Persit Untuk Kapten

Persit Untuk Kapten
-Ip Sadar-


__ADS_3

Tasya P.O.V


Hari berganti minggu. Minggu pun berganti bulan. Tanpa terasa sudah 2 bulan Ip koma. 2 bulan juga aku selalu bolak-balik rumah sakit-sekolah-rumah. Begitu terus. Kadang semua sahabat ku datang menjenguk setiap hari minggu. Fei dan Mario bahkan sampai menyewa kontrakan disini untuk menjaga Ip saat aku sedang bekerja.


Bunda dan Anya selalu datang tiap siang dan kembali tiap sore nya. Dan pada malam hari, aku yang selalu menjaga Ip.


"Sya, udah nyampe lo?" Kata Mario memanggil ku. Aku yang masih memakai baju batik dan celana bahan berwarna biru navy. Aku menganggukan kepala ku lalu mencuci tangan ku. Setelah itu aku menghampiri Ip dan mencium pipinya.


"Aku kembali sayang. Walau kamu masih aja ga liat aku tapi aku selalu liat kamu. Bangun sayang nanti aku masakin makanan kesukaan kamu deh." Kata ku seraya menggenggam tangan Ip.


Aku mencium pipi Ip dan memilih duduk di kursi disebelah bankas nya. "Ip tau ga Ip, masa yah Anya sekarang agak susah belajar gitu Ip. Katanya dia ga semangat kalau kamu ga ada." Ucap ku seraya menggenggam tangan Ip.


Aku yang merasa lelah tanpa sadar tertidur disebelah Ip dengan tangan ku yang masih menggenggam tangannya.


Skip


Aku merasakan elusan di hijab ku. Aku merasa kenal dengan elusan ini. Saat aku membuka mata ku, aku melihat Ip yang sedang tersenyum menatap ku.


"Ta-tas-tasya." Aku mulai menangis mendengar suara dia yang sudah aku rindukan selama dua bulan ini. Akhirnya dia sadar.


"Ip, wait sayang aku panggil dokter dulu okay." Kata ku seraya menekan bel. Aku langsung menggenggam tangan Ip dan menciumnya. "Akhirnya kamu sadar sayang." Ucap ku seraya tersenyum.

__ADS_1


Dokter datang dan mulai memeriksa Ip. Bunda memeluk ku, dia menangis. "Alhamdulillah ya allah, Sya. Dia sadar. Anak bunda sadar, Sya." Kata bunda seraya memeluk ku. "Iya bunda. Alhamdulillah Ip sadar." Ucap ku.


"Mbak, bapak Ajeep sudah stabil keadaannya. Dalam waktu satu jam nanti sudah bisa diberi makan. Harap makanan yang lembut ya seperti bubur." Kata dokter. "Baik dok kalau begitu terima kasih. Oh iya kira-kira kapan mesin kayak gini semua bisa dilepas yah?" Tanya ku. "Perawat akan segera datang mbak untuk membantu merapihkan mesin penunjang ini." Kata dokter yang ku jawab anggukan. "Baik kalau begitu terima kasih dok." Kata ku seraya tersenyum.


Aku melihat bunda yang sudah duduk disebelah Ip. Bunda mengelus wajah Ip.


"Kamu hutang penjelasan ke Tasya. Bunda baru jelasin latar belakang kamu ga bilang ke dia kalau kamu tugas penyelamatan." Kata bunda. Ip menatap ku dan tersenyum. Berbeda dengan ku yang mulai berkaca-kaca.


"Sini sayang. Ga mau gitu kamu meluk aku?" Kata Ip yang berhasil membuatku langsung memeluknya. "Dasar calon suami laknat. Pergi tugas penyelamatan malah ga bilang. Jahat kamu mah!" Kata ku seraya menangis dipelukan Ip.


"Ulah nangis atuh sayang. Kan yang terpenting aku ga kenapa-napa." Kata Ip. "Mata mu ga kenapa-napa! Ketembak sampai koma dua bulan itu yakin ga kenapa-napa?" Ucap ku seraya menepuk pundaknya.


"Duh sayang jangan dipukul bisa kan? Agak nyeri nih." Kata Ip. "Eh iya iya maaf sayang lupa aku." Kata ku. "It's okay." Kata Ip seraya tersenyum. "Sya, bunda beli bubur dulu yah." Kata bunda yang ku jawab anggukan.


"Hey, babe. Kamu kalau saat itu ga ada. Mungkin aku udah ngira aku mati dan ga ada harapan aku hidup. Tapi kalaupun aku mati, aku tenang. Aku mati demi melindungi atasan aku." Kata Ip yang membuatku kaget. "Hush! Ngomong nya jangan gitu ah!" Kata ku.


"It's true sayang. Aku pelindung negara. Demi atasan pun aku siap mati asalkan demi negara aku sendiri. Karna di negara yang aku lindungi, ada orang yang aku cintai salah satunya kamu." Kata Ip yang membuatku tersenyum.


"Whoa! Gimana kabar lo, Bro?" Aku mendengar suara Fei dan Mario. Aku menengok dan melihat mereka yang sudah duduk di sofa. "Baik kok. Ya cuman dada gw masih nyeri dikit." Kata Ip seraya tersenyum.


Perawat datang dan membantu Ip melepaskan peralatan penunjang hidupya. "Mbak, tolong bilang ke dokter ya calon suami saya sesek di dada. Kalo diperbolehkan saya mau minta obatnya." Kata ku. "Baik mbak nanti saya bilang ke dokter ya." Kata salah satu perawat yang ku jawab anggukan.

__ADS_1


Setelah semua selesai, aku menatap Ip yang sudah lebih santai dibanding tadi yang masih memakai kantung oksigen. Sekarang udah enggak.


Dokter datang dan melakukan pengecekan ke Ip. Lalu dia menulis resep obat di kertas selembar. "Ini resep obat yang harus di tebus untuk pemulihan, mbak." Kata dokter yang ku jawab anggukan. Setelah dokter keluar dari ruangan, aku melihat Ip yang tersenyum menatap ku.


Aku menghampirinya dan tersenyum. "Kenapa hmm?" Tanya ku. "Gapapa kok bahagia aja buka mata udah ada bidadari." Kata Ip yang membuat ku tertawa. Aku langsung memencet hidungnya dan tertawa lagi. "Baru pulih udah bisa gombal. Sembuh dulu. Aku ke apotek dulu ya." Kata ku seraya tersenyum. Ip menganggukan kepalanya dan dia mencium pipi ku.


Aku segera keluar ruangan dan berjalan menuju apotek. Antrian yang panjang membuat ku menunggu cukup lama sekitar 1 jam.


"Sya, nih minum dulu." Kata Hiffa. "Lah udah dateng lo?" Tanya ku. "Udah nih sama Ka Vhiya. Bocah lo lagi pada otw kesini. Mereka seneng tau calon kakak ipar mereka udah sadar." Kata Hiffa yang membuatku tersenyum.


"Hif, lo bisa beliin gw somay ga? Gw agak pusing." Kata ku seraya mengeluarkan uang sepuluh ribu. "Muka lo pucet, Sya. Lo kayaknya harus periksa deh." Kata Hiffa. "No, gw gapapa." Jawab ku seraya memijit keningku.


Hiffa pergi ke stand penjual somay dan aku memilih duduk di kursi tunggu. Lama-lama pusing di kepala ku semakin menguat membuatku mau tidak mau menutup mata ku dan akupun berada dalam kegelapan.


"Sya!!" aku mendengar teriakan Hiffa lalu aku merasa diangkat.


____________________


Segini dulu ya guys. Aku ngantuk nih guys. Maaf ya kalo pendek. Love you all❤


Anjeli Puja Lestari

__ADS_1


02/11/2020


21:15 Malam


__ADS_2