Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Misi Day 3 [Gara-Gara Petir]


__ADS_3

"Please, Mas mohon kembalilah, Kia. Bayi itu bukan darah dagingku. Dia udah bohong agar pernikahan kita gagal, Kia. Mas berjanji tidak akan mengulangi dan Mas ingin kita melanjutkan pernikahan yang dulu sempat tertunda."


"Tapi aku sudah menikah, Mas." Mbak Gotik menjawab dengan suara serak.


"Memang kamu mencintai dia? Menyayangi laki-laki yang cuma stafmu saja dan hanya bisa menumpang hidup dari kekayaanmu, Kia."


"Sorry, Om. Gue emang cuma staf Mbak Zaskia di kantor. Ya, apa yang Om katakan memang benar. Tapi maaf, gue menolak kalau Om bilang tentang gue yang hanya menumpang hidup dari kekayaan Mbak Zaskia!"


Aku menyela obrolan Mbak Gotik dan Pak Erwin. Seketika itu kedua pasang mata mereka menatap ke arahku dan Mbak Gotik langsung melepaskan tangan yang sedang digenggam oleh Pak Erwin.


"Hahaha." Tawa pecah dari bibir Pak Erwin. "Sudah terlihat hanya bisa menumpang hidup aja masih belagu. Lihatlah, mobil saja kau pakek punya pacarku, kan?" ucap Pak Erwin.


"Mas!" Mbak Gotik terlihat memotong ocehan Pak Erwin.


"Biar. Biarkan pemuda kere ini tau, biarkan dia berpikir kalau yang namanya suami itu harusnya bisa memberikan yang terbaik untuk istrinya. Bukan malah menikmati akses yang kamu punya, Sayang."


Pak Erwin mengusap pipi hingga dagu Mbak Gotik. Namun, Mbak Gotik menepis tangan Pak Erwin.


"Sorry, Om. Gue gak mau menilai Om seperti apa, tapi maaf, maaf sekali. Tidak usah memegang fisik istri saya!" kataku ketika wajah kami sudah saling berhadapan.


"Heh! Dia kekasihku yang harusnya menjadi istriku," bantahnya seolah tidak terima.


Aku tersenyum sarkas. Memandang matanya dengan tajam dan menahan tangan yang sesungguhnya ingin menghajarnya sedari tadi.


"Kenapa juga Om tinggalin dia saat pesta pernikahan? Om tidak mengingatnya, kah? Mau, gue bantu ingetin perkara dulu yang membuat calon istri Om dulu batal menikah? Om tau perasaan dia saat itu? Mikir, Om!" ucapku sambil menunjuk pada kening yang dekat dengan ujung alis.


Aku meninggalkan coto makasar di meja kemudian berlalu pergi untuk sekadar menetralisir hati yang sudah telanjur panas.


Bukan tidak ingin melindungi Mbak Gotik dari pria yang bukan halalnya, tapi aku mengetahui posisiku saat ini yang hanya berstatus suami bayangan saja untuknya. Namun, aku yakin Mbak Gotik bukanlah wanita murahan dan ia wanita terpelajar pasti tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang boleh dan mana yang tidak.


Aku memilih duduk di lantai samping rumah di dekat kolam. Melihat riak-riak air yang tertiup oleh angin serta percikan-percikan air jatuh dari hujan yang masih cukup deras.


"Mas Levine?" Suara perempuan memanggilku.


Aku menoleh.


Rupanya Alda yang membawakan aku camilan dan satu cangkir susu cokelat panas di atas nampan kecil.

__ADS_1


"Susunya, Mas," ucap Alda sambil meletakkan nampan itu di sampingku.


Aku yang tadinya menoleh padanya seketika memalingkan pandangan kembali ke kolam renang saat Alda menawariku susunya.


Susunya?


Heh, Levine! Hujan, sih, hujan, tapi otak lu jangan berpikir mencari kehangatan juga, tolol!


Ah, sepertinya setan dalam hati begitu paham dengan otakku saat ini. Namun, apa salahnya dengan pikiranku? Bukankah kosakata dia itu menawarkan susunya? Salahku di mana?


"Mas Levine!" pekik Alda yang membuatku terperanjat.


"Hah?" Aku melongo melihat ke arahnya.


"Diminum dulu, nanti pilek, loh," godanya dengan seulas senyuman.


"Masih panas, Alda. Lu liat, uap panasnya aja masih ada. Lagian nanti juga gue minum, thanks, ya?"


Alda tersenyum.


"Rupanya kamu di sini?" ucap seorang wanita yang aku kenal.


"Eh, Non Kia. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Alda saat ia telah berdiri menghadap Mbak Gotik. Namun, aku lebih memilih kembali menikmati rintik hujan meski berisiko meler.


Aku mematikan data ponsel dan lebih memilih menutup kedua telinga dengan ear phone dan memutar MP3 dengan lagu-lagu favorit di dalamnya.


Lumayan, aku tidak mendengarkan pembicaraan antara Mbak Gotik dan Alda. Aku mulai menikmati alunan musik yang membuatku relaks setelah lelah dari kantor yang bersambut dengan pemandangan yang tidak enak di ruang tamu tadi.


Mbak Gotik menepuk lengan dan aku membuka ear phone yang ada di telinga.


"Pa'an?" jawabku saat melihat ia sudah duduk di sampingku.


"Kamu lagi ngapain, sih, sama Alda?" tanya Mbak Gotik dengan sorot mata tajam.


"Oh, tadi dia nawarin susunya," jawabku enteng sambil kembali menatap hujan yang sedari tadi sudah membasuh tanah.


"What? Maksudnya?" tanya Mbak Gotik yang terdengar kaget.

__ADS_1


"Ya, tadi dia nawarin gue nyusu. Susu dia, susu, susu, masa gak paham, sih?" Aku menyipitkan mata ketika menatap Mbak Gotik.


"Leleee!!!" sungutnya kesal sambil mengepal tangannya sendiri dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal.


"Sabar, maksud gue ini loh." Aku menunjuk pada segelas susu yang ada di samping kiriku, sedangkan Mbak Gotik duduk di samping kananku.


Mbak Gotik terlihat mengempaskan napasnya perlahan kemudian keadaan hening, hanya terdengar hujan yang turun dari genteng yang seolah menjadi simfoni yang indah dari alam untuk dinikmati serta angin yang mengusap lembut wajah dan tubuh kami serta rambut panjang Mbak Gotik yang membuatnya terlihat sedikit berantakan, tetapi tidak sedikitpun mengurangi kecantikan alaminya.


Mbak Gotik memang telah berusia matang, tetapi wajahnya aku akui terlihat masih seperti belasan tahun. Mungkin juga karena tubuhnya yang mungil? Entahlah, di mataku ia terlihat begitu menggemaskan dan membuatku selalu ingin bersamanya.


"Sayang, kenapa kamu di sini?" Tiba-tiba suara laki-laki memecah konsentrasiku saat ini. "Sama orang yang gak guna lagi, cwih!" sambungnya saat ia sudah duduk di samping Mbak Gotik.


Saat ini Mbak Gotik diapit oleh Pak Erwin dan juga aku di samping kiri dan kanannya.


"Mas, jaga ucapanmu! Kamu tidak berhak bicara seperti itu," ucap Mbak Gotik.


"Ini kenyataan, Sayang. Biarkan saja dia mikir," ucap Pak Erwin dengan seulas senyuman. "Lagian, kalau dia tahu diri harusnya sudah pergi dari sini," sambungnya dengan ekspresi yang seolah-olah mengolok-olokku.


"Yang harusnya pergi itu Anda, Om. Mbak Zaskia ini istri gue. Ingat, Om itu hanya mantan dan mantan itu biasanya dibuang ke tempat yang paling menjijikkan karena dianggap––" Aku menjeda ucapan dan wajah Pak Erwin terlihat kesal. "Om pikir aja sendiri lah, pantas dibuang ke mana?"


Aku mencoba sabar, tetapi sepertinya Pak Erwin bukan tipikal orang yang mengerti dengan cara didiamkan. Karakteristik orang memang berbeda-beda. Ada yang harus disindir dulu barulah sadar diri, tetapi ada juga yang malah tersinggung seperti Pak Erwin yang sedari tadi tidak terima dengan segala opiniku.


Perdebatanku dan Pak Erwin cukup memanas hingga hampir saja Pak Erwin meluncurkan bogem mentah padaku.


"Stop, stop, STOOOPPP!!!" Mbak Gotik berteriak. "Mas, aku mohon kamu pulang, ya? Aku gak mau ada keributan di sini. Aku baru sembuh, loh," ucap Mbak Gotik pada Pak Erwin.


"Tapi, Sayang. Ini masih hujan, loh. Dan kenapa harus Mas yang disuruh pergi? Kenapa gak dia saja?" ucap Pak Erwin sambil menunjuk wajahku.


"Gue suaminya, oy!"


Sepasang mata indah Mbak Gotik berputar. Sepertinya ia kebingungan melerai kami yang saat ini seolah anak kecil yang sedang memperebutkan mainan yang disayang. Namun, semuanya menjadi hening saat ada kilatan petir yang disertai suara guntur yang menggelegar di langit gelap sore ini.


'Jlegerrr!'


Suara guntur dan kilatan petir yang cukup mengagetkanku. Namun, aku lebih kaget lagi saat menyadari ada yang memelukku.


"Sayang?" Lirih terdengar suara Pak Erwin yang aku balas oleh senyuman. Sekalian saja aku peluk Mbak Gotik biar Pak Erwin semakin panas hatinya.

__ADS_1


__ADS_2