
Sepasang mata indah Mbak Gotik terlihat sendu ketika kami menuruni kapal pesiar. Aku dapat melihat kesedihan itu, bagiamana pun juga, sepertinya kapal itu menyimpan banyak kenangan.
"Pulang?"
Aku mengulurkan tanganku untuknya. Awalnya sepasang mata Mbak Gotik menatap lekat kapal itu, tetapi saat ini berpaling pada telapak tangan yang terbuka untuknya.
"Ah, sorry, gue lupa kalau––"
Lisanku terhenti dan hendak meraih tangan yang sudah terulur untuknya. Namun, jemari lentik itu mendarat pada telapak tangan membuatku tidak percaya.
Benarkah ia menyerahkan jarinya untuk kugenggam?
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Mbak Gotik yang membuatku terperanjat.
"Eh, gak, kok."
Aku menggenggam tangannya dan bersyukur malam ini hanya sedikit meler, masih aman bahkan terkendali.
"Tapi aku nggak mau pulang, Le."
"Ya sudah, kita nikmati langit malam saja." Aku menarik tangannya dan tanpa banyak pertanyaan Mbak Gotik mengikutiku.
Aku membuka pintu mobil, menyuruhnya masuk kemudian aku pun masuk di pintu samping dan bersiap memacu mobil.
Sengaja aku mengendalikan stir mobil dengan santai dan saat ini jarum jam masih menunjuk ke angka sembilan, masih cukup siang untuk sekadar menikmati malam bersama sang istri.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Mbak Gotik ketika bibirku tersungging.
"Lucu."
"Siapa?" tanya Mbak Gotik lagi.
"Gue, lah! Masa Mbak?" jawabku ngasal.
"Ish! Di mana-mana orang bilang lucu itu dari bibir orang lain, bukan pendapat sendiri!" protes Mbak Gotik terdengar tidak terima.
"Yaelah, gue beda, Mbak. Gue bukan orang––" kataku masih membantah.
"Dih! Kamu setan?" ucap Mbak Gotik.
"Bukan lah, gue ini rajanya setan," kataku sambil menyeringai dan membuat Mbak Gotik bergidik saat menatapku.
Perjalanan kembali hening. Sesungguhnya aku pun bingung hendak memacu mobil ke arah mana. Namun, aku tidak mau bertanya karena pasti jawaban perempuan kalau ditanya mau ke mana? Jawabnya; terserah!
Setelah berputar-putar cukup lama di pusat kota akhirnya terlihat taman dan aku memilih untuk memarkirkan mobil.
"Kenapa berhenti di sini?" Mbak Gotik menatapku heran.
"Ikut aja, yok!" Aku membuka pintu.
Malam ini langit cukup cerah, bulan bintang pun bersinar membuat keadaan malam ini terasa syahdu. Di taman ini cukup ramai oleh pasangan muda-mudi yang nongkrong. Bahkan banyak penjual makanan yang berjajar di pinggir trotoar yang beralih fungsi.
"Ayok!" ajakku ketika membuka pintu mobil Mbak Gotik.
Meski awalnya terlihat ragu, tetapi Mbak Gotik mau ikut turun dan meraih uluran tanganku.
__ADS_1
"Duduklah!" kataku sambil menepuk rerumputan yang terlihat hijau dari pantulan cahaya lampu taman.
"Kamu yakin menyuruhku duduk di sini?" tanya Mbak Gotik terlihat ragu.
"Yakinlah! Nikah sama Bu bos yang terlihat mustahil aja gue bisa. Masa cuma suruh duduk di rumput aja gak bisa?"
"Ish, kamu, tuh, ya?!" ucapnya terlihat kesal, tetapi akhirnya duduk juga di sampingku.
Tidak ada kata-kata dari bibir kami, tetapi terdengar ramai orang-orang mengobrol bahkan terdengar bucinan-bucinan dari beberapa pasangan yang memuat Mbak Gotik terdengar seperti mau muntah.
"Cih! Makan itu omong kosong! Percaya banget sama cowoknya, endingnya malah nangis," ketus Mbak Gotik ketika mendengar salah satu pasangan yang memang terdengar begitu bucin
"Cieee ... korban gombalan mantan kesel," ledekku yang menjadikan Mbak Gotik terlihat semakin kesal.
Entah kenapa aku suka ketika tatap sinis Mbak Gotik menatapku. Seolah ada gemas-gemasnya dan membuat hatiku menjadi semakin sayang meski sampai detik ini rasaku belum bersambut olehnya.
"Eh, udah ngeledek malah kabur lagi!" ketus Mbak Gotik saat aku yang sedang duduk memilih bangkit dari rerumputan.
"Gue mau kencing dulu, Mbak mau ikut?" Aku mengangkat satu alis saat menatapnya.
"Idih, jorok banget!" Jawabnya kemudian memalingkan pandangan, lalu mendongak menatap langit.
Sesungguhnya aku tidak ingin ke toilet, hanya ingin membelikan jajan saja karena kalau aku mengajaknya pasti Mbak Gotik tidak akan mau.
Akhirnya aku memilih kacang rebus dan susu jahe karena suasana yang semakin malam terasa lebih dingin.
Setelah membayar aku berjalan kembali ke taman. Di sana Mbak Gotik masih duduk dan menatap langit luas meski terlihat hitam.
"Ternyata hitam enggak selalu nyeremin," gumam Mbak Gotik sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya.
"Iya lah. Hitam itu menenangkan," ucapku yang membuat fokus Mbak Gotik pada langit teralihkan menjadi melihat ke arahku yang sedang memegang dua kantong plastik.
"Minum dulu, Mbak!" Aku memberikan satu cup yang berisi susu jahe padanya.
"Apa ini?"
"Susu jahe. Tenang, jahe yang ini aman kok," kataku.
Mbak Gotik meraihnya dari tanganku.
"Terima kasih," ucapnya yang aku jawab dengan anggukkan. "Memangnya ada jahe yang enggak aman?" tanya Mbak Gotik dengan mata menyipit saat menatapku.
"Adalah! Itu, janda herang alias janda bening. Mbak bayangin aja kalau gue menyesap bibir janda bening? Apa gak bahaya?" kataku dengan mimik wajah serius saat menatap Mbak Gotik.
"LEVINE, GILAAAA!!!" teriaknya kesal.
Aku mengulum senyum. Entah kenapa malam ini aku malah bahagia mendengar ia berteriak seperti ini.
Meski awal berteriak dan terlihat kesal, tetapi Mbak Gotik mau menyesap susu jahe dariku.
Menikmati kacang rebus hangat di hadapan hamparan rerumputan taman yang membentang luas serta bunyi-bunyian hewan malam terdengar indah. Padahal, aku paling benci dengan suara kodok ketika malam hari, tetapi saat ada Mbak Gotik di sampingku seolah menjadi simfoni indah yang mengalun merdu.
"Mbak, boleh gue tanya sesuatu?"
"Tanya saja," jawabnya setelah kacang rebus sudah habis menyisakan kulitnya saja.
__ADS_1
"Apa yang Mbak suka dari Pak Erwin? Atau mantan-mantan Mbak yang lain," kataku sambil menatapnya lekat.
Mendengar pertanyaanku akhirnya Mbak Gotik melirik ke arahku dengan ekspresi wajah yang tidak suka.
"Enggak ada pertanyaan yang lain?"
Aku menggeleng.
"Harus aku jawab?"
"Haruskah! Kan, gue tanya, Mbak. Masa iya dikacangin? Kacang yang tadi aja udah dimakan tinggal kulitnya, noh!" Aku menunjuk pada kulit kacang yang ada di plastik. Seperti biasa, Mbak Gotik menatapku kesal atas semua jawaban.
"Tapi pertanyaanmu itu seperti enggak ada yang lebih menarik."
Mbak Gotik memalingkan pandangannya ke arah lain yang seolah menghindar dari pertanyaanku. Entah malas atau ada rasa sakit sehingga ia seolah enggan menjawab.
Aku membingkai wajahnya kemudian membimbing agar mau kembali menatapku.
"Gue hanya ingin belajar dari mereka, Mbak. Kesalahan apa yang membuat Mbak kesal sehingga gue bisa memperbaiki diri kalo ada sifat itu di diri gue."
Hening.
Hanya tersirat sorot mata Mbak Gotik yang seolah menatapku dalam.
"Sesungguhnya banyak yang membuat aku marah, tapi hal ini juga yang membuatku berpikir dan mawas diri, Le. Aku bukan wanita yang baik sehingga tidak ada laki-laki baik yang benar-benar tulus menginginkanku," jawab Mbak Gotik terdengar parau.
"Mbak baik, kok, tapi galak."
"Ya itu dia, makanya enggak ada yang benar-benar tulus cinta sama aku."
"Kalau gue bilang cinta, Mbak percaya?" Aku bertanya dengan kedua tangan yang masih berada di pundaknya.
"Kamu itu masih kecil, Le. Masih banyak bucinnya dan aku enggak suka pemikiran orang-orang bucin. Setua Mas Erwin saja bisa bikin aku terluka. Apalagi yang masih muda kayak kamu? Pasti kamu masih suka gonta-ganti pacar," jawab Mbak Gotik yang lalu menurunkan kedua tanganku dari pundaknya.
"Simpan bucinanmu untuk wanita yang benar-benar kamu cintai, Le. Ingat, pernikahan kita bisa bubar kapan saja!" tegasnya kemudian bangkit dari duduknya di rerumputan.
Mbak Gotik berjalan menjauh sedangkan aku mengempaskan napas kasar.
"Baru kali ini gue ditolak. Sama perempuan yang lebih tua lagi. Dikata anak kecil lagi, astaga, malang banget nasib gue, Tuhan," gumamku ketika tubuh Mbak Gotik terlihat semakin menjauh.
'Masa gitu aja nyerah, Le? Pantas saja Mbak Gotik bilang lu anak kecil. Nyatanya lu kek anak kecil yang menyerah hanya dengan kata-kata seperti itu. Gimana kalo dia minta lu berkorban, coba?!'
Entah setan atau malaikat yang selalu bersamaku. Sosok itu seolah selalu menyerangku dengan kata-kata pedas yang memang ada benarnya.
Masa baru segini saja aku sudah menyerah?
Aku bangkit dari rerumputan untuk menyusul Mbak Gotik.
Mungkin tidak hari ini aku bisa meluluhkanmu, Mbak. Tapi aku yakin akan membuatmu merasa nyaman dan aman ketika bersamaku!
Aku melihat Mbak Gotik sedang mengobrol dengan seorang laki-laki yang sepertinya tidak jauh usianya denganku.
"Minta duit!" ucap si laki-laki itu pada Mbak Gotik yang terlihat memaksa.
Dia siapa? Apakah ini saatnya untuk memperlihatkan keseriusanku pada Mbak Gotik?
__ADS_1
'Hajar, Le. Hajaaarrrr!!!!'
"Ah, setan, diam lu!" ketusku pelan memprotes pada bisikan yang seolah-olah selalu menyuruhku.