Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Mbak Cantik


__ADS_3

Hari keempat aku dan Mbak Gotik kembali beraktivitas ke kantor. Tidak ada yang berubah pada kami berdua, status di kantor aku tetap menjadi staf rendahan yang bahkan dipandang remeh oleh Tuan Bobby––saat ini sudah menjadi papa mertuaku.


"Le, mulai saat ini kamu yang bawa mobil, ya?" ucap Mbak Gotik.


"Baiklah." Tanpa basa-basi aku mengiyakan.


Aku yang sedang mengenakan dasi merasa terburu-buru karena Mbak Gotik sudah terlihat rapi. Rupanya ia termasuk orang yang tidak suka keterlambatan.


"Tunggu!" cegah Mbak Gotik saat aku hendak menuju pintu ruang utama.


Langkah pun ikut terhenti saat perintah dari Mbak Gotik terdengar di telinga.


Tidak ada perkataan tiba-tiba saja tubuh mungil Mbak Gotik sudah ada di hadapanku. Wajahnya terlihat fresh hari ini dengan riasan make-up natural dan ia mulai membenahi kerah dan dasi yang aku kenakan.


"Nah, kalau seperti ini, kan, rapi," ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan dadaku. Ah, manis sekali.


"Heh! Siapa yang suruh ngeliatin aku lama-lama, hah?!" Ucapan Mbak Gotik membuatku terperanjat.


"Yee ... Mbak, kan, udah jadi istri gue. Gak pa-pa, la!"


"Ck! Jangan terus mengulang perkataan yang sama. Lagian pernikahan kita bukan atas dasar cinta, paham?!" ucap Mbak Gotik dengan mata membulat, kemudian ia berjalan menyampirkan tali tas berukuran sedang di pundaknya.


Aku mengikutinya dari belakang dan setelah dekat dengan mobil, aku membukakan pintu untuk Mbak Gotik. Namun, saat tubuh mungil itu merunduk ingin masuk ke mobil, tiba-tiba saja ada makhluk kecil yang keluar dari dalam tas.


'Meeoow.'



Astaga!


Mataku membulat dan spontan tubuh menjauh dari Mbak Gotik, sementara orang yang aku bukakan pintu malah tertawa melihatku yang mungkin terlihat kaget ketika melihat Katemi.


"Katemi, kamu jangan nakal, ya? Enggak usah takut sama Lele. Makan aja dia kalo kamu mau," ucap Mbak Gotik pada kucing kecil peliharaannya.


**

__ADS_1


Hampir satu jam akhirnya kami telah sampai di lobi kantor setelah terjebak dari kemacetan serta beberapa kali terjebak ketika lampu merah menyala.


"Ingat, di sini status kita atasan dan bawahan. Tanpa ada embel-embel istri dan suami, oke?!"


"Iya. Mbak bajunya dan gue celananya. Kalo gak pakek baju enggak terlalu malu, tapi kalo gak pakek celana pasti lebih malu."


"Ish! Bukan ke sana juga maksudnya, Lele! Lama-lama aku kasih Katemi juga, kamu!" sengitnya yang membuatku semakin gemas.


Mbak Gotik keluar dari mobil bersama Katemi sedangkan aku berjalan santai karena ruangan kerjaku pun tidak jauh. Ya, di sini aku memiliki tanggung jawab di bidang pemasaran dan tidak jarang juga aku selalu merambah ke lapangan untuk memastikan barang yang kami keluarkan itu benar-benar sudah tersalurkan dengan baik serta mengecek keadaan pasar untuk barang yang sedang trend saat ini.


"Le, gimana malam pertamanya?" tanya si Fiktor alias fikiran kotor teman satu ruanganku.


"Kawin sono, Bang! Biar lu gak tanya doang, tapi bisa merasakan."


"Emang rasanya kek mana? Manis? Asam? Asin? Atau––" Sepertinya kalimat sengaja ia buat menggantung.


"Rasanya––AH, MANTAP!" jawabku sambil melangkah ke luar ruangan membuat Fiktor tertawa sepagi ini. Padahal, tahu juga tidak. Tapi bodo amat, lah. Masa iya hal seperti itu dipublikasikan?


Membuka jas dan menyingsingkan lengan kemeja merupakan kebiasaanku. Entah kenapa aku merasa lebih nyaman bekerja seperti ini bahkan tidak jarang dasi pun aku kendurkan. Namun, ketika ingin menemui bos barulah aku kerepotan sendiri untuk merapikan.


"Levine, dipanggil sama Bu Bos," ucap Seli yang masih memegang gagang telepon warna putih.


"Syuh! Syuh!" Aku mengusir Katemi, tetapi dia tetap saja mendekatiku.


"Dia sayang sama kamu itu, Le," ucap Mbak Gotik sambil terfokus pada laptopnya.


Aku berjalan mendekati meja Mbak Gotik dan Katemi terus saja mengikutiku hingga aku duduk di kursi. Karena kesal, akhirnya aku mengangkat kaki dan Katemi terlihat kesusahan meraih kakiku yang terus ia buru. Rasain!


Sepasang mata Mbak Gotik kini membulat saat aku sedang memegang kedua lututku di atas kursi.


"Heh! Turunin, enggak, kakinya?!" sinis Mbak Gotik.


"Gak! Jauhin dulu Katemi dari gue, bisa meler nanti gue. Mending meler gara-gara mbak, daripada meler sama dia!" Aku menjawab sambil melirik Katemi.


"Lah, emang bisa?" Mbak Gotik menatapku dengan ekspresi heran. Seakan ia sedang mencari kelemahanku.

__ADS_1


"Bisa, lah! Gue mandi setelah malam pertama juga bersin, Mbak," jawabku yang saat ini fokus pada Katemi.


"Ish! Lagi-lagi kamu selalu ingetin aku akan hal ini, sih, Levine?!" sengitnya.


Sepasang mataku yang sedang fokus pada Katemi kini berpindah lebih fokus pada Mbak Gotik yang ada di hadapanku dengan wajah yang begitu dekat karena Mbak Gotik menarik kerah baju yang sedang kukenakan sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci saja. Bahkan, hangat napas serta wangi tubuhnya benar-benar terhidu oleh indera penciumanku.


Tuhan, kalau boleh aku meminta; tolong lamain lagi, dong, kedekatan kami seperti saat ini.


**


Aku baru saja selesai mengecek barang dari lapangan. Terik mentari sudah terbiasa aku lewati dan entah mengapa, bagiku hal ini sangatlah menyenangkan daripada kerja di dalam kantor yang dipenuhi oleh orang-orang sibuk dan hanya bisa bercengkerama saat jam istirahat saja. Bahkan, banyak juga yang hanya mencari muka di depan atasan demi satu kedudukan dalam perusahaan.


"Besok lagi kalo gue ke lapangan bawa motor aja kek biasanya, Mbak," protesku karena di lapangan orang-orang seolah menatapku heran. Wajar, sih. Mereka tidak tahu kalau mobil yang aku bawa itu milik Mbak Gotik.


"Gak bisa! Di kantor kamu sudah dipandang suamiku, nanti orang-orang malah mengira aku orang yang tega'an sama suami sendiri," jawab Mbak Gotik tanpa melihatku, jarinya masih mengukir angka-angka di lembar kertas laporan.


"Lah, emang tega'an, kok. Buktinya dari awal nikah gue belum rasain malam pertama!"


"Levine!" Sepasang mata Mbak Gotik membulat menatapku saat ini. "Sudah aku bilang hentikan ocehanmu tentang malam pertama!" sambungnya kesal.


"Mbak, tau hak dan kewajiban seorang istri dan suami, gak?"


"Enggak usah minta hakmu!"


"Dih." Aku tersenyum melihat ekspresi Mbak Gotik yang lututnya sampai naik ke meja kerja.


Ini benar-benar hal yang lucu. Terjebak dalam pernikahan dengan dua orang berkarakter keras kepala dan memiliki kesukaan yang berbeda. Unik, tapi hal ini juga bisa berubah menjadi bom waktu ketika salah satu dari kami memendam kekesalan.


"Turun! Gimana kalau ada karyawan lain melihat kelakuan Mbak? Hilang sudah pandangan anggunly mereka pada Mbak," kataku dengan seulas senyum geli saat ia perlahan turun dari meja.


Aku berjalan dan mendekatinya.


"Kamu mau apa?" tanya Mbak Gotik saat aku sudah berada di hadapannya.


Aku tidak menjawab. Namun, aku mulai merapikan anak-anak rambut yang berantakan, lalu hendak membisikkan satu hal.

__ADS_1


"Mbak itu cantik, tapi––"


"Tapi apa?" tanya Mbak Gotik yang sepertinya gerogi saat napas hangatku menyapu pipinya yang memerah.


__ADS_2