
Aku duduk dengan anggun disofa milik Lukman. Aku menatap mereka berdua dengan tatapan dingin. Tidak ada candaan seperti biasanya. Kami bertiga cukup lama terdiam, Aku muak dengan semua ini.
"Kita putus!" ucapku tanpa basa basi.
"Aku tidak mau kita putus, " jawabnya.
Aku yang mendengar dia berkata seperti itu tertawa sinis. Sambil melihat kearah mereka berdua yang nampak tersentak dengan perkataan ku. Dan Rina terlihat sangat pucat pasih antara dia takut atau karena kelelahan.
"Kau pikir aku akan mau menerima dirimu?" tanyaku sinis.
"Tapi aku sangat mencintaimu!" jawabnya.
"Cinta? omong kosong!" jawabku tertawa menahan air mata ku agar tidak jatuh.
"Bagaimana dengan ku?" tanya Rina menunduk.
__ADS_1
Ku pandang Rina yang terlihat sangat lesu. Aku begitu kecewa padanya. Aku tidak menyangka dia bisa melakukan hal ini padaku. Mereka berdua orang yang sangat kusayangi tapi merekalah yang menusuk ku hingga aku merasakan sakit seperti ini.
"Kau tidak perlu takut. Lukman akan bertanggung jawab" ucapku dengan bibir bergetar.
Aku tidak akan sanggup melihat mereka menikah. Membayangkan saja membuat dadaku sesak. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka.
Rina terlihat legah mendengar nya. Aku tahu pasti dia takut Lukman akan kembali padaku. Meskipun Lukman memohon padaku aku tidak akan mau kembali padanya. Karena pengkhianatan hal yang sangat aku benci.
Plakkk...
"Jangan berani kau sentuh tubuhku dengan tangan kotormu." ucapku marah.
Selama ini aku tidak pernah marah atau membentak dirinya. Tapi sekarang aku memberikan tanda merah dipipinya. Dia terlihat hanya diam sambil memegang pipinya yang merah.
Dadaku semakin sesak saat Rina terlihat khawatir saat aku melakukan itu pada Lukman. Aku baru menyadari ternyata Rina begitu mencintai Luman.
__ADS_1
"Lepas, " ucap Lukman marah sambil mendorong tubuh Rina.
Aku menahan tubuh Rina agar tidak terjatuh, tapi aku harus kembali melihat hal yang tidak pantas yang terdapat di lehernya. Sepertinya mereka begitu menikmati nya tanpa memikirkan perasaanku.
Aku pergi meninggalkan mereka dengan pertanyaan pertanyaan yang terus Berputar di kepalaku. Aku tidak tahu harus bercerita dengan siapa sekarang. Sekarang tinggal Ayah yang ada untukku. Aku tidak ingin memberi tahu ayah sekarang. Aku takut kesehatan ayah akan memburuk setelah mendengar kabar ini.
Aku berdiri diatas titi panjang yang sudah terlihat tua. Ku pandangi aliran air sungai yang begitu deras. Aku merentakan tanganku untuk berteriak meluapkan emosi ku.
"Jangan jatuhkan dirimu. Ingat lah orang tuamu saat ini" ucap pria itu sambil perlan mendekati tempatku berdiri.
*Apa dia pikir aku akan bunuh diri?* tanyaku.
"Aku mohon nona jangan mati muda. Aku tidak ingin hantu disini bertambah satu" ucap pria menyakinkan.
Aku langsung tertawa terbahak bahak mendengar perkataan pria itu. Dia pria yang pintar membujuk seseorang. Aku berjalan mendekati nya sambil terus tertawa kecil. Pria itu terlihat mundur perlahan saat aku mendekatinya.
__ADS_1
"Lihat sekarang kau sudah kerasukan salah satu hantu di jembatan ini." ucap pria itu sambil melantunkan surah surah pendek.
"Aku masih waras. Kau pria aneh yang berpikir aku bunuh diri" ucapku terkekeh melihat ekspresi pria itu.