
"Astaga!" Hampir saja aku tertabrak oleh mobil yang melaju cukup kencang.
"Woy! Kalo jalan pakek mata!" pekik seseorang yang ada dalam mobil ketika separuh badannya keluar dari jendela saat memakiku.
Awalnya aku ingin meminta maaf, tetapi aku sadar ketika melihat wajah lelaki itu, kemudian aku melihat seorang perempuan di sampingnya.
Mbak Gotik?
Mataku membulat karena Mbak Gotik terlihat tidur di samping kemudi orang yang tadi bertemu dengannya. Tanpa basa-basi aku langsung menarik paksa lelaki itu keluar dari mobil meski ia berontak dan tidak terima dengan perlakuanku.
"Lu apain dia, hah?!"
Aku mencengkeram kerah bajunya serta menunjuk ke arah mobil yang di dalamnya cukup jelas terlihat wajah Mbak Gotik.
"Dia mabuk," ucapnya singkat.
"Emang lu mau bawa ke mana dia, hah? Kenapa lu gak hubungi gue?" Aku berucap masih dengan bola mata membulat.
Sesungguhnya tanganku sudah gatal ingin menghantam wajahnya yang terlihat mengesalkan, tetapi aku tidak ingin hanya karena hal ini malah akan berbuntut panjang di pengadilan atas tuduhan penganiayaan.
Dia tersenyum sarkas, lalu kedua tangannya mengempaskan tanganku yang sedang mencengkeram kerahnya.
"Santai aja, Bro! Lu siapa, emang?! Hahaha," ucapnya sambil tertawa.
"Lu gak tau siapa gue?" Aku mengangkat sebelah alis.
Aku tidak menghiraukan lelaki itu dan memilih untuk membuka pintu mobil, lalu mengangkat tubuh Mbak Gotik dari dalam mobil.
"Lele?" ucap Mbak Gotik dengan mulut bau alkohol serta mata yang sempat terbuka saat melihatku meski akhirnya kembali terpejam.
"Lu mau bawa dia ke mana?" tanya lelaki itu saat aku menggendong tubuh mungil Mbak Gotik dari dalam mobilnya.
"Baliklah, apa lagi? Karena gue suaminya, paham?"
Aku berjalan dan lelaki itu pun diam seribu bahasa tanpa adanya perlawanan atau pun protes.
Mbak Gotik tidur di pangkuanku yang hendak mendudukkannya di mobil kami. Tubuhnya terlihat lemas dan bibir yang tidak banyak bicara. Entah, ia minum berapa banyak.
Aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi setelah memakaikan seat belt pada tubuh Mbak Gotik. Entah apa yang terjadi di dalam sana hingga akhirnya aku memutar mobil kembali ke cafe untuk memastikan tidak terjadi apa-apa pada istriku yang tengah mabuk saat ini.
Mobil lelaki tadi pun sudah hilang entah ke mana dan aku putuskan untuk mengunci pintu mobil karena Mbak Gotik pun terlihat terlelap.
"Maaf, Mas. Cafe udah mau tutup," tutur seorang lelaki saat melihatku masuk.
__ADS_1
"Maaf, saya hanya ingin melihat cctv cafe ini, bisa?"
Tanpa ada basa-basi aku langsung menceritakan niatku datang ke sana. Pelayan itu menatapku penuh keheranan dan cukup banyak pertanyaan yang terlontar dari bibirnya hingga akhirnya aku diarahkan pada si pemilik cafe.
Saat ini aku dan pemilik cafe berada dalam satu ruangan. Seperti pelayan tadi, si bos cafe juga melontarkan banyak pertanyaan termasuk tujuanku yang meminta melihat cctv cafe mereka.
Si pemilik cafe akhirnya mau menunjukkan cctv cafe mereka apalagi waktunya hanya berselang beberapa puluh menit saja jadi cukup mudah untuk segera mendapatkan hasil yang aku inginkan.
"Boleh copy-kan ke sini?" Aku menyodorkan ponsel dan pemilik cafe itu pun tidak keberatan karena memang dianggap tidak ada yang privasi.
"Thankyou, Bang." Aku mengulurkan tangan dan ia meraihnya.
"Sama-sama," ucapnya dengan seulas senyum.
Aku keluar dari cafe itu dengan terburu-buru. Sesungguhnya tidak enak karena aku menganggu aktivitas mereka yang mungkin saja harusnya telah tutup sejak beberapa menit lalu.
Kembali aku masuk ke mobil dan Mbak Gotik masih terlelap. Aku menyalakan mesin mobil dan meluncur ke tepi pantai yang cukup jauh dari kontrakan.
Entah kenapa aku suka melihat pantai. Suara debur ombak besar seolah memecah kegundahan ketika aku memiliki masalah atau pun kesedihan.
Tepat di pinggir pantai yang dibenteng oleh tembok yang tidak terlalu tinggi aku pun keluar dan mobil yang sengaja tidak aku kunci.
Cukup lama aku duduk di kap mobil sambil menikmati debur ombak di tepi pantai yang terlihat karena adanya sinar berwarna perak dari rembulan. Langit hitam yang memeluk bumi terasa memberikan kenyamanan ketika ada rasa kesal melanda hati. Apalagi saat mengingat rekaman tadi.
Terus menerus bersabar karena hal ini yang mungkin bisa aku lakukan. Entah harus sampai kapan dan entah apakah aku sanggup menahan?
"Cinta. Kenapa lu harus ngerepotin gue? Kata orang, cinta itu indah, tapi kenapa yang gue rasa malah sebaliknya? Menyiksa!"
"Aduuhh ...." Suara keluh terdengar dari dalam mobil. Amarahku yang sedang meninggi tiba-tiba saja terhempas ke dasar jurang.
Amarahku berganti khawatir.
"Mbak?" Aku membuka pintu mobil.
Sepasang mata Mbak Gotik masih terpejam, tetapi sepertinya ia telah sadar dari mabuknya dan meninggalkan pusing di kepalanya.
"Lele? Kita di mana?" tanya Mbak Gotik saat matanya terbuka dan ia melihat ke depan mobil.
"Pantai."
"Loh, Rendy mana?" tanya Mbak Gotik yang berhasil membuatku kembali kesal atas sikap yang ia lakukan terhadap Mbak Gotik.
"Gak tau," ketusku sambil berpaling ke arah lain.
__ADS_1
Hening.
Entah apa yang ada dalam pikiran Mbak Gotik yang jelas aku merasa kesal. Sudah cemburu dan harus melihat cctv yang menyebalkan itu. Ingin sekali aku berkata kasar detik ini juga.
"Setan!" gumamku yang ternyata terdengar oleh Mbak Gotik.
"Kamu kenapa, Le? Sebetulnya apa yang terjadi? Jujur aku tidak mengingat apapun selain Rendy menyuruhku minum," kata Mbak Gotik sambil meraih tanganku.
Aku terdiam.
"Le, ngomong dong. Apa yang sebetulnya terjadi? Kenapa kamu diam?"
"Mbak tau apa yang Mbak minum?"
Mbak Gotik menggeleng.
"Jangan bohong!"
"Enggak, Le. Rendy enggak bilang minuman itu apa. Tapi katanya bisa bikin luka aku sembuh. Lukaku yang kecewa dengan banyak hal."
"Kecewa atas gagalnya pernikahan?" todongku.
"Salah satunya itu, tapi ada yang lebih mendasari sakitku."
"Apa itu?"
"Perlakuan Ayah yang berbeda terhadapku yang hanya anak perempuan. Ayah terlalu menyayangi Zaki, Le. Makanya aku lebih memilih tinggal dengan mendiang Nenek."
Sesungguhnya aku cukup sulit mempercayai perkataan Mbak Gotik. Karena hal ini mirip denganku, tetapi papa cukup adil dalam membagi hal apa pun padaku dan Bang Alex, hanya saja aku yang memang sulit diatur dengan segala peraturan yang dibuat sesempurna mungkin agar terlihat kasta yang tinggi di kalangan bangsawan. Ah, sungguh merepotkan!
"Lalu karena itu Mbak mau aja dijebak oleh temen Mbak itu? Dan kenapa Mbak gak mengakui kalo Mbak udah nikah ke dia?"
"Aku bisa jelasin."
Aku tersenyum sarkas.
"Mbak malu, kan, kalo nyatanya Mbak menikah dengan staf rendahan kek gue?" Aku menatap mata Mbak Gotik tajam.
"Enggak, bukan itu, Le."
"****! Gak usah bohong. Gue tau, Mbak. Gue tau isi otak Mbak menikah karena apa dan tololnya gue begitu bodoh harus menurut sama Mbak."
"Dengerin aku, Le. Sumpah bukan karena itu. Aku memang belum menerimamu di hidup aku. Kamu tau isi pikiranku, tapi, apakah kamu tau perasaanku saat ini?"
__ADS_1