Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Mabuk


__ADS_3

Aku mencoba mengikuti ke mana arah sorot mata Mbak Gotik. Rupanya di salah satu meja terlihat Pak Erwin bersama wanita lain, tapi masa iya benar itu Pak Erwin? Bukannya pagi tadi ketika ia membuat kegaduhan di pesta pernikahan itu sudah pergi dari pulau ini?


"Ah, Sayang, bagaimana bisa kamu hampir mau menikah dengan perawan tua yang galak macam singa itu?" Terdengar perempuan yang bersama Pak Erwin bercerita dengan wajah yang seolah meledek.


"Enggak tau. Sebetulnya yang kucari hanya duit dia saja dan mengesampingkan rasa tidak nyamanku saat ia mengaum bagaikan singa, tapi lambat-laun aku sepertinya tidak kuat," ucap Pak Erwin dengan tawa menggelitik seolah apa yang ia katakan itu hal yang lucu.


"Haha ... untung saja aku bisa hubungi istrimu, ya? Kalau tidak, matilah kau setiap hari mendengar auman singa betina itu. Bay the way, istrimu masih tidak mengetahui kalau malam ini kamu kembali ke sini demi aku, Yang?"


"Tidaklah, aku hanya bilang akan bertemu klien dan pulang esok karena perjalanan jauh," kata Pak Erwin.


Percakapan mereka sungguh membuat kuping terasa budek dengan segala isi ledekan berbalut kebohongan yang dilakukan oleh Pak Erwin benar-benar membuat hati dongkol.


Mbak Gotik berdiri bahkan dengan cepat ia berjalan ke arah meja Pak Erwin. Di sana terjadi keributan antara perempuan yang ada di meja Pak Erwin dengan Mbak Gotik. Sementara aku? Diam, lah! Apalagi?


Adu mulut itu ternyata berujung saling jambak dan saling cakar. Aku yang masih duduk anteng akhirnya berjalan dan tanpa ada kata aku menyeret lengan Mbak Gotik agar mereka berdua menjauh. Namun, bukannya Pak Erwin berterima kasih padaku, ia malah meledekku karena dianggap tidak pantas untuk menjadi pendamping hidup Mbak Gotik.


"Setelah gagal menikah denganku, kamu milih berondong rendahan seperti dia, Kia?" ledek Pak Erwin dengan tatap kesal padaku.


Aku tersenyum.


"Gue emang staf rendahan, Om. Tapi gue bukan laki-laki pemeras duit seperti Om!"


Sepertinya Pak Erwin emosi. Ia hampir saja memukulku kalau saja tangan ini telat untuk menangkis lengannya yang hampir meluncur ke pipi.


"Eits! Satu lagi, Mbak Gotik beruntung gak menikah sama Om. Karena di samping Om pemeras yang gagal, Om juga orang yang ringan tangan."


Sepertinya perkataanku membuat darahnya mendidih penuh kekesalan. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa karena dari pihak restoran telah melerai kami.


Mbak Gotik terlihat berlari dengan membawa satu botol wine ke luar dari restoran. Sial, lagi-lagi uangku habis karena dia.


**


Aku mencari Mbak Gotik setelah membayar semua menu makanan dan minuman yang telah dipesan. Hingga akhirnya aku menemukan Mbak Gotik ada di bibir pantai.


Malam semakin larut dan aku masih menemani Mbak Gotik di tepi pantai dengan semilir angin malam yang cukup dingin serta cahaya rembulan yang terang menyinari laut, hingga debur ombak dari arah lain yang terdengar cukup mengerikan.


Mbak Gotik masih menikmati wine yang ia minum langsung dari botolnya. Tidak ada sloki sebagai gelas untuk menampung wine tersebut sebelum masuk ke mulut.

__ADS_1


Wajah Mbak Gotik terlihat kecewa. Tidak ada ucapan apa pun dari mulutnya saat ini. Namun, beberapa menit kemudian air matanya luluh-lantak membasahi pipi.


"Are you oke?" kataku.


Mbak Gotik tidak menjawab, tetapi sorot mata yang sedang memandang lekat lautan luas saat ini berpaling padaku.


"Apakah sikapku begitu tidak baik di mata kalian?" tanya Mbak Gotik.


"Ho'o, Mbak terlalu galak, eh!"


"Segalak itu, kah, aku?"


"Ya elah masih nanya. Selain galak, Mbak juga jutek, tidak ramah sama karyawan, sok jaim, sok cantik––"


Perasaanku saat mengutarakan pendapat rasanya mulai tidak nyaman dan ketika aku melihat wajah Mbak Gotik ternyata telah menangis.


"Mbak, gue belum selesai, Mbak itu sok cantik padahal gak usah sok juga Mbak udah cantik," sambungku setelah beberapa detik terjeda omongan.


"Kamu gak cocok buat gombal, Lele!" ucap Mbak Gotik kemudian kembali meraih botol minumannya.


Keadaan kembali hening dan kembali hanya tiupan angin malam serta debur ombak yang terdengar. Mbak Gotik sepertinya bukan tipikal orang yang suka meminum minuman beralkohol. Aku bisa melihat dari cara ia meminumnya yang terkesan tidak menikmati.


"Balikin! Aku hanya ingin meluruhkan keksalanku malam ini pada Mas Erwin!" Mbak Gotik kembali meraih botol wine dariku.


Aku hanya mampu menghela napas dan kembali melihat Mbak Gotik meneguk wine. Sepertinya benar dugaanku, belum habis setengah botol tubuh Mbak Gotik sepertinya sudah melemah dengan segala ocehan yang tidak terkontrol dari bibirnya.


"Kamu bodoh, Kia! Bisa-bisanya kamu hampir tertipu oleh Erwin. Padahal sebelum hal ini kamu sudah banyak tertipu laki-laki, Kiaaaa. Mending menjalani hidup sendiri tanpa laki-laki di sampingmu. Ingat, laki-laki semuanya berengsek, Kia. Berengseeeekkkk," ocehan Mbak Gotik yang ternyata memang sudah tidak sadar karena alkohol.


"Ke cottage, yok?!" Aku mengajak Mbak Gotik.


Dia yang masih mengomel kini terdiam menatapku.


"Buat apa ke sana? Enak di sini, aku bisa bebaaaass!!! Enggak ada orang munafik yang pura-pura baik dan tulus. Kalau mau cottage, ya, ke cottage saja sendiri!"


Aku masih menemaninya mengoceh dan Mbak Gotik malah kembali meneguk wine itu hingga tandas.


"Yaaah ... wineku habis, Levine. Coba kamu belikan lagi untukku," rengekannya sambil membalik botol memastikan air yang ada di dalamnya sudah benar-benar habis tidak tersisa.

__ADS_1


"Iya, nanti gue belikan. Tapi minumnya di cottage, ya?"


Mbak Gotik mengangguk.


"Ya udah, gue gendong sini!" Aku memberikan punggung padanya.


Cukup lucu juga saat Mbak Gotik sedang mabuk. Ocehan dan ekspresinya sungguh berbeda saat ia berada di kantor yang terlihat galak dan juga berwibawa.


"Belikan wine, Le. Wineeee!" tagihnya saat kami sudah berada dalam cottage.


Awalnya aku membiarkan, tetapi sepertinya Mbak Gotik masih mau meneguk wine sehingga aku terpaksa kembali ke restoran tadi hanya untuk membelikan wine.


"Ya sudah, gue belikan, tapi habis ini Mbak tidur, ya?"


Mbak Gotik pun mengangguk.


Berjalan di hamparan pasir putih beralaskan sandal yang disediakan oleh pihak cottage akhirnya aku kembali ke restoran tadi. Tidak lama, karena hanya membeli wine saja kemudian kembali pulang ke cottage.


Aku tersenyum saat melihat Mbak Gotik yang sudah terlelap di sofa. Namun, bajunya terlihat basah oleh wine.


Aku menggendong tubuh mungilnya ke kasur, kemudian membaringkan tubuh mungil yang sudah tidak berdaya itu di atas ranjang. Saat ini aku benar-benar melihat lekuk tubuh Mbak Gotik yang terbalut oleh piyama navy yang berbahan satin.


Sial! Mataku malah lekat menatap dua gundukan yang terbalut kain satin basah itu.


'Buka saja, dia udah resmi dan halal untuk lu apa-apakan.'


'Jangan, itu sama aja lu perkosa dia. Ingat, dia gak cinta sama lu!'


'Sudah nanggung, Le. Masa udah melihat yang seksi di depan mata, lu mau skip gitu aja? Buka, Le, bukaaa.'


'Le, pakek nurani lu! Lu bukan bajingan yang memanfaatkan situasi, kan? Inget, lu orang baik, Le!'


Bisikan-bisikan di dalam hati membuat kepalaku sakit. Mereka membuatku bingung. Namun, setelah aku berpikir, kenapa tidak? Toh, aku sudah menjadi suami resminya. Jadi, misalkan hamil, pun, dia istriku, dia milikku!


Tidak ingin membuang waktu saat Mbak Gotik terlelap akhirnya aku membuka kancing piyama yang ia kenakan.


"Sorry, Mbak, gue gak mau lu kedinginan," bisikku di telinga Mbak Gotik.

__ADS_1


Satu kancing terbuka.


'Terus, Le, teruskan!'


__ADS_2