
Aku menggendong tubuhnya yang terkulai di pasir putih dan membawanya masuk ke kapal pesiar miliknya.
"Langsung berangkat saja, Pak! Biar Mbak Gotik jadi urusan saya," kataku sambil membaringkan tubuh mungil Mbak Gotik di sofa yang cukup nyaman.
Mesin kapan mulai terdengar dan saat ini kapal pesiar berjalan seolah membelah gelombang lautan yang tidak terlalu besar.
"Mbak, bangun! Mbak!"
Berulang kali aku mencoba membangunkan mbak Gotik, tetapi belum sadar juga hingga entah berapa lama akhirnya matanya terbuka perlahan.
"Lele?" gumam Mbak Gotik saat ia menatapku dengan mata menyipit, tetapi tidak lama kembali terpejam dan mengeluh pusing.
"Meremin dulu aja, Mbak. Wajar kalo pusing. Tadi Mbak pingsan soalnya," ucapku yang tidak dibantah olehnya. Manis sekali.
Mbak Gotik terlihat memejamkan mata dengan tangan melipat di dada. Napasnya sudah mulai teratur hingga sepertinya ia benar-benar terlelap.
Aku meninggalkan Mbak Gotik dan memilih untuk pergi ke pinggiran kapal pesiar, menikmati terpaan angin dan sorot mentari yang mulai terik.
Kapal berlayar di atas air berwarna biru bahkan sesekali terlihat lumba-lumba saling berkejaran serta burung-burung yang terbang di bawah langit biru hari ini.
Aku memejamkan mata, menikmati terpaan angin yang membelai wajah serta tubuhku. Aku masih belum percaya kalau saat ini telah menjadi suami dari bos sekaligus pemilik perusahaan.
"Mas Levine," sapa seorang perempuan.
Aku membuka mata, lalu melihat ke samping yang sudah berdiri wanita muda yang sepertinya usia dia tidak jauh dariku.
"Selamat, ya?" katanya padaku sambil mengulurkan jemari lentiknya.
"Thankyou," jawabku sambil meraih uluran tangannya.
Beberapa detik dia masih menjabat tanganku hingga akhirnya ia melepaskan setelah aku berdehem.
'Ehm!'
"Eh, maaf, Mas," ucapnya sambil memalingkan wajah sehingga pipi merahnya kini terlihat olehku.
"Mau apa mencariku?"
"Enggak ada apa-apa, Mas. Hanya ingin mengucapkan selamat saja karena Mas Levine sudah menikah dengan Nona Kia," ucapnya.
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Sebenarnya––" Ucapan asisten Mbak Gotik terjeda.
"Mas Levine, Nona Kia mencari Anda," ucap seseorang yang berdiri di pintu samping kapal.
"Ya, terima kasih!" kataku kemudian melangkah pergi. Namun, tangan hangat meraih lenganku.
Aku pun menoleh dan melihat wajah lugu dari asisten Mbak Gotik yang bernama Alda.
"Sesungguhnya aku sudah suka sama Mas Levine saat pertama melihat Mas di kantor Nona Kia, tapi aku baru berani mengutarakannya saat ini." Tiba-tiba kata itu keluar dari bibir Alda.
Aku tersenyum.
"Gue udah nikah, Al."
"Tapi aku tahu pernikahan ini hanya pura-pura dan kalian bisa bercerai kapan saja," ucap Alda.
"Jadi, kamu berharap pernikahan kami kandas, Al?"
"Tentu saja!" jawabnya dengan penuh semangat serta keyakinan yang terlihat membara. Jujur, aku malah was-was dengan segala ucapannya.
Bukankah ucapan itu merupakan sebait doa?
**
Tidak ada komunikasi antara aku dan Mbak Gotik. Di dalam mobil hanya membisu dan Mbak Gotik sibuk dengan ponselnya. Entah mobil menuju ke mana, karena yang aku tahu rumah Mbak Gotik bukan ke arah sini.
Rupanya mobil berhenti tepat di depan gerbang TPU. Mataku membulat ketika melihat Mbak Gotik yang hendak keluar dari mobil.
"Siapa yang meninggal?" tanyaku saat meraih tangannya agar Mbak Gotik tidak langsung keluar dari mobil.
"Nenekku," ucap Mbak Gotik kemudian dia keluar dari mobil setelah mengempaskan genggaman tanganku yang memang telah mengendur.
Sepengetahuanku Mbak Gotik memang lebih dekat pada neneknya daripada pada kedua orang tuanya bahkan ia memilih tinggal bersama neneknya.
Aku ikut keluar dari mobil dan berjalan di belakang Mbak Gotik. Langit saat ini mendung seolah mengetahui kesedihan Mbak Gotik atas kepergian neneknya. Bukan untuk sementara, tetapi untuk selamanya.
"Neeeekkk!!!" Mbak Gotik memeluk nisan yang bahkan masih terbuat dari kayu.
Jasad yang saat ini sudah bersemayam di dalam tanah serta kelopak bunga yang terhambur di pusara menjadi berantakan ketika lengan Mbak Gotik mencengkeram tanah merah tersebut.
"Nenek kenapa enggak tunggu Kia? Nenek ingkar janji sama Kia," ucap Mbak Gotik dengan air mata yang telah membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Nak, sudah, Sayang. Ini sudah jalannya. Nenek enggak ingkar janji. Ikhlaskan, ya? Biar Nenek tenang di sana," ucap bunda dari Mbak Gotik saat kedua tangannya merangkul pundak Mbak Gotik yang bahkan tubuhnya pun bergetar karena tangis.
Aku memang suaminya, tetapi tidak dapat melakukan apa-apa karena aku mengetahui posisiku di sini hanya seolah suami bayangan atau suami yang hanya menutupi aib keluarganya saja perihal pernikahan dadakan itu. Terkesan ditumbalkan, tetapi aku terima dan aku percaya Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang tulus.
Satu persatu para pelayat telah meninggalkan pusara dan hanya menyisakan keluarga dari Tuan Bobby Albern juga beberapa asisten-asisten rumah mereka yang masih setia berkumpul di pusara.
"Mari kita pulang, Sayang. Langit sudah mulai mendung," bujuk ibunda Mbak Gotik saat awan pekat hitam menyelimuti langit di TPU.
"Aku masih mau sama Nenek, Bun," lirih Mbak Gotik yang masih memeluk nisan neneknya.
Kedua orang tuanya masih setia menunggu hingga akhirnya rintik air hujan mulai turun membasahi bumi.
"Tuan, Nyonya, ijinkan saya menunggu Mbak Kia di sini. Tuan dan Nyonya istirahat saja di rumah. Saya janji akan menjaganya baik-baik."
Terlihat wajah tidak suka dari Tuan Bobby Albern ketika menatapku, tetapi sepertinya sang istri lebih bisa memahami. Ia berbicara pada suaminya sehingga keduanya mencapai satu kesepakatan.
"Baiklah, Saya percaya padamu, Levine. Tolong jaga anak saya," ucap ibunda dari Mbak Gotik yang bernama Sintia.
"Pelayan, berikan payung untuk Levin!" pinta Nyonya Sintia pada salah satu asisten rumah tangganya.
Payung itu pun diserahkan padaku dan saat ini keluarga Albern memutuskan untuk meninggalkan TPU menyisakan aku dan Mbak Gotik di antara gundukan tanah yang berisi jenazah yang masih utuh atau bahkan menyisakan kerongkongan saja.
Aku hanya diam mengamati tubuh Mbak Gotik yang masih setia memeluk nisan. Hingga akhirnya hujan semakin lebat dan aku membuka payung untuk meneduhkan tubuhnya dari terpaan air hujan.
"Berteduh, yuk?!" ajakku.
Mbak Gotik menggeleng.
"Gue janji hanya mengajak berteduh saja dan gak akan ngajakin pulang, Mbak. Gue cuma gak mau Mbak sampai sakit," kataku lagi.
"Janji enggak ajak aku pulang, kan?" tanya Mbak Gotik dengan sorot mata sayu saat melihatku.
Aku mengangguk dan Mbak Gotik bersedia ikut denganku.
Kami berjalan menuju gazebo yang berdiri kokoh di bawah pohon kamboja dan kami memutuskan untuk duduk di sana.
Hujan ternyata cukup lama hingga sore hari kami masih terjebak di sini. Akhirnya langit berubah gelap bukan karena mendung lagi, tetapi telah berganti malam.
Mbak Gotik terlihat lelah, ia merebahkan tubuhnya tanpa satu patah katapun dari bibirnya. Aku membuka kemeja yang melekat di tubuhku untuknya. Semilir angin malam semakin terasa dingin menusuk tulang hingga akhirnya aku memilih untuk ikut berbaring di sampingnya dengan posisi saling memunggungi.
Entah berapa lama aku terlelap hingga mataku terbuka karena mendengar jeritan dari seseorang.
__ADS_1
"Aaaaa!!!!"