
Tuan Bobby Albern tertawa.
"Jangan bercanda, Kia! Dia itu hanya staf rendahan di kantormu!" ucap Tuan Bobby Albern sambil melirik sinis ke arahku. Bahkan sekadar menyebut namaku saja seolah alergi.
"Daripada nama baik keluarga Albern malu? Apa Ayah siap mendapatkan cibiran orang atau bahkan kolega bisnis Ayah? Lagi pula mereka tidak hadir di sini, kan? Tapi aku yakin kalau sampai pernikahanku hari ini gagal nama Ayah pasti akan tercemar, pun, dengan nama perusahaan," ucap Mbak Gotik.
Kini Tuan Bobby Albern terdiam. Sepertinya ia menelaah apa yang diucapkan oleh Mbak Gotik yang aku akui memang pintar. Namun, sepertinya ia melupakan aku yang akan menolak pernikahan ini dengan keras. Enak saja aku harus menikahi perawan tua sepertinya? Ya, meski wajah Mbak Gotik menolak tua.
"Ma––" ucapku terjeda saat ibunda dari Mbak Gotik mengucapkan kalimat.
"Bunda ikut Kia aja, Yah. Benar kata Kia, nama besar keluarga Albern dipertaruhkan kalau pernikahan putri kita gagal. Aku enggak mau nama anak kita hancur disebut perawan tua, Yah." Binar mata ibunda Mbak Gotik menatap suaminya dengan sepasang mata sembab berkaca-kaca seolah tinggal menunggu kedipan air mata akan luluh-lantak dari tanggul pertahanannya.
Hening.
Aku tidak mampu menolak setelah ibunda dari Mbak Gotik berkata. Ya, aku akui beliau lebih legowo, tetapi sepertinya melupakanku yang sesungguhnya tidak mau dengan pernikahan ini, Tuhan!
"Ya, benar apa yang kamu katakan, Sayang. Bukan hanya putri kita yang akan menanggung malu, tetapi nama baik keluarga besar kita juga akan menanggung malu," ucap Tuan Bobby Albern yang disambut oleh helaan napas lega dari Mbak Gotik dan ibundanya.
Sedangkan aku? Sesak.
Setelah mediasi antara keluarga Albern tanpa melibatkanku akhirnya semuanya setuju kalau Mbak Gotik menikah denganku. Ya, Tuhan ... aku dianggap apa?
Aku mendobel kemeja putihku dengan tuxedo warna putih beserta aksesoris lainnya, termasuk sarung tangan.
"Tenang saja, ini hanya pernikahan sementara. Kita bisa bubaran kapan saja," bisik Mbak Gotik yang membuat mata sipitku melebar.
"Sementara? Dikira gue barang yang bisa dicoba lalu dibuang gitu aja?" gumamku kesal.
"Heh! Apa maksudmu? Kamu kira kita akan mengadakan sesi malam pertama? Jangan bermimpi!" ketusnya pelan tetapi tegas.
Saat ini aku sudah berhadapan dengan Tuan Bobby Albern. Jujur jantungku saat ini berdegup kencang apalagi saat semua orang tidak berbicara hanya ada suaraku saat pak penghulu mengajariku untuk pelafalan ijab.
Bukan cuma satu kali aku mengulang. Tampaknya aku benar-benar gerogi dengan keadaan ini hingga wajah kesal terlihat dari keluarga Albern.
Suka-suka kalian, lah! Mau kesal atau tidak. Lagian, aku hadir di sini sebatas tamu undangan yang malah disuruh menggantikan calon pengantin laki-laki.
Akhirnya ijab dimulai. Tuan Bobby Albern mengucapkan lafaz ijab yang kemudian bersambut olehku.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Zaskia Gotik––" Belum selesai aku menjawab, tamu undangan di sini malah tertawa dan setelah aku sedikit diam, barulah sadar kalau aku salah mengucapakan nama pengantin yang sebentar lagi akan menjadi istriku.
"Kamu jangan bikin malu!" sargah Tuan Bobby Albern dengan sorot kesal menatapku.
Aku menarik napas dalam kemudian mengembuskannya perlahan-lahan. Mencoba untuk santai dan lebih berkonsentrasi lagi setelah ada seseorang memberikanku air mineral.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zaskia Albern dengan mahar tersebut dibayar, tunai!" jawabku setelah perevisian mahar di awal.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu sambil melihat pada wajah-wajah orang yang diangkat menjadi saksi pernikahan Mbak Gotik denganku.
"Saaaaahhhh!!!" Serentak mengucap kata sah yang menandakan kami saat ini resmi menjadi sepasang suami-istri.
**
Malam pun tiba setelah sore hari keluarga Albern berpamitan untuk pulang. Kini hanya menyisakan kami berdua dalam cottage mewah yang memang dikhususkan untuk orang yang sedang berbulan madu.
Sesungguhnya ada beberapa cottage lain di sini, hanya saja jaraknya tidak terlalu dekat dan di sini juga ada beberapa restoran yang memang disediakan oleh pengelola pulau untuk wisatawan yang memilih untuk bermalam atau menghabiskan waktu mereka di pulau kecil nan indah ini.
"Jangan deket-deket!" sentak Mbak Gotik padaku.
"Dih, Mbak, kan, udah jadi istri gue. Bebas dong gue mau deket atau sekalian mepet? Ingat, udah saaaaahhhh," bisikku di telinganya.
"Awas! Aku mau mandi," ketus Mbak Gotik. Ia bangkit dari tepi ranjang dan meraih handuk masih mengenakan gaun pernikahan tadi siang.
"Gue tunggu di sini, Mbak. Mandi yang wangi biar gue semangat!" teriakku dengan seulas senyum.
"Najiiisss!" Terdengar suara Mbak Gotik menggema di kamar mandi.
Aku merebahkan tubuh di tempat tidur setelah membuka tuxedo dan juga kemeja. Saat ini aku hanya mengenakan celana panjang dan kaos dalam warna putih polos. Suasana di cottage memang sepi. Hanya terdengar angin malam, debur ombak dan juga beberapa binatang malam yang seolah menjadi alunan harmoni indah malam ini.
"Mandi sana!"
Aku terperanjat dan sepertinya tadi aku terlelap ketika menunggu Mbak Gotik mandi terlalu lama.
"Iya," jawabku saat melihat Mbak Gotik telah mengenakan piyama tidur berlengan pendek dengan bawahan celana panjang warna navy.
Tidak terlalu lama aku mandi karena cuaca dingin yang cukup membuatku meler. Cepat-cepat aku mengenakan kaos dalam dan celana yang tadi karena memang tidak membawa apa-apa ke sini. Uang di ATM yang aku kumpul dari lama telah raib untuk emas kawin.
__ADS_1
"Ih, cepet banget mandinya?" tanya Mbak Gotik.
"Ya terus kudu lama-lama, gitu? Meler, Mbak. Masa malam pertama yang keluar malah ingus?"
"Heh! Hentikan ocehanmu tentang malam pertama! Sudah aku bilang kita bisa bercerai kapan saja, jadi jangan bahas malam pertama terus!" ketusnya dengan mata membulat sempurna.
"Lalu, apa yang kita lakukan malam ini?"
"Tidur, aku ngantuk!" ucapnya kemudian masuk ke dalam selimut. "Eits! Ingat, jangan macam-macam! Apalagi sampai menyentuhku!" ancamnya kemudian langsung meraih bantal untuk dijadikan sekat/pemisah kasur bagianku dengan dia.
Ah, sudahlah. Tidak ada yang bisa kulakukan selain daripada menuruti apa yang ia mau. Ternyata benar, uang bisa menciptakan/membeli semuanya. Termasuk aku yang dijadikan suami tanpa mendapatkan hak penuh darinya.
Aku memejamkan mata. Entah berapa lama sepertinya aku telah terlelap saat tersadar sayup-sayup ada yang menyebut namaku.
"Le, Le, banguuun."
Kini tubuhku ikut terguncang hingga membuat mata kantukku terpaksa kubuka.
"Apa?" kataku saat melihat Mbak Gotik yang ada di sampingku.
"Aku lapar. Cari makan, yuk?" ajaknya dengan wajah memelas membuatku tidak tega.
Aku melirik pada jam dinding yang baru saja menunjuk ke angka sembilan. Namun, entah kenapa mataku memang mengantuk.
Akhirnya aku bangkit dan menuruti apa yang diinginkan oleh Mbak Gotik.
Kami berjalan ke salah satu restoran yang tidak terlalu jauh dengan cottage kami. Di sana Mbak Gotik memesan sea food dan orange jus. Sedangkan aku hanya memesan latte saja.
"Makaaan!" ucap Mbak Gotik terlihat semringah saat pesanannya telah tersaji.
Aku menyesap latte yang ada di cangkir keramik putih dan menikmati wajah alami Mbak Gotik tanpa polesan make-up malah membuatnya makin terlihat muda meski saat ini usianya sudah tiga puluh satu tahun.
Ekspresi wajah ceria Mbak Gotik tiba-tiba memudar saat ini membuatku bertanya; dia kenapa?
visualisasi aku (Levine) & Mbak Gotik
__ADS_1