Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Tawaran Untukku


__ADS_3

"Duduklah!" ucap wanita paruh baya.


Aku menyeret kursi, lalu duduk.


Ia adalah Sintia––ibu mertuaku. Entah beliau mau menyampaikan perihal apa padaku karena wajahnya terlihat serius. Namun, sebelum membuka pada perkara inti, beliau memintaku untuk makan masakan yang ternyata sudah dipesan dan tersaji di meja.


Masakannya cukup terlihat enak dan kami pun makan bersama-sama tanpa ada kata.


"Saya ingin, kamu memberikan cucu pada kami," ucap Nyonya Sintia yang membuaku terbatuk.


'Uhuk!'


Aku meraih air mineral di gelas kemudian kuminum perlahan untuk meluruhkan rasa sakit di tenggorokan kemudian diam sejenak dan keheningan saat ini meliputi kami berdua.


"Tapi pernikahan kami––" kataku terhenti saat satu lembar cek kosong disodorkan di atas meja padaku oleh Nyonya Sintia.


"Itu ada cek kosong, kamu bebas isi berapa pun yang kamu mau asalkan bisa memberikan keturunan dari Kia, sebagai penerus keluarga Albern," ucap Nyonya Sintia seolah tidak memberikanku kesempatan untuk membantah.


Aku tersenyum. Rupanya selain aku dipandang rendah oleh Tuan Bobby, aku pun di pandang matre oleh Nyonya Sintia karena aku miskin di mata mereka. Ya, aku miskin. Lelaki yang hanya lulusan D3 berusia dua puluh satu tahun yang hanya beruntung saja bisa menikah dengan anak dari pemilik perusahaan.


"Maaf, Nyonya. Saya hanya tidak ingin memaksa Nona Itik, eh, maksud saya Non Kia."


Nyonya Sintia tersenyum sarkas.


"Suatu saat kamu pasti akan menerima tawaran saya. Ambillah, dan turuti keinginan saya!"


"Apakah Nyonya membawa ballpoint? Saya ingin menuliskan nominal di sini."


Senyum sarkas itu kembali mencuat di hadapanku. Kemudian Nyonya Sintia meraih sesuatu dalam tasnya yang ternyata ballpoint dengan casing berwarna gold.


Lagi, aku harus menurunkan egoku di depan orang-orang kaya yang selalu memandang orang pas-pasan sepertiku akan menuruti apa pun demi uang.


"Ini!" Aku menyerahkan kertas cek yang telah kuisi pada Nyonya Sintia.


Nyonya Sintia tersenyum lebar saat meraih selembar cek yang aku tulis dengan angka; 9.000.000.000.000.000.000.000.000 dan seketika sepasang mata Nyonya Sintia membulat kemudian mengalihkan sorot mata itu padaku.


"Nominal apa, ini?" tanya Nyonya Sintia seolah tidak suka.

__ADS_1


Aku tersenyum.


"Itu yang saya butuhkan, Nyonya. Terlalu banyak, kan? Namun, saya masih bisa mencarinya dengan bekerja. Saya masih muda, Nyonya. Permisi!" Aku bangkit dari tempat dudukku untuk meninggalkan ibu mertua yang tampak kesal.


"Nyonya akan mendapatkan cucu dari saya ketika putri Anda benar-benar jatuh cinta sama saya," ucapku pelan kemudian melangkah pergi.


**


Hujan masih turun cukup deras dan aku memaksakan pulang. Untung saja aku menuruti apa yang dikatakan Mbak Gotik.


Mobil telah terparkir di halaman rumah Mbak Gotik yang dulu tinggal bersama neneknya. Aku berlari, tetapi tetap tubuhku kuyup.


"Mas Levine?" Seseorang menyapa dengan raut wajah khawatir saat melihatku di depan pintu.


"Masuk, Mas!" lanjutnya dan ia membuka pintu lebar.


Aku berjalan masuk kamar untuk segera mandi dan tentu saja mengganti pakaianku dengan kaos lengan panjang serta celana panjang juga. Badan terasa dingin dan akhirnya meler melanda meskipun hari masih siang. Mungkin karena hujan melanda dan membuat cuaca berubah menjadi begitu dingin.


"Mas Levine!" Seseorang di luar memanggilku.


Aku membuka pintu sambil sesekali menarik napas agar mengurangi meler yang terasa terus-menerus keluar.


"Nanti gue yang turun."


"Baiklah, permisi!" ucap Alda yang kemudian menuruni anak tangga karena kamarku dan Mbak Gotik sama-sama ada di lantai dua bersebelahan.


Aku menutup kamar, tetapi sepertinya kamar Mbak Gotik terasa sepi ketika aku melewatinya.


Hujan cukup deras, bahkan terasa semakin deras ketika langit menghitam. Aku duduk sendiri di ruang makan sambil menyesap susu cokelat yang dihidangkan oleh Alda.


"Makasih, ya?" kataku saat Alda hendak melewatiku.


Alda tersenyum manis.


"Sama-sama," jawabnya dengan intonasi yang begitu lembut.


"Mbak Gotik ke mana?" tanyaku.

__ADS_1


"Keluar, Mas. Katanya mau ketemu sama klien di luar. Tadi Mbak Kia berangkat sama sopir enggak jauh dari Mas Levine pergi," terang Alda menjelaskan dengan terperinci.


Aku mengangguk dan masih menyesap susu cokelat yang cukup membuat tubuh terasa hangat.


Berjalan menapaki anak tangga untuk kembali ke kamar dan aku memilih untuk masuk ke selimut tebal saat hujan masih melanda. Mataku selalu tertuju pada setiap jarum jam yang berputar berulang-ulang hingga akhirnya hari sudah sore.


Kenapa Mbak Gotik belum juga pulang?


Kembali aku merasakan kekhawatiran mendera ketika Mbak Gotik jauh dariku. Aku mencoba menghubungi ponselnya, tetapi sial malah tidak aktif. Sepertinya ada gangguan sinyak karena hujan masih turun dengan derasnya.


Tidak ingin kejadian buruk menimpanya, aku berinisiatif mencarinya meski tidak tahu akan mencari ke mana? Namun, minimal aku pergi dari rumah dan mencoba mencari keberadaan istriku sambil terus menghubunginya.


"Mas Levine mau ke mana?" Alda berteriak dalam rumah ketika aku sudah ada di teras luar.


"Cari Mbak Gotik!" jawabku tanpa ingin mendengarkan apa yang ia ucapkan pada percakapan selanjutnya.


Masuk ke mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi meski pandanganku sedikit terganggu oleh air yang terus-menerus turun membasahi kaca mobil depan dan mengaburkan pandangan.


Mobil dengan leter B 46 TAN kini terparkir di pinggir jalan. Aku sedikit bingung karena itu merupakan mobil Mbak Gotik. Akhirnya aku memutuskan untuk turun sambil mengenakan payung yang memang tersedia di dalam mobil.


"Pak? Pak?!" Aku memanggil sambil menggedor kaca mobil. Tidak berselang lama akhirnya kaca terbuka dan seperti dugaanku. Di dalamnya terlihat sopir Mbak Gotik.


"Mas Levine?" Sepasang mata sopir Mbak Gotik membulat.


"Mbak Gotik ke mana?" tanyaku yang malah semakin khawatir.


"Maaf, Mas. Mbak Kia ada di Cafetaria tempat biasa dia bertemu dengan kliennya. Saya tadi disuruh untuk mengambil sesuatu di butik, tapi malah mobilnya mogok dan ponsel saya mati," terang sopir Mbak Gotik.


"Ya sudah, gue jemput Mbak Kia dulu, Pak. Sekalian nanti call bengkel untuk datang ke sini perbaiki mobilnya," kataku sambil mengirimkan pesan singkat bengkel.


"Baik, Mas. Terima kasih," katanya yang kemudian kembali masuk ke mobil. Sedangkan aku langsung meluncur ke Cafetaria.


Perjalanan sepi sehingga aku meluncur dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit akhirnya aku sampai di Cafetaria.


Kembali menggunakan payung dengan meler yang semakin parah saat ini. Padahal aku sudah mengenakan celana beserta kaos berlengan panjang, tetapi dinginnya hari ini seolah menembus baju yang sedang kukenakan meski cukup tebal.


Di sana terlihat Mbak Gotik mengotak-atik ponsel. Sepertinya ia sedang berusaha menghubungi orang yang bisa ia mintai tolong. Aku hanya mematung dari tempat yang cukup jauh. Ekspresi wajah Mbak Gotik malah terlihat semakin lucu saat terus-menerus mengoprek ponselnya. Saat waktu yang bersamaan akhirnya aku terperanjat ketika mendengar ponsel berdering sehingga aku memutuskan untuk merogoh ponsel dan melihat notifikasi pesan dari benda pilih yang sedang aku genggam.

__ADS_1


[Lele, kamu di mana?] Isi pesan singkat Mbak Gotik yang membuatku tersenyum.


__ADS_2