Palingan juga di asramanya." Kata bunda yang membuat ku tersenyum.


"Bunda, nanti bunda ikut ya sama Anya dan Ka Tasya. Mau beli bahan buat bikin baju boneka." Kata Anya. "Enggak bisa sayang nya bunda. Kan bunda masih harus persiapin stok makanan untuk kita sebulan." kata bunda. "Nanti biar aku aja. Bunda pergi aja sama Tasya dan Anya." Kata ku seraya tersenyum. "Okay deh. Bunda ikut." Kata bunda.


SKIP


Aku duduk di teras seraya merenung. Ini demi masa depan ku. Demi Tasya. Demi negara. Aku menghela nafas dan menatap bulan. "Semoga kepergian aku ga akan membuat bunda dan Tasya sedih." Batin ku. Aku merasakan kursi disebelahku ada yang menduduki. Ternyata Tasya.


"Kenapa hmm??" Tanya Tasya yang ku jawab gelengan. "Gapapa kok sayang. Cuman menikmati masa terakhir bisa liat bulan begini di rumah." Kata ku menatap bulan seraya tersenyum. "Kamu selalu bisa liat bulan, sayang. Semua ada dalam pikiran kamu. Aku tau apa yang kamu pikirin sekarang." Kata Tasya seraya tersenyum. Aku menengok ke arahnya dan melihat dia menatap bulan. "Kamu harus tau, kita bisa mecahin apa yang ada dalam pikiran kita lewat merenung. Bukan untuk mempertimbangkan keputusan tapi melihat apa yang akan kita dapat di beberapa tahun kemudian. Aku lakuin ini pas aku antara mau jadi guru atau sejarawan." Kata Tasya seraya menatap bulan.

__ADS_1


"Sayang, bulannya bagus ga?" Tanya ku. "Iya bagus, Ip." Kata Tasya seraya tersenyum. "Keindahan bulan bertambah karna ada bidadari penanding kecantikan bulan. Kamu, sayang!" Kata ku seraya tersenyum. "Udah jangan gombal. Aku mager baper nanti ga bisa tidur." Kata Tasya yang membuat ku tertawa.


SKIP


Hari ini, aku sudah siap dengan rambut yang sudah cepak dan tas jinjing berisikan perlengkapan ku. "Gimana sayang? Udah siap?" Tanya Tasya yang ku jawab senyuman. Aku memeluknya dan tersenyum. "Kalo aku pesiar, kita ketemu okay." kata ku yang dijawab anggukan Tasya. "Kalo semisal ada kunjungan ke kamu, insyaallah aku ikut." kata Tasya yang membuat ku tersenyum. Aku mengangkat tangannya dan melihat cincin yang ku berikan sudah dia pakai. "Okay, ini udah mau jam 7. Segera kita pergi!" kata bunda yang kami jawab anggukan. Hari ini, keluarga ku akan mengantar ku ke bandara.


SKIP


"Ajeep, jaga diri disana ya sayang. Ingat, di Bandung ada keluarga dan di Depok, ada Tasya. Awas kalo kamu berpaling." kata bunda seraya memeluk ku. "Iya bunda siap!!" kata ku seraya tersenyum. Aku menghampiri ayah dan memeluknya. "Kamu mau pendidikan. Hati-hati! Berpikir dalam bertindak. Jangan salah langkah." kata ayah yang ku jawab anggukan. Aku menghampiri Anya yang sedang digendong Tasya. "Anya, a'a berangkat ya. Anya jaga kesehatan ya sayang. A'a nanti kalo sempet pasti ke rumah kok." kata ku. "Iya a'a!" kata Anya memeluk ku dan aku mencium pipi tembem nya. Aku menatap Tasya yang sedikit berkaca-kaca. "Selamat menjalani pendidikan sayang! Semangat terus ya. Jangan lupa jaga kesehatan, nanti kalo sempet chat aku ya. Atau kirimin aku surat biar aku tau kamu sehat." kata Tasya mulai meneteskan air matanya. Aku langsung memeluk Tasya yang menangis. "Kamu kuat sayang. Kamu punya mental yang kuat sayang. Jangan nangis ya. Love you." kata ku seraya memeluk Tasya. "Iya. Love You More." kata Tasya seraya tersenyum. Aku melepas pelukan kami dan mencium keningnya. "Aku pamit sayang. Jaga diri dan hati ya. Love You!" kata ku seraya tersenyum.


_________________________


**Part ini selesai, guys. Comment dong feel nya gimana saat baca part ini. Like nya jangan lupa ya❤


Anjeli Puja

__ADS_1


20/09/2020**


__ADS_2