
Mbak Gotik masih terisak dan aku masih duduk di sampingnya menunggu hujan dari matanya reda meski masih menyisakan isak-isak tangis.
"Kamu jahat, Levine!" Lagi, Mbak Gotik masih berasumsi sendiri. Padahal ia belum mendengar semua penjelasanku.
"Udah?"
"Apanya?" jawab Mbak Gotik terdengar parau.
"Ngambeknya."
Dia hanya melirik sinis kemudian terdiam.
Akhirnya aku menceritakan perihal kejadian di malam pertama. Ya, aku memang sempat tergoda. Aku membuka satu kancing piyamanya, tetapi tidak melanjutkan karena dalam pikiranku; aku bukan laki-laki yang memanfaatkan keadaan. Terlebih pernikahanku dengannya hanya seolah penutup aib, bukan atas dasar cinta. Aku pun tidak ingin terburu-buru menuangkan hawa nafsu pada seseorang yang bahkan untuk hati ini pun belum bisa memutuskan. Apakah aku benar-benar menyayanginya?
"Jadi, kamu tidak melakukan hal itu, Lele?" tanya Mbak Gotik dengan suara serak.
Aku menggeleng.
"Lalu, siapa yang udah gantiin baju aku?" tanya Mbak Gotik lagi.
"Pemilik cottage. Dia seorang perempuan makanya gue meminta tolong sama dia. Sumpah, gak ada sedikit pun gue berani kurang ajar sama Mbak."
Mbak Gotik terdiam, tetapi tatapan matanya menyorot tajam ke arahku.
"Lalu, ketika melukku itu namanya apa?"
"Itu mah bonus, Mbak," jawabku sambil nyengir.
"LEVINE!!!!" kesal Mbak Gotik.
Dalam kamar kami masih berdebat. Entah kenapa mual Mbak Gotik pun seolah hilang begitu saja dengan perdebatan ini, bahkan bantal dan guling terlihat berserakan di lantai sudah seperti kapal pecah saja.
Ini hari pertamaku untuk menjalankan misi meluluhkan hati Mbak Gotik. Entah hal apa yang akan kulakukan karena aku sadar diri bukanlah seorang yang romantis. Sementara Mbak Gotik sepertinya sangat menyukai karakter pria seperti itu, tapi bukan Levine Harwit namanya kalau sampai tidak bisa meluluhkan hati perempuan.
Mantan playboy masa diragukan?
"Mbak rehat deh! Gak usah masuk kantor dulu," kataku saat suasana sudah hening.
"Enggak! Hari ini aku ada meeting."
"Yakin kuat? Wajah Mbak masih pucat, loh."
"Aku bukan wanita lemah seperti mantan-mantan kamu!" sengitnya sambil menapakkan kaki ke lantai setelah ia berada di atas ranjang yang acak-acakan.
__ADS_1
Aku hanya mampu menurutinya. Sekeras ini memang dia, dan aku lagi-lagi harus meredam kekesalan karena harus selalu mengalah.
Aku merupakan seorang yang tidak suka diatur. Aku bisa meninggalkan apa pun demi memiliki kebebasan. Namun, entah kenapa saat ini rasanya sulit sekali. Padahal, apa susahnya meninggalkan Mbak Gotik yang bukan siapa-siapaku?
"Alda! Tolong jaga Katemi, ya? Hari ini aku tidak membawanya ke kantor," teriak Mbak Gotik pada asistennya.
Dari arah dapur terlihat Alda berlari menghadap pada Mbak Gotik yang sedang berdiri di sampingku.
"Baik, Non. Saya akan menjaganya dengan baik," jawab Alda sambil merundukkan kepalanya.
"Good!" ucap Mbak Gotik sembari berlalu pergi.
Aku yang hendak melangkah terhenti karena lenganku ada yang memegang.
"Mas, aku akan selalu menunggumu," ucap pelan Alda dengan sorot mata seolah penuh harap.
"Sorry, dari awal gue tegasin sama lu. Gue enggak ada rasa apa-apa sama lu dan alangkah baiknya perasaan lu ke gue kubur dalam-dalam. Gue sudah memiliki pasangan, meski gue juga gak tau bisa terus sama dia ataukah tidak. Tapi, dari detik ini gue tegasin sama lu; jangan pernah berharap apapun dari gue!"
Aku melepaskan tangannya kemudian kembali melangkah.
"Aku tidak akan meminta apapun darimu, Mas. Aku hanya meminta waktu padamu untuk menetralisir perasaan ini," ucapnya yang tidak aku hiraukan.
**
Sesungguhnya ada kekhawatiranku pada Mbak Gotik karena tadi pagi wajahnya terlihat pucat, bahkan ketika aku harus ke luar kantor pun wajahnya masih terlihat pucat.
Perusahaan Mbak Gotik memproduksi bahan pangan, bukan hanya satu produk dan aku dituntut jeli untuk melihat pasar agar tidak salah sasaran dan barang dari perusahaan bisa keluar dengan pesat dan menguntungkan.
"Es susu cokelat satu, Pak!" pintaku saat sudah berada di salah satu kafe kecil di dekat pasar modern yang aku sambangi.
"Baik, ditunggu, Mas!" ucapnya ramah kemudian berlalu pergi.
Waktu sudah menunjuk ke angka dua belas siang dan aku memutuskan untuk menelepon Mbak Gotik. Namun, sepertinya telepon saja tidak cukup untuk menuntaskan rasa kepenasaranku padanya. Hingga akhirnya aku memilih untuk melakukan video call bertujuan untuk memastikan kalau ia baik-baik saja.
Satu kali kucoba video call, tidak diangkat.
Dua kali kucoba, masih juga belum diangkat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membiarkannya beberapa saat.
'Ting!'
Notifikasi chat masuk di ponselku dan tertulis nama 'Itik Galak'.
[Ngapain, sih, pakek video call segala?!] Isi pesan singkat dari Mbak Gotik dengan menyelipkan emoticon jutek pada chatnya.
__ADS_1
[Gue cuma pen mastiin kalo Mbak baik-baik aja.]
[Dih, modus, pasti!] Balasnya masih sengit.
[Angkat video call gue sekarang, kalo enggak, nanti malam gue minta jatah batin sama Mbak!]
Aku tersenyum saat mengirim chat yang seperti setengah ancaman untuknya. Aku menunggu centang dua berubah biru. Cuma beberapa detik saja centang abu-abu itu berubah menjadi biru.
Video call, ah!
Baru saja aku hendak menyentuh screen ponsel. Foto profil Mbak Gotik terlihat menghubungiku menggunakan layanan video call yang membuat bibirku menyeringai merasa menang.
"Mau ngapain liat aku, coba?" Mbak Gotik menjawab saat wajah cantiknya menghiasi layar ponselku.
"Kan, tadi gue udah sebut. Hanya ingin liat wajah Mbak, kalik aja pucat, kan? Keadaan Mbak gimana sekarang?"
"Masih ada pusing tapi mau gimana lagi? Pekerjaan menumpuk siang ini apalagi tadi ditinggal meeting."
"Pulang, yuk? Biar gue yang handle, deh."
"Emang bisa?" Terlihat wajah heran dalam layar ponsel.
"Bisa, lah! Bisa buat berantakan."
Aku tersenyum dan seketika mata Mbak Gotik berputar dengan ekspresi benar-benar kesal, lalu kemudian panggilan ponsel terputus. Sepertinya Mbak Gotik mematikannya.
[Pokoknya kalo ada apa-apa kabari gue. Gak usah dibalas, gue tau Mbak lagi kesel sama gue. I love u.]
Aku mengirimkan pesan singkat padanya. Sesungguhnya merasa lucu dengan tiga kata terakhir, tetapi aku nekat mengirimkan padanya.
Tidak berselang lama balasan chat datang dari Mbak Gotik. Bibirku tersenyum, tetapi tanganku gugup untuk membuka screen ponsel. Ia membalas apa, ya?
Jantung berdegup lebih kencang. Sungguh aku seolah memberikan surat cinta dan menunggu balasan darinya membuat tubuh terasa panas dingin. Bodohnya balasan chat dari Mbak Gotik sudah ada di ponselku, tetapi kenapa jari ini seolah menjadi kaku? Atau, aku takut untuk membacanya?
'Ayok, buka, Le! Pasti isinya sweet deh.'
'Jangan dibuka kalo lu gak mo nyesel, Le! Percaya sama gue, isinya bikin lu muak.'
'Ya elah, kalau kamu gak baca, dari mana kamu tahu perihal perasaan wanita itu padamu?'
'Jangan, Le. Jangaaaaannn!!!'
Astaga! Kenapa malah perang batin seperti ini, Tuhan? Aku harus bagaimana? Aku buka ataukah tidak?
__ADS_1