Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Batal Menikah


__ADS_3


Suasana pulau kecil yang begitu indah dikelilingi oleh laut berwarna biru dan hamparan pasir putih. Terlihat langkah sepasang calon pengantin dengan tangan bergandengan menuju singgasana yang ada di hadapan kami––para tamu undangan untuk melakukan prosesi ijab kabul calon mempelai pagi ini sekitar jam sembilan.


Suasana riuh saat menunggu sepasang pengantin tiba-tiba menjadi hening ketika terdengar alunan musik romantis dari piano yang mengiri langkah keduanya, serta debur ombak di tepi pantai membuat suasana semakin terasa hangat dan romantis.


Sang calon pengantin pria menarik kursi dan mempersilakan duduk pada calon pengantin perempuan yang tidak lain bosku di kantor bernama Zaskia Albern atau sering kami panggil Zaskia Gotik karena wajah yang memang mirip dengan artis dangdut tersebut. Bedanya Gotik di sini begitu galak dan tidak ramah pada karyawannya.


"Silahkan, Sayang," ucap pengantin pria bernama Erwin, lelaki yang dipilih oleh Mbak Zaskia alias Mbak Gotik untuk menjadikannya pasangan hidup.


Mbak Gotik terlihat anggun dengan senyum menawan ia duduk masih menggenggam buket bunga pengantin berwarna putih sesuai dengan gaun yang dikenakan oleh mereka. Oh, iya, para tamu yang datang pun memakai kostum serba putih atas permintaan pengantin tentunya.


Acara akan segera dimulai setelah pak penghulu menanyakan kesiapannya pada calon pengantin dan ayah dari Mbak Gotik yang bernama Tuan Bobby Albern yang sudah berhadapan dengan calon menantunya tersebut.


"Bagaimana? Apakah calon mempelai pengantin dan ayah dari calon pengantin wanita telah siap menjadi wali nikah?" tanya pak penghulu dengan tatapan mengarah pada Pak Erwin dan Tuan Bobby Albern sebagai wali nikah untuk putrinya.


"Siap!" ucap calon menantu dan calon mertuanya.


Keadaan hening seketika, senyap hanya tiupan angin pantai serta debur ombak yang terdengar halus menyapu pasir putih yang lembut.


"Baik, kita mulai saja, ya?" ucap pak penghulu setelah sebelumnya mereka mengadakan gladi resik pengucapan ijab kabul.


Kini tangan Tuan Bobby Albern dan Pak Erwin berjabat serta lafaz ijab yang diikrarkan oleh Tuan Bobby Albern.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan putri saya yang bernama Zaskia Albern binti Bobby Albern padamu dengan satu set perhiasan emas dan uang sebesar USD 78.000, tunai!" ucap Tuan Bobby Albern penuh semangat yang bersambut oleh jawaban dari Pak Erwin.


"Saya terima nikah dan––" Belum juga usai Pak Erwin meneruskan jawaban dari ijab kabul, seorang wanita berteriak.


"TUNGGU!!!" pekik wanita muda yang sedang menggendong bayi. Sepertinya usianya tidak terlalu jauh denganku.


Wanita itu berjalan cepat menuju singgasana pengantin. Banyak pasang mata kini tertuju padanya, termasuk aku.


Plak!


Tamparan keras meluncur pada pipi Mbak Gotik.

__ADS_1


"Dasar pelakor! Beraninya kau ambil suamiku, hah?!" Wanita itu terlihat marah dan kecewa dengan bola mata yang seolah hendak keluar dari tempatnya saat melihat Mbak Gotik.


"Mas, kenapa kamu tega sama aku, Mas? Kita baru saja merayakan anniversary pernikahan yang kedua. Apalagi kini di tengah-tengah keluarga kita udah ada bayi, Mas. Anak kita!" ucap wanita itu ketika melihat Pak Erwin.


Keadaan pesta menjadi kacau setelah kedatangan ibu muda bersama bayinya yang mengaku sebagai istri sekaligus ibu dari buah hati dari bayi Pak Erwin. Bahkan saat ini mulut-mulut nyinyir telah banyak berspekulasi dengan pandangan berbeda-beda pada Mbak Gotik.


"Pergi kamu, Mas! Aku tidak sudi menikah denganmu!" ucap Mbak Gotik sambil menunjuk ke laut Pada Pak Erwin.


"Mbak, silahkan Mbak pergi dan bawa suami Mbak dari sini. Perlu Mbak ketahui, saya juga di sini sebagai korban dari suami Mbak. Saya tidak mengetahui kalau dia telah menikah bahkan telah memiliki anak dari Mbak. Pergi kalian!" geram Mbak Gotik.


"Tapi aku bisa jelasin, Kia. Aku tidak ingin pernikahan kita kandas," pinta Pak Erwin memelas, tetapi Mbak Gotik tidak menggubrisnya.


"Aku bilang pergi, ya, pergi!!!" Mbak Gotik sepertinya tidak mau bernegosiasi. Sementara Tuan Bobby terlihat menenangkan istrinya.


Wanita yang menggendong bayinya itu menyeret lengan Pak Erwin. Sempat terlihat mereka bertengkar setelah agak jauh dari singgasana pengantin dan di sini masih riuh dengan suara-suara miring dari tamu undangan.


Tangis ibunda Mbak Gotik pecah sedari tadi. Ia meronta-ronta, tidak terima anaknya dipermalukan seperti ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan hal ini sudah terjadi. Keadaan belum membaik karena sang ibunda malah pingsan setelah kejadian memalukan itu.


"Bun, Bunda. Bundaaaa!"


Entah apa yang terjadi di dalam sana. Aku yang hanya staf karyawan di kantornya tidak berani untuk ikut campur atau sekadar ingin mengetahui keadaan ibu dari bosku.


Mbak Gotik terlihat keluar dari dalam cottage dan berlari ke arah belakang dengan air mata berlinang. Sontak, aku berjalan bermaksud sekadar ingin mengetahui keadaannya saat ini. Tidak menutup kemungkinan ia akan bunuh diri, kan? Ah, sedrama itu pemikiranku saat ini.


"Mbak, semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan loncat, jangan loncat dari sini, Mbak!" ucapku berusaha mencegah ketika melihat Mbak Gotik yang berdiri di atas batu besar dan di bawahnya terlihat air laut dengan ombak besar. Ah, aku membayangkan tubuh manusia yang akan mati diterjang ombak besar yang menghantam karang yang kokoh dan besar di bawah sana. Namun, sepertinya Mbak Gotik tidak mengindahkan peringatanku.


"Mbaaaakkk!!!" Aku meraih pinggangnya hingga tubuh Mbak Gotik kini menimpaku.


"Apaan, sih?! Aku hanya ingin membuang cincin sialan ini!" ucap Mbak Gotik saat tubuhnya sudah tidak menimpa tubuhku.


"Kirain Mbak mau bunuh diri." Aku tersenyum dan mengusap tengkuk karena merasa malu.


"Bunuh diri? Gak banget!" sinisnya.


"Gimana keadaan Nyoya, Mbak?"

__ADS_1


Wajah sinis itu berubah melemah dan Mbak Gotik seolah hilang galaknya saat aku menanyakan keadaan ibundanya.


"Dia tetap ingin melihat aku menikah," jawab lirih Mbak Gotik dengan pandangan merunduk.


Aku hanya mematung bahkan kecerewetan dan kesotoyanku seolah membeku. Ya, aku orang yang paling lemah apabila menceritakan tentang kesedihan ibu. Bagiku, ibu merupakan orang yang martabatnya harus dijujung tinggi dan dibahagiakan selagi masih ada bersama kita.


"Pasti karena dana yang digelontorkan juga sangat besar, ya, Mbak?"


"Bukan itu hal yang utama," jawabnya masih dengan nada lemah lembut.


"Lalu?"


"Usiaku yang sudah tua untuk menikah kata Bunda."


Aku kembali terdiam. Sungguh, aku tidak bisa berkata apa-apa selain hanya mematung di depan Mbak Gotik. Usiaku yang baru dua puluh satu tahun dan hanya lulusan D3 belum mampu untuk berpikir jauh, terlebih tentang pernikahan.


Hening.


Entah berapa lama kami hanya mematung dengan angin laut yang kencang menerpa tubuh kami. Namun, keadaan hening itu berubah saat seulas senyum sarkas terukur di bibir Mbak Gotik.


"Aku ada ide!" ucap Mbak Gotik.


"Apa?"


"Kamu mau menolongku, kan?" sambung Mbak Gotik.


Aku mengangguk.


Tanpa meminta ijin Mbak Gotik menarik lenganku. Ia berlari cukup kencang kemudian berteriak saat kami berdua sudah ada di dalam cottage mewah.


"Bunda, aku tidak akan mengecewakan kalian! Aku tetap akan menikah hari ini," ucap Mbak Gotik saat aku berada di sisinya.


Tangis dari ibunda Mbak Gotik tiba-tiba terhenti dengan sorot mata yang entah saat melihat anaknya.


"Aku akan menikah dengan dia!" ucap Mbak Gotik sambil menunjukku.

__ADS_1


"Aku?" Mataku membulat saat mendengar ucapan Mbak Gotik. Sungguh, aku merasa dijebak olehnya saat ini.


__ADS_2