
Pria itu terlihat legah mendengar penuturan ku. Aku yakin pasti dia berpikir aku akan melompat dan mengakhiri hidupku. Aku tidak mungkin seperti itu. Aku tidak ingin mereka yang membuatku terluka menjadi bangga dengan kematian ku.
Aku meninggalkan pria itu sambil terus saja tertawa. Aku sedikit terhibur dengan ucapan nya tadi. Aku pun berhenti disalah satu warung makan untuk menumpang istirahat sebentar. Mendinginkan isi kepalaku yang akan meledak.
*Astaga! Aku belum izin dengan Zayn. Pasti dia berpikir aku kabur* batinku.
Aku langsung mencari ponselku dan mencari kontak nama Zayn. Namun aku tidak menemukan nomor pria itu. Aku semakin panik, aku takut ia akan memutuskan pengobatan ayah.
"Sampai kapan pun aku mencari nomor ponsel nya tidak akan dapat, kami kan belum bertukar nomor ponsel ?" ucapku pelan menyadari kebodohan ku.
"Apa kau butuh sesuatu?"
"Iya. Aku membutuhkan tumpangan untuk kembali," jawabku sambil terus menghubungi ponsel Cecil.
"Ayo. Aku akan mengantar mu." Ucapnya.
"Kau, "
__ADS_1
Aku terkejut melihat pria tadi sudah berdiri di samping ku, dan menawarkan tumpangan untuk kembali pulang. Akhirnya aku kembali pulang bersama nya menuju perusahaan Zayn.
"Sepertinya kau memiliki masalah"
"Apa aku terlihat lemah" tanyaku.
"Tidak sama sekali. Namun senyum paslu mu dapat kupastikan kau sedang ada masalah" jawabnya.
Aku melihat kearah luar saat pria disamping ku mengatakan hal itu. Apa aku begitu terlihat rapuh saat ini?
"Dimana rumahmu?"
*Perusahaan itu, * gumam nya.
Aku turun setelah mengucapkan terimakasih. Aku langsung masuk kedalam perusahaan, yang membuat pria didalam mobil terlihat penasaran. Ketika semua karyawan yang melihatku langsung menundukkan kepalanya.
*Sebenarnya siapa dia?" tanyaku.
__ADS_1
Aku meninggalkan perusahaan itu sambil terus memikirkan wanita itu. Dia terlihat sederhana meskipun memakai baju yang mahal. Dan dari sikapnya aku yakin dia hanya wanita biasa bukan dari kalangan atas. Namun kenapa saat dia masuk kedalam perusahaan mereka semua menunduk patuh?"
***
Aku terkejut melihat pemandangan yang ada diruangan ini. Terlihat banyak berkas berserakan dimana mana. Ku edarkan padanganku mencari sosok pria itu. Namun tidak ada, melainkan aku melihat ada bercak darah ditembok.
Aku takut terjadi sesuatu pada pria itu. Meskipun Dia pria yang dingin tapi dia sudah menolong ku dan membantu ayah.
Aku keluar ruangan untuk mencari pria itu. Namun aku hanya mendapatkan kabar bahwa Zayn pergi ke rumah sakit. Jantung ku berhenti berdetak saat mendengar nama rumah sakit itu. Itu rumah sakit yang sama tempat ayah dirawat.
Aku bergegas pergi kesana untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sesampai nya aku disana betapa terkejut nya aku melihat kobaran api yang sangat besar melahap seluruh rumah sakit itu.
"Ayah, "
Aku harus menyelamatkan ayah sekarang. Hanya ayah yang saat ini aku miliki. Aku berlari sangat kencang untuk menyelamatkan ayah. Namun saat mendekati bangunan aku ditahan oleh polisi yang menjaga rumah sakit.
Aku terus saja berontak melepaskan diri. Aku tidak akan sanggup kehilangan ayah. Aku sudah kehilangan sahabat juga pacar yang sangat aku sayangi. Namun lama kelamaan pandangan ku menjadi buram.
__ADS_1
Samar samar aku melihat pria itu berlari kearahku dengan wajah yang sangat panik, Namun aku tidak ingat apapun. Tubuhku menjadi lemas dan aku langsung jatuh pingsan.