Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Lucu


__ADS_3

"Aaaa!!!"


Suara teriakan mengagetkan dan kubuka mata tenyata seseorang yang ada dalam dekapan berteriak.


Plak!


Tamparan melesat pada pipiku, sakit.


"Kenapa kamu berani memelukku?!" tanya Mbak Gotik yang langsung menjauhkan tubuhnya dariku.


"Mbak yang minta, semalam, kan, Mbak mabuk dan––" kataku terhenti karena Mbak Gotik nyerocos panjang lebar.


"Kamu?!" Telunjuk Mbak Gotik menunjuk wajahku dengan mata yang membulat.


"Kamu manfaatin keadaan! Udah tau aku mabuk, kenapa juga kamu malah menuruti perkataan orang mabuk? Itu bukan aku yang minta, Leleeee! Aku enggak sadar, harusnya kamu ngerti bukan malah menuruti, pakek acara meluk-meluk segala pula. Menyebalkan!" katanya lagi sudah seperti petasan saat bicara.


Sepertinya Mbak Gotik capek, dia terdiam sejenak hingga akhirnya suasana menjadi tidak enak saat tatapan sengit memandangku saat ini.


"Kenapa aku memakai baju ini? Perasaan saat malam tadi bukan baju ini yang aku kenakan," ucap Mbak Gotik sambil memperhatikan baju yang melekat di tubuhnya.


Mata Mbak Gotik kini menyorot padaku dengan tajam.


"Le, jangan kamu bilang kalau yang mengganti bajuku itu––" tanya Mbak Gotik dengan sorot was-was menatapku.


Aku tersenyum.


"Ah, LELEEEE!!!" pekik Mbak Gotik kesal.


***


Mentari sudah mulai naik dan terasa hangat setelah aku mandi pagi. Jarum jam dinding menunjuk ke angka delapan dan Mbak Gotik masih memilih di dalam selimut.


"Mandi, gih!" kataku sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


"Males!" jawabnya yang masih memeluk bantal guling dengan wajah kesal.


"Gue mau cari baju, masa iya masih pakai baju ini dari kemarin?"


"Terserah!" ucapnya sambil memalingkan tubuh memunggungiku. Lucu, Mbak Gotik benar-benar lucu.


"Awas, kalo ada laki-laki lain yang bertamu ke sini jangan dibuka. Siapa tau mau merkosa Mbak, kan?"


Tubuh yang tadi membelakangiku akhirnya kembali mengarah padaku dengan tatap seolah takut saat melihat ke arahku. Namun, tiba-tiba saja bantal yang terbalut kain putih itu meluncur tepat mengenai wajahku.

__ADS_1


"Enggak usah nakutin aku!" ucapnya dengan wajah kesal.


Aku yang kaget tiba-tiba saja menjadi tersenyum. Sungguh, dia benar-benar wanita langka yang baru aku temui dalam hidup.


"Pergi, sana! Aku masih marah sama kamu karena udah berani gantiin bajuku semalam," ucap Mbak Gotik yang benar-benar terlihat kesal.


"Ya, ya, ya. Padahal bukan cuma pakaian Mbak yang gue ganti. Kita juga––"


"PERGIIII!!!"


Tidak ingin terkena sabetan bantal akhirnya aku memilih keluar dari cottage dan berjalan santai tanpa tujuan karena aku belum mengetahui ada yang menjual pakaian ataukah tidak.


Beruntung ada yang menjual baju tidak jauh dari cottage yang kutempati dengan Mbak Gotik meski yang aku lihat hanya baju-baju pantai dan aksesoris lain yang berhubungan dengan berenang/snorkeling saja.


"Pagi Mas ganteng ...." sapa seorang wanita dewasa mengenakan pakaian pantai. Ia terlihat menarik dengan kulit eksotis serta senyum lebar saat menyapaku yang berdiri di lapaknya.


"Pagi, Mbak. Bisa tolong dipilihin baju dan celana yang gak terlalu rame motifnya, gak?"


Si penjual malah tertawa.


"Namanya motif baju pantai, ya, pasti seperti ini semua. Mas ganteng suka bercanda, ih!" katanya sambil mencolek pinggangku. Ganjen!


"Kalau milih warna, untuk Mas ganteng pasti cocok semua, lah. Mau warna cerah, warna gelap, bahkan warna dari alam ghaib, pun, sepertinya cocok-cocok saja," ucapnya dengan semangat mengataiku.


Penjual itu tersenyum sambil meraih dua baju pantai dengan dominasi masing-masing baju berwarna biru dan merah untukku serta celana pendek polos. Untung saja celananya tidak bermotif pohon kelapa juga.


Aku menyerahkan uang setelah ia menyebutkan nominal yang harus aku bayar. Sumpah, kali ini dompet cungkring seperti tubuhku.


Perutku keroncongan saat hendak kembali ke cottage. Aku meraih ponsel dan mencari nama 'Itik Galak' di ponselku.


"Halo? Ada apa telpon aku?" Terdengar suara perempuan dari dalam ponsel yang saat ini sudah menjadi istriku.


"Gue mau beli makanan, Mbak mau makan apa?"


"Makan orang!" ucapnya terdengar masih kesal.


"Oke!"


"Ih, kok, oke?"


"Ya, terus? Gue harus tanya apa? Nanti aja di cottage makan gue yang imood dan gemesin!"


"Huweekkk! Najis!" jawabnya kemudian panggilan ponsel pun terputus.

__ADS_1


**


Aku membawa sarapan pagi ini yang kubeli di warung sederhana ketika aku berjalan ke cottage. Membawa dua kotak makan dengan sayur dan juga daging di dalamnya.


Seperti dugaanku, Mbak Gotik masih setia memeluk bantal guling yang sama-sama dipeluk oleh kami berdua tadi malam. Ah, aku jadi mengingat kejadian semalam. Di mana aku dan Mbak Gotik––


Sial! Bunyi ponsel Mbak Gotik mengagetkanku saat sedang asyik mengingat malam indah tadi.


"Halo?"


Mbak Gotik terlihat menjawab ponsel. Sementara aku berjalan menuju dapur kecil di belakang untuk mengambil air minum yang memang disediakan oleh pengelola cottage. Namun, saat kembali ke ruang utama malah melihat air mata meleleh dari pipi Mbak Gotik.


"Aku akan segera pulang, Yah." Suara pelan dan terdengar sedih aku dengar ketika ponsel masih menempel di pipi Mbak Gotik serta air mata yang telah membasahi pipi.


Aku yang sedang membawa dua gelas air berdiri mematung dan saat ini Mbak Gotik bangkit dari ranjang dan membuka––


"Leleeeee!!!! Ngapain kamu di situ?" teriak Mbak Gotik ketika ia hampir membuka baju.


"Tutup pintunya, aku mau berganti pakaian!" sengitnya dengan sorot mata bukan sedih lagi, tapi berubah menjadi kesal saat melihatku.


Tanpa banyak bicara aku menutupnya menggunakan kaki karena kedua tanganku sedang membawa gelas. Tidak ingin kelaparan akhirnya aku memilih makan lebih dulu karena aku tahu kalau Mbak Gotik berganti baju akan lama sekali. Keren, ya, aku bisa mengetahuinya? Jelas aku tahu karena ketika menunggunya mandi pun aku bisa sampai ketiduran.


Makan telah usai beberapa menit yang lalu kemudian pintu kamar telah terbuka. Dari balik pintu yang telah terbuka itu terlihat Mbak Gotik sudah berpakaian rapi mengenakan kemeja lengan panjang serta celana kain dan kaki yang beralaskan high heels.


"Kita pulang sekarang!" ucap Mbak Gotik saat ia sedang mengenakan jam di tangannya.


"Sekarang? Kan, Mbak belum makan. Makan dulu, la!" pintaku.


Meski Mbak Gotik tidak menyukaiku, tetapi aku saat ini sudah menjadi suaminya dan sudah menjadi kewajibanku untuk menjaganya.


Sejak kapan aku bisa sweet dan tanggung jawab?


"Gak sempet, kapal sudah menunggu."


"Baiklah." Aku bangkit dan mengikutinya berjalan meninggalkan cottage.


Kapal pesiar milik keluarga Albern sudah menunggu kami di dermaga kecil yang memang disediakan oleh pengelola pulau. Namun, saat hendak menuju kapal ponsel Mbak Gotik berdering dan ia menghentikan langkahnya saat tangan ini mengulur untuknya.


"Iya, Yah. Aku udah ada di depan kapal mau berangkat," ucap Mbak Gotik saat menerima panggilan ponsel. Namun, wajahnya berubah menjadi pucat selang beberapa detik ia bicara.


'Gedubrak!'


Mbak Gotik jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2