
Hujan telah reda dari jam lima sore. Saat ini langit telah gelap dan jarum jam menunjuk pada angka tujuh.
Suasana di rumah Mbak Gotik terasa sepi dan kami memiliki kesibukan sendiri. Esok kantor libur dan apa salahnya kalau aku mengajak Mbak Gotik keluar hanya untuk makan malam atau sekadar menikmati suasana malam hari di pusat kota meski mungkin saja baginya ini hal yang terlalu biasa-biasa saja. Namun, jangan salah ketika jalan denganku pasti akan ada hal yang berbeda.
"Mbak?" Aku mengetuk pintu kamarnya.
"Iya!" Mbak Gotik menyahut dari dalam. "Masuk saja, tidak aku kunci, Le!" sambungnya lagi.
Aku mendorong handle pintu dan melihat Mbak Gotik sedang duduk di depan meja rias. Rupanya ia sudah berdandan cantik malam ini.
"Mbak mau ke mana?" tanyaku cukup bingung karena paling tidak aku harus kembali mengalah.
"Ke rumah Bunda. Lima belas menit lagi kita berangkat, ya?" ucapnya sambil memoles pipi dengan kuas blush on.
"Lah, kok, ngedadak gini?"
"Hu'um, ada hal penting katanya. Ya sudah, cepatlah kalau kamu mau berganti baju," titahnya.
Tumben, malam ini Mbak Gotik enggak galak?
Aku memilih kembali masuk ke kamar untuk sekadar mengganti kaos dengan kemeja warna hitam, warna yang begitu aku sukai selain daripada keheningan yang membuatku tenang. Kemudian berjalan dan duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponsel. Ternyata ada pesan singkat dari nomor papa yang belum aku buka.
[Harwit, ibumu berada di Mriyan, Bantul, Yogyakarta.] Isi pesan dari papa.
Bantul? Bukankah Mbak Gotik ada agenda ke sana Minggu esok?
"Ayok, Le!" Mbak Gotik mengagetkanku dan ternyata ia sudah berdiri di hadapanku. Aku langsung memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Sehingga aku belum sempat membalas chat dari papa.
Mbak Gotik begitu cantik mengenakan mini dress warna peach dan tas selempang kecil berwarna senada serta sepatu teplek warna hitam yang membuat tubuhnya terlihat menjadi lebih pendek dari biasanya. Imut, sih. Lucu seperti anak SMA apalagi dengan rambut panjang yang ia ikat sedikit serta jepitan kupu-kupu yang kecil tersemat di rambutnya membuatku––
"Heh! Ngapain liatin aku kayak begitu?!" sengitnya yang ternyata wajah Mbak Gotik sudah mendongak di hadapanku meski wajahnya berada cukup jauh di bawahku.
Aku melirik ke bawah dan ternyata kaki Mbak Gotik berjinjit membuatku sedikit nyengir.
"Kenapa senyum-senyum? Ada yang aneh dari penampilanku, kah?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang terlihat mulai tidak pede.
Aku kembali tersenyum tanpa menjawab apa pun. Perlahan sepasang matanya mulai melirik pada tubuhnya sembari tertunduk dan kaki yang masih berjinjit akhirnya mulai ia turunkan. Namun, entah kenapa tubuhnya malah hampir terjengkang.
Refleks aku melingkarkan tangan pada punggung Mbak Gotik bermaksud meraih dan mendekatkan tubuhnya agar tidak terjengkang, tetapi yang terjadi malah Mbak Gotik terjatuh dalam dekapanku.
Saat ini wajahku benar-benar dekat dengannya. Bahkan aroma lembut shampo sudah terhidu oleh indera penciumanku.
__ADS_1
Ah, no, no, no, Levine. Ada yang gak beres sama detak jantung lu!
Argh! Lagi-lagi setan dalam sini seolah mengganggu kebersamaanku dengan Mbak Gotik. Namun, memang benar adanya, jantungku saat ini berdebar lebih kencang. Aku tidak sakit, kan, Tuhan?
"Sorry!" kataku sambil menjauhkan tubuh Mbak Gotik dan menetralisir debar yang lebih kencang dari biasanya.
"Tidak apa-apa, kita berangkat sekarang!" ucapnya kemudian berlalu mendahuluiku.
Mbak Gotik sudah berdiri di pintu mobil dan aku membukakannya. Ia masuk dengan gemulai benar-benar terlihat berbeda dari biasanya yang selalu galak, cerewet juga judes e puoolll.
Hujan memang sudah reda, tetapi di beberapa titik jalanan masih ada yang tergenang menutupi jalanan.
"Mbak, bukankah lusa Mbak mau ke Yogyakarta?" Aku memecah keheningan. Sesungguhnya memang sekalian ada yang ingin aku utarakan padanya.
"Hu'um, memangnya kenapa?"
"Boleh gue ikut?" kataku meski ragu.
Aku menoleh sekejap dan pada saat bersamaan Mbak Gotik pun menoleh padaku.
"Untuk apa?" tanya Mbak Gotik terlihat heran saat menatapku. Namun, aku segera memalingkan pandangan dan kembali berfokus pada kendali setir.
"Gue, kan, suami Mbak. Gue ingin pastiin Mbak aman gak ada yang godain, lah!"
"Pokoknya gue ikut, atau––" Aku menghentikan kalimat dan membiarkan menggantung begitu saja di udara.
"Atau?"
"Atau gue minta hak batin gue sebagai seorang suami malam ini."
"Ih, najis!" katanya yang terdengar muak bahkan saat aku melirik wajahnya seolah membayangkan melalui malam pertama dengan berondong.
"Nujas-najis mulu, coba juga belum."
"Ssstttt ... hentikan ocehanmu! Bayanginnya aja aku udah geli kalau harus tidur bareng kamu. Apalagi kalau––" ucap Mbak Gotik terjeda. "Iyuuhhh ... enggak, enggak. Enggak mau!" sambungnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Laaahhh, baru dipikir aja udah geli."
"Ish!" Mbak Gotik kesal dan menjewer telingaku.
"Adooh! Sakit, Mbak ...." ucapku sedikit meringis.
__ADS_1
Perdebatan di dalam mobil cukup membuat tubuhku menghangat. Tidak usah berpikir ke mana-mana juga, kami hanya berdebat masalah hak yang berujung jeweran hingga akhirnya tidak terasa mobil telah sampai di rumah berlantai dua.
"Bundaaa!" Mbak Gotik berlari menghambur dalam pelukan ibunya di teras rumah.
"Aku kangen tau, sama Bunda," sambung Mbak Gotik yang terlihat manja. Sorot mata Nyonya Sintia pun terlihat berkaca-kaca. Nampaknya memang mereka saling merindu. Padahal hanya sekitar dua hari saja tidak bertemu, karena di hari pertama mereka ada di rumah sakit menemani Mbak Gotik.
"Bunda juga kangen sama kamu, mari, masuklah!" ajaknya sambil mengusap-usap lembut punggung putrinya.
"Ayok, Le!" Mbak Gotik mengajakku. Aku kira ia bakal lupa kalau ada aku di sini.
Berjalan masuk ke rumah bercat putih terang yang bersih serta keadaan rumah yang terasa sepi malam ini.
"Anak Ayah!" sambut Tuan Bobby dengan seulas senyum dan pelukan hangat ketika putrinya menghambur dalam dekapan.
"Ayah ...." Suara lirih terdengar dari bibir Mbak Gotik.
Nyonya Sintia terlihat menyunggingkan senyum ketika melihat putri dan suaminya saling berpelukan. Entah, apa yang terjadi malam ini? Mereka seperti orang yang baru saja dipertemukan.
"Mari, kita makan malam bersama," ucap Nyonya Sintia.
Mbak Gotik dan Tuan Bobby akhirnya mengakhiri pelukan hangat itu. Kedua jempol tangan Tuan Bobby mengusap air mata putrinya yang sepertinya telah menetes sejak tadi.
Makan malam telah dimulai dengan menu makanan yang cukup lengkap dan terlihat lezat menggugah selera. Tidak ada percakapan apa-apa lagi, hanya denting sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring saat kami semua sedang menikmati hidangan malam ini.
"Esok kami akan berangkat ke London, Sayang," ucap Tuan Bobby pada Mbak Gotik.
Aku merasa heran dengan percakapan Tuan Bobby; Mau ngapain ke London?
"Apakah tidak bisa dibatalin aja kontrak kerjanya, Yah? Kita bisa memulai bisnis di sini, loh," ucap Mbak Gotik seolah memohon.
Tuan Bobby mengusap lembut pipi putrinya dan menatap dengan pandangan teduh. Sungguh, aku baru menyaksikan kelembutan sorot mata Tuan Bobby malam ini yang biasanya menatapku seolah melihat seorang penjahat.
"Enggak bisa, Sayang. Perusahaan kita sudah di ujung tanduk. Kamu baik-baik di sini, ya?"
Mbak Gotik hanya mengangguk, tapi entah kenapa aku merasakan kesedihannya malam ini. Keadaan sempat hening beberapa saat, lalu terpecah karena ada suara bel berbunyi. Seorang wanita paruh baya terlihat terburu-buru berjalan menuju pintu utama dan hanya berselang sekejap saja ia kembali.
"Maaf, Tuan. Ada yang hendak bertemu dengan Anda," ucap sang pembantu.
Entah yang datang itu siapa. Tuan Bobby langsung bangkit dari kursinya tanpa bertanya.
"Siapa yang datang, Bunda?" tanya Mbak Gotik pada Nyonya Sintia.
__ADS_1
"Entah. Ayahmu sepertinya tidak ada janji dengan siapapun malam ini." Nyonya Sintia pun menggeleng, sepertinya tidak ada yang tahu siapa tamu yang datang malam ini.