Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino


__ADS_3

Mbak Gotik sudah tergolek di atas ranjang. Tubuh imutnya tidak mengurangi keseksiannya di mataku dengan lekuk tubuh yang sintal membuatku tidak jemu untuk memandang.


Yakin hanya mau memandang?


Aku semakin tidak keruan dan memilih untuk keluar dari kamar Mbak Gotik menuju balkon sekadar untuk menetralisir debar yang ada dalam dada. Aku lelaki normal dan aku pun ingin merasakan surga dunia, tetapi lagi-lagi hati kecilku menolak hawa nafsu yang sesungguhnya sudah mulai membuncah dan hampir tidak dapat kukendalikan.


Semilir angin malam yang mengusap wajah dan tubuhku malam ini membuat sedikit relaks dengan mengatur napas dan memutar otak untuk membayangkan hal-hal lucu agar aku bisa lebih fokus.


Sudah hampir dua jam aku masih mematung di balkon dan saat ini melihat tubuh Mbak Gotik yang sedari tadi belum juga bergerak. Akhirnya tubuh dalam selimut mulai terlihat menggeliat.


"Aduuuhhh ...." keluh Mbak Gotik sambil memegang kepalanya. Matanya masih terpejam, tetapi bibirnya seolah terus mengeluh sakit.


Aku berjalan mendekatinya.


"Mbak kenapa?" tanyaku berpura-pura tidak tahu.


"Kepalaku sakit banget," jawabnya masih dengan mata terpejam.


"Mbak relaks dulu."


Mbak Gotik terdiam dengan manisnya ia menuruti apa yang aku suruh dan setelah beberapa saat matanya mulai terbuka.


"Kamu nggak apa-apain aku, kan?" Pertanyaan Mbak Gotik membuat sepasang mataku membulat.


Kenapa dia bertanya seperti itu?


"Heh! Malah melotot, cepetan jawab!"


"Em ... gue, gue––"


Belum juga aku selesai berbicara, Mbak Gotik sudah menitikkan air mata.


***


Sudah tiga hari Mbak Gotik mendiamkanku seolah batu yang enggan ia sapa. Nyonya Sintia pun telah kembali pulang tadi pagi dengan semringah.


"Jalan, yuk?" ajakku pada Mbak Gotik setelah seharian tadi kami sama-sama sibuk di kantor.


"Enggak!"


"Kenapa? Mbak masih marah gara-gara malam itu? Maaf, gue––" Belum juga usai pembicaraanku, Mbak Gotik langsung menempelkan telunjuk pada bibirnya sendiri.


"Sssttt! Cukup, enggak usah nerangin apa-apa lagi. Kamu udah jelas-jelas ambil hal yang paling berharga yang aku miliki agar kita tidak bercerai, kan?" tukasnya.

__ADS_1


"Gue bisa jelasin, Mbak. Kalau––" Lagi-lagi kalimatku terjeda olehnya.


"Aku bilang cukup, ya, cukup! Aku tidak mau mendengar apapun dari bibirmu!"


Mbak Gotik masih bersikeras tidak ingin mendengarkan perkataanku hingga keheningan kini menyelimuti kami berdua di ruang keluarga pada jam tujuh malam.


"Apa gue boleh minta satu hal pada Mbak? Gue janji kalau sampai gagal, gue bakal pergi dari hidup Mbak." Aku memecah keheningan dengan satu pertanyaan.


Mbak Gotik yang sedang fokus pada layar ponsel akhirnya menatapku.


"Apa itu?" jawab Mbak Gotik sambil menatapku.


"Kasih gue waktu 69 hari agar Mbak luluh. Andaikata gue gagal, gue siap angkat kaki dari rumah ini. Atau apa saja yang Mbak mau dari gue."


Mbak Gotik menatapku dengan sungguh-sungguh. Namun, tidak berselang lama tawanya pecah memecahkan keheningan di ruangan ini.


"Bagaimana kamu bisa luluhin aku? Sementara kamu saja bukan tipeku."


"Kasih gue waktu pokoknya. Gue akan terima kalau dalam rentan waktu enam puluh sembilan hari gue gagal. Gue bersedia cabut dari rumah ini!" jawabku bersungguh-sungguh.


Mungkin aku bukan tipenya, tetapi Mbak Gotik lupa kalau ada Tuhan yang bisa membolak-balikan hati manusia. Kun fayakun! Ketika Tuhan bilang; terjadilah! Maka akan terjadi.


"Baiklah, aku catat mulai dari hari esok!" ucap Mbak Gotik kemudian berlalu menaiki anak tangga.


Kenapa harus enam puluh sembilan hari? Karena bagiku angka enam itu seolah menggambarkan ketikberdayaan dengan kepala yang ada di bawah, sedangkan angka sembilan kepalanya sudah berada di atas alias aku berhasil mendapatkan hati Mbak Gotik.


Yakin? Tidak juga, sih!


Aku teringat di hari ketujuh saat menghuni rumah ini dan terlepas dari kost yang sempit seolah burung yang terbang bebas dari sangkarnya. Namun, alih-alih bebas aku malah tidak dapat berbuat apa-apa meski saat ini statusnya sudah berubah menjadi seorang suami. Terkadang hidup memang selucu ini. Bebas dari kost malah masuk ke rumah percobaan.


Ya, bagiku rumah ini merupakan rumah percobaan. Di mana aku harus kuat iman dengan godaan seorang istri yang harusnya telah bebas kusentuh, tetapi tidak denganku yang harus ekstra sabar menahan gejolak yang meronta dari hari ke hari.


Entah hal ini sebuah ketololan atau tidak. Menikah hanya untuk status, bukan karena cinta. Namun, aku yakin dengan pepatah Jawa; 'witing tresno jalaran soko kulino' yang memiliki arti; 'cinta hadir karena terbiasa.'


Ya, aku yakin cinta itu akan hadir di hati Mbak Gotik karena seringnya kami bertemu untuk berkomunikasi. Hanya memerlukan sedikit usahaku untuk meyakinkannya kalau aku laki-laki yang pantas mendampingi hidupnya meski di mata Mbak Gotik aku ini seorang pemuda tanggung yang mungkin masih diragukan kedewasaannya.


**


Pagi-pagi aku sudah siap-siap bergegas ke kantor dengan kemeja warna putih yang kudobel dengan jas warna hitam serta dasi yang sesungguhnya malas kukenakan. Tiba-tiba saja aku mendengar Mbak Gotik seperti muntah-muntah di samping kamar.


"Mbak? Mbak kenapa?" Aku mengetuk pintu kamar, tetapi masih belum ia buka.


Aku membiarkannya beberapa saat hingga akhirnya aku putuskan kembali memanggilnya dan berharap pintu akan dibuka.

__ADS_1


"Mbak? Oy! Mbak kenapa?" Aku mulai panik ketika pintu masih rapat terkunci ketika aku mencoba membuka handle pintu kamarnya.


Jujur aku semakin takut terjadi hal buruk pada Mbak Gotik. Meski aku hanya suami bayangan, tetapi tanggung jawabku sebagai seorang suami ini begitu besar di depan ayah dan bundanya. Ah, aku pun tidak tahu keadaan kakakku saat ini setelah berhasil dibujuk ke rumah sakit dari dua hari lalu setelah aku menjenguknya.


Aku berlari dan masuk kamar untuk masuk melalui balkon kamar yang biasanya ia buka ketika pagi hari seperti saat ini. Tepat dugaanku, ternyata pintu balkon tidak dikunci dan aku masuk tanpa permisi.


"Ya Tuhan! Mbak kenapa?" Aku melihat Mbak Gotik duduk di depan wastafel di kamarnya. Wajahnya terlihat pucat pasi.


"Sorry, gue gendong ke tempat tidur, ya?"


Tanpa menunggu persetujuan aku menggendong tubuh mungilnya menuju ranjang dan membaringkan dengan perlahan.


"Kita ke rumah sakit, ya?" ajakku, tetapi Mbak Gotik menggeleng.


"Aku hanya mual, Le."


"Iya tapi wajah Mbak pucat banget. Gue khawatir!"


"Enggak. Aku hanya ingin tidur, sepertinya aku masuk angin," ucap Mbak Gotik sambil menarik selimut sedikit menutup wajahnya.


"Ya sudah, Mbak rehat, deh. Gue ambilin dulu nasi biar Mbak makan di sini aja."


Aku bangkit dari tepi ranjang, lalu berjalan membuka pintu kamar yang dikunci dari dalam.


Kaki menuruni anak tangga menuju dapur. Di sana ada Alda yang sempat menanyakan perihal Mbak Gotik. Entah apa saja yang ia pertanyakan aku hanya menjawab seperlunya kemudian kembali ke kamar setelah membawa nasi, sayur bening, air mineral dan teh manis hangat pada nampan berukuran sedang.


"Makan dulu, Mbak!"


Tubuh Mbak Gotik kubenahi agar merasa nyaman bersandar pada head board ranjang. Namun, baru saja seujung sendok nasi yang masuk ke mulutnya, Mbak Gotik terlihat mual.


Mbak Gotik kembali muntah dan sumpah aku sungguh merasa kasihan melihat keadaannya.


"Le? Apa aku hamil?" tanya Mbak Gotik.


Aku menyipitkan mata saat ia bertanya hal ini padaku.


"Bukankan setelah acara pernikahan kamu telah melakukan hal itu padaku?" ucapnya seolah sedang mengingat-ingat kejadian malam pertama kami di cottage.


"Maaf, gue––" Belum juga usai menjawab, Mbak Gotik menyela ucapanku.


"Ah ... astaga! Aku sama sekali tidak ingat, yang aku ingat hanya mabuk dan ketika aku bangun, kita sudah sama-sama berada di ranjang yang sama dengan bajuku yang telah kamu ganti. Kamu jahat sama aku, Lele!" ucap Mbak Gotik terlihat kesal sambil memukul dadaku dengan sisa tenaga lemahnya.


>>>tinggalin jejak kalian, ya! Like, rate dan komen. Terima kasih<<<

__ADS_1


__ADS_2