
Tidak terasa sudah hari kesepuluh ketika aku meminta waktu meluluhkan hatinya pada Mbak Gotik. Belum ada perubahan yang signifikan dan entah apakah aku bisa meluluhkan hatinya ataukah tidak? Apalagi sampai detik ini Mbak Gotik masih selalu galak terhadapku. Namun, daripada ia membisu aku lebih suka ia banyak bicara meski dengan ocehan yang tanpa jeda.
Malam ini aku mempersiapkan barang-barang yang aku butuhkan selama di Jogja nanti. Ya, esok pagi kami akan berangkat ke Jogjakarta untuk melihat peluang bisnis dan sekalian aku mencari sosok mama.
Sosok wanita yang melahirkanku, tetapi hingga usiaku dua puluh satu tahun aku belum mengetahui wajahnya. Ketika usiaku dua tahun mama meninggalkanku dan aku benar-benar tidak mengingat wajahnya sama sekali.
Aku mulai memasukkan beberapa kemeja dan juga celana panjang, kaos dan juga celana pendek untuk bersantai saat menjelang malam. Aku merisleting koper berukuran kecil setelah semua pakaian dan laptop telah dimasukkan.
Tidak ingin meler akhirnya memutuskan untuk segera tidur meski jarum jam masih menunjuk ke angka sembilan kurang. Entah berapa lama aku terlelap hingga akhirnya terbangun ketika mendengar air-air jatuh menimpa genteng rumah.
"Ah, ternyata hujan," gumamku ketika melihat rintik-rintik hujan yang memang cukup deras terlihat dari kamar karena jendela lupa aku tutup.
Kubuka selimut tebal yang membungkus tubuh. Aku keluar dari dekapan selimut hanya untuk menutup jendela kamar karena angin cukup dingin serta bau tanah yang terhidu oleh indera penciumanku.
"Mbak Gotik?" gumamku ketika melihat Mbak Gotik berdiri di sudut balkon.
Mbak Gotik membelakangiku. Entah ia sedang apa dan perlahan aku berjalan ke balkon kamarnya melewati pembatas balkon kamar.
Sepertinya Mbak Gotik belum sadar saat aku sudah berdiri di belakangnya. Aku melihat jemari lentiknya menengadah pada tetes-tetes air yang turun cukup deras saat ini serta piyama lengan panjang yang ia lipat hingga sikut.
"Kenapa masih di sini?" Sepertinya pertanyaanku membuatnya kaget.
Tubuh Mbak Gotik terlihat terperanjat dan spontan tangan yang sedang meraup air pun menyiprat tepat di wajahku.
"Lele? Kamu ngapain di sini? Ngagetin aja!" sentaknya saat wajahku basah karena cipratan air dari tangannya.
"Yee ... gue tanya malah balik tanya."
"Ya, aku juga tanya. Kamu ngapain di sini, sih?"
"Nemenin Mbak, la. Apa lagi?"
"Dih, aku enggak minta ditemenin," jawabnya terdengar malu-malu sambil memalingkan pandangan ke arah lain.
"Gue yang mau, kok."
Hening.
Mbak Gotik masih terdiam dan jemari tangannya masih tetap memainkan tetes-tetes air yang jatuh masih cukup deras. Sesungguhnya keadaan cukup dingin bahkan aku sudah sedikit terkena flu meski tidak bersin-bersin.
"Masuk, nanti sakit. Bukankah nanti pagi kita akan ke Jogja?" kataku.
__ADS_1
"Iya. Kamu tidurlah dulu, mataku belum mengantuk, tapi tadi aku sudah tidur, kok," katanya.
Sudah cukup lama jemari Mbak Gotik memainkan air hujan sehingga aku menarik lengannya agar ia berhenti menengadahkan tangannya pada tetesan air yang jatuh malam ini.
Jemarinya terlihat keriput dan pucat.
"Tuh, kan. Tangan Mbak udah kedinginan."
Aku mengusap telapak tangannya yang basah dengan baju kaosku yang berlengan panjang. Lumayan, cukup kering dan akhirnya aku menggosok tangan dinginnya sehingga saat ini sudah cukup menghangat.
Hening.
Perlahan aku melepaskan genggaman tanganku yang sedang menggenggam jemari lentiknya, lalu aku melihat pada wajahnya.
"Sorry," kataku saat melihat mata bulat Mbak Gotik menatapku lekat.
"Gak papa. Ya udah, kita istirahat aja," katanya kemudian masuk ke kamar meninggalkanku di balkon kamar.
Bibirku tersungging karena aku pikir ia akan marah saat aku dengan intimnya menggenggam jemari lentiknya.
"Yes! Kemajuan buat gue bisa gosok-gosok tangan Mbak Gotik. Besok gue bisa gosok apa lagi, ya?" gumamku masih berada di balkon kamar Mbak Gotik.
Suara Mbak Gotik terdengar menggelegar seolah memecah bunyi tetes-tetes hujan yang bahkan semakin deras.
Bibirku kembali terukir saat melihat lampu kamar Mbak Gotik masih menyala. Waktu memang telah menunjuk ke angka satu, tetapi mata seakan enggan terpejam.
Aku berjalan dan masuk ke kamar. Kembali merebahkan tidur dan menarik selimut. Kini tubuh terasa hangat, tetapi mataku masih terjaga.
Entah berapa lama aku masih terjaga meski tubuh sudah kembali menghangat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk ke ruang keluarga.
Kututup perlahan pintu kamar takut mengganggu istirahat Mbak Gotik. Menuruni anak tangga dan meraih remote televisi setelah ada di ruang keluarga, lalu menyalakan LED 42 inchi.
Sial! Acara di televisi malah acara-acara dewasa yang cukup membuatku gerah ketika menontonnya. Tidak ingin ada yang berontak akhirnya aku memilih memindahkan chanel program televisi, tetapi tidak ada yang menarik hingga aku memutuskan untuk mematikannya.
Mata masih enggan terpejam, bahkan malah semakin terasa fresh tanpa adanya rasa kantuk sedikitpun.
"Mungkin gue lapar," gumamku.
Aku bangkit dari sofa dan menaruh remote televisi di meja kemudian berjalan ke dapur mencari makanan. Mungkin, setelah perut kenang mataku akan terlelap.
Sial! Lagi-lagi aku merasakan kesialan malam ini. Di dapur tidak ada makanan bahkan lauk pun sudah disimpan ke kulkas. Bagaimana caranya aku makan kalau ikannya juga dingin seperti es begini?
__ADS_1
Akhirnya aku memutuskan memasak mie instan yang sepertinya mudah kalau melihat iklan di televisi. Aku meraih panci dan mengisinya dengan air, lalu kutunggu hingga mendidih sebelum kumasukkan mi ke dalamnya seperti gambar yang ada di bungkus saran penyajian.
"Tunggu tiga menit," gumamku dengan seulas senyum setelah memasukan mie pada air yang telah mendidih.
Ah, Tuhan. Kenapa sepertinya kesialanku belum berakhir? Perutku malah mulas dan akhirnya aku pergi ke toilet yang ada di dapur.
"Ah, legaaa," gumamku ketika menaikkan celana.
Berjalan santai keluar dari toilet menuju dapur. Melihat mie yang ternyata airnya hampir surut.
"Tambah air lagi deh," gumamku sambil memasukkan segelas air ke dalam panci dan menunggunya sampai mendidih.
Aku menyajikan ke mangkok setelah air di panci mendidih dan ku-tes rasa yang rasanya––
"Gak ada rasa," gumamku sambil mencebik tidak enak. Ya, mie instan tanpa rasa.
"Kamu lagi apa, Le?" tanya Mbak Gotik yang entah mau apa.
"Masak mie, tapi gak ada rasa. Padahal merk ternama," ketusku kesal.
"Masa, sih?" Mbak Gotik terlihat tidak percaya. Padahal aku merasa sudah memasak dengan benar.
Mbak Gotik berjalan menuju ke arahku yang masih berdiri di dekat kompor. Ia meraih sendok kemudian mencicipi sedikit kuah mie yang ada di mangkok.
"Gak enak, kan? Hambar, seperti cinta Mbak ke gue," kataku saat melihat ekspresi wajah Mbak Gotik yang terlihat nge-flat.
Wajah nge-flat itu kini mendongak ke arahku dengan tatapan sengit. Entah, salahku di mana lagi kali ini?
"Apa hubungannya rasa mie dengan rasaku? Kamu banding-bandingin aku sama mie instan?" tanya Mbak Gotik bernada sengit mengajak ribut.
"Bukan ngebandingin, tapi––"
Belum juga perkataanku usai, Mbak Gotik kembali menyela ucapanku.
"Lagian, mie kamu hambar itu bukan karena kamu yang tidak pandai memasak, tapi bumbunya belum kamu masukin, nih!" kata Mbak Gotik sambil memperlihatkan bungkus bumbu mie instan yang memang belum aku masukan bahkan kubuka saja tidak.
"Cobain sekarang!" Mbak Gotik memberikan mangkok mie instan setelah ia memasukkan bumbu itu ke dalam mangkuk.
"Enak, Mbak. Berarti rasa Mbak juga akan enak kalo gue bumbuin, ya?" godaku yang dijawab dengan teriakan.
"LELEE!!!"
__ADS_1