
Namanya Galih, salah satu investor yang berani menanam saham di perusahaan Tuan Bobby. Tentu saja beliau terlihat senang bahkan berkali-kali ia memeluk istrinya saat kami semua sudah berkumpul di ruang tamu.
"Ayah dan Bunda enggak jadi ke London, dong?" tanya Mbak Gotik di sela obrolan mereka.
"Jadilah, Sayang. Kami akan mengembangkan bisnis di sana karena di negara sendiri tidak bisa menjanjikan," tutur Tuan Bobby yang membuat ekspresi wajah Mbak Gotik murung.
"Sayang, kita, kan masih bisa video call-an," tutur Nyonya Sintia sambil mengusap pipi putrinya.
Aku hanya diam. Memperhatikan setiap ekspresi dari orang-orang yang ada di dalam ruang tamu ini, termasuk istriku yang terlihat sedih.
Hingga akhirnya Mbak Gotik berpamitan pada kedua orangtuanya yang memang telah merencanakan kepergian ke London sudah jauh-jauh hari katanya.
Tamu yang bernama Galih pun sudah pulang sejak setengah jam lalu dan saat ini waktu hampir mengarah pada angka sembilan malam.
"Ya sudah, aku pamit pulang, Yah, Bund," ucap Mbak Gotik sambil memeluk kedua orangtuanya bergantian.
"Hati-hati, Sayang. Kami berangkat setelah subuh dari rumah," kata Nyonya Sintia pada putrinya. "Levine, jaga baik-baik putriku!"
"Siap, Nyonya!"
"Ya sudah, aku pulang sekarang ya, Bund. Aku doain yang terbaik dan semoga kalian selalu sehat-sehat," ucap Mbak Gotik sebelum kami berada dalam mobil.
Saat ini terasa hening meski hujan telah reda. Namun, aku melihat hujan lain dari dalam mobil. Rintik itu telah membasahi pipi putih Mbak Gotik, hujan lokal yang hanya membasahi pipinya saja.
Aku menghentikan laju kendaraan dan spontan aku membingkai wajah Mbak Gotik, lalu mengusap air matanya dengan jempol tangan.
"Nangis lah, kalo dengan nangis Mbak bisa sedikit tenang," kataku sambil memandangnya.
"Eits! Tapi gak boleh dari lima menit, ya?!" Aku mengacungkan telunjuk di depan wajahnya persis seperti seseorang yang sedang memarahi anak kecil.
"Kok, cuma bentar?" ucap Mbak Gotik yang terdengar seperti hendak menangis.
"Kalau mau nangis lima menit, lebih dari itu ancamannya tetap sama. Tau, kan, apa ancamannya?" tanyaku sambil menaikkan satu alis.
Mbak Gotik sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang telah aku berikan. Ia menangis dengan suara terdengar cukup kencang.
Aku memilih untuk memacu mobil daripada ada orang yang menyangka aku menculik seorang gadis dalam mobil.
Setelah lima menit akhirnya aku kembali menepikan mobil, lalu melirik ke arah Mbak Gotik dan ternyata tisu sudah berserakan di jok serta area yang sedang ia duduki.
"Stop!" kataku yang membuat tangis Mbak Gotik terhenti, tetapi tidak dengan isaknya.
"Belum lima menit, Le."
"Udah."
"Belum, Lele," rengeknya seolah ingin kembali menangis.
"Mbak mau kita melewati malam ini dengan bulan madu, hah?!"
Sepasang mata Mbak Gotik menatapku kemudian ia menggeleng.
"Makanya gak usah nangis lagi, nanti mata Mbak makin bengkak."
"Tapi aku masih ingin menangis, Leleee." Mbak Gotik masih merengek.
__ADS_1
Aku menarik lengannya sampai tubuh Mbak Gotik berada dalam dekapanku. Entah kenapa aku ingin sekali melihatnya tersenyum tanpa tangis. Aku hanya ingin melihat ia tersenyum, tertawa bahagia. Aku tidak ingin melihat derai air mata membasahi pipinya kecuali air mata kebahagiaan suatu saat nanti.
Aku mendekapnya semakin erat hingga akhirnya lengan Mbak Gotik pun ikut melingkar pada punggungku.
Entah berapa lama kami berpelukan hingga akhirnya isak tangis itu pun menghilang.
"Sorry," kataku sambil melepaskan pelukan.
"Enggak apa-apa," jawabnya sambil menyelipkan rambut pada telinganya.
***
Aku melihat kesedihan pada wajah Mbak Gotik. Apalagi saat ini kami sedang tidak beraktivitas di kantor hingga aku harus selalu melihat wajah murungnya.
Tidak, aku tidak kesal padanya. Yang ada malah aku merasa menjadi orang yang gagal untuk menghiburnya. Meskipun tidak tertawa, paling tidak mendengar teriakannya dan kata andalan yang bisa terlontar padaku; 'najis!' kata ini akhirnya aku rindukan.
Dari pagi hingga sore hari Mbak Gotik hanya mengurung diri di kamarnya, entah ia melakukan apa dari pagi hingga senja menggores langit dengan warna jingga yang indah. Namun, Mbak Gotik masih betah berlama-lama di dalam sana.
"Mbak?" Aku memanggilnya sembari mengetuk pintu kamar.
"Iya, Le," jawabnya terdengar lemas.
"Boleh gue masuk?"
"Masuk aja, enggak aku kunci."
Aku mendorong pintu kamar Mbak Gotik dan terlihat ia terbaring di ranjang dengan tubuh yang terbungkus selimut.
"Mbak kenapa?"
"Kita ke rumah sakit!" Aku meraih tubuhnya. Namun, tangan Mbak Gotik seolah menghalangiku.
Mbak Gotik menggeleng.
"Kenapa?" Aku bertanya heran.
"Aku baik-baik aja, kok, aku hanya––" jawabnya terdengar lemah kemudian terhenti dan berganti dengan suara perut keroncongan.
Aku tersenyum.
"Dari tadi Alda ke sini membawakan makanan gak Mbak makan?"
Mbak Gotik menggeleng.
Aku yang masih menatap wajahnya hanya mampu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan-lahan. Ingin marah karena ia bersikap seperti anak kecil, tetapi rasa yang entah malah lebih menyuruhku untuk selalu bersikap lembut padanya.
Ya Tuhan, kenapa aku jadi begini? Aku yang cuek kenapa bisa selemah ini di hadap dia?
"Tunggu di sini!" kataku kemudian bangkit dari tepi ranjangnya.
"Kamu mau ke mana?"
"Ke dapur sebentar."
Aku berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Sesampainya di dapur langsung mengambil nampan berukuran sedang.
__ADS_1
"Mas Levine lagi apa?" Suara Alda terdengar menyapaku ketika aku mengambil nasi dari Magicom.
"Ambil makan buat Mbak Gotik," jawabku tanpa menoleh.
"Biar aku bantu," tawarnya, tetapi aku menolak.
"Gak usah, ini sudah hampir selesai."
Aku menata semua pada nampan berukuran sedang setelah makanan dan air mineral sudah tersaji akhinya aku membawanya pergi dari dapur.
"Mas! Biar aku antar!" Alda kembali menawarkan jasanya, tetapi aku tolak.
"Kenapa, sih, Mas selalu menolak tawaranku?!" ketusnya.
Aku membalikkan tubuh dan menatap wajahnya yang terlihat kesal. Bahkan bibirnya pun terlihat ditekuk persis seperti seseorang yang marah pada pasangannya.
"Lu kesurupan?" tanyaku heran.
"Enggak." Alda menggeleng.
"Lalu, kenapa lu bersikap seperti orang yang kesal sama gue? Padahal harusnya lu seneng karena pekerjaan lu gue yang handle."
Alda terdiam kemudian tertunduk tanpa ada kata-kata. Aku memilih pergi karena prioritasku hanya Mbak Gotik yang telah menjadi istriku.
"Makan, ya? Gue suapin," kataku sambil menyendok nasi dan sayur.
Mbak Gotik menurut dan membuka mulutnya. Suapan demi suapan nasi telah meluncur ke mulutnya dan menghuni perut yang telah kosong entah dari kapan.
"Ada parasetamol?" tanyaku.
"Ada, di laci nakas," jawab Mbak Gotik sambil menunjuk pada nakas warna putih di samping ranjang.
Aku membuka dan menemukan obat penurun panas. Segera kuberikan padanya untuk ia minum.
"Aku enggak mau, aku udah sehat, kok," kilahnya meski bibirnya masih terlihat pucat.
"Mending minum paracetamol atau––" Kalimatku belum usai, tetapi paracetamol yang ada di tangan seketika disambar oleh Mbak Gotik. Bahkan tidak memerlukan banyak drama, obat itu sudah raib ia telan.
"Udah! Jangan ancam aku lagi," ucapnya yang membuatku gemas.
"Ya udah, Mbak tidur biar badannya bisa istirahat," titahku.
Tidak ada bantahan. Ia membalikkan tubuhnya dan memunggungiku.
Aku masih duduk melihat Mbak Gotik. Entah berapa jam aku masih bertahan di kursi samping ranjang Mbak Gotik sambil mengecek keningnya.
Entah, ini pengecekan ke berapa dan aku bersyukur akhirnya suhu di kening Mbak Gotik saat ini hampir stabil.
Tubuh terasa letih, terlebih mata yang terasa lengket membuatku hampir terjatuh dari kursi karena hampir terlelap.
"Makasih, ya, Le?" Terdengar suara Mbak Gotik.
Aku yang telah mengantuk akhirnya tersenyum dan pastinya bahagia karena Mbak Gotik bicara terdengar begitu manis dan terdengar tulus. Apalagi ketika tubuh Mbak Gotik berpindah menjadi menghadap padaku.
"Lah, ternyata dia ngelindur," kataku dengan bibir nge-flat ketika menyadari kalau ucapan manis itu hanyalah sekadar ocehan di bawah alam sadarnya dengan mata terpejam sempurna.
__ADS_1