Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Perdebatan Hati


__ADS_3

Alarm sudah berbunyi yang berarti jam saat ini sudah setengah lima pagi, tetapi mataku begitu lengket enggan terbuka. Bahkan meraih ponsel pun masih dengan mata terpejam, hanya mengandalkan tangan.


"Lima belas menit lagi, lah, ya?" Aku bergumam saat bunyi alarm telah mati.


Antara sadar dan tidak sepertinya aku mematikan alarm kemudian kembali tertidur dan aku kembali terbangun ketika ketukan pintu yang bertubi-tubi terdengar memekakan telinga.


Aku membuka mata dan sungguh terasa perih. Samar-samar aku sadar kalau aku masih ada di tempat ti––


"What?! Ini sudah jam berapa?!"


Aku loncat dari kasur menuju ambang pintu kamar, lalu membukanya. Ternyata Mbak Gotik telah rapi dan saat ini sudah berdiri di hadapanku.


"Lah, kamu belum siap-siap?" tanya Mbak Gotik terlihat kaget.


Aku nyengir.


"Lima menit harus udah selesai! Aku tunggu di mobil," katanya kemudian berlalu pergi begitu saja.


Tidak mungkin kalau aku mandi terlebih dahulu. Akhirnya hanya mencuci muka dan gosok gigi saja kemudian mengganti baju dan celana dengan terburu-buru.


Aku mengenakan sepatu kets, untung saja semua keperluan sudah ku-packing dari semalam sehingga saat ini tinggal menenteng saja menuju halaman setelah aku semprotkan parfum ke tubuh.


Menaruh koper milikku dan Mbak Gotik ke bagasi dan setelah ini aku langsung duduk di samping Mbak Gotik yang sedang khusuk melihat ponsel.


"Hampir saja lima menit," katanya tanpa menoleh padaku.


"Gak bakal dihukum ini," kataku sambil menyalakan mesin mobil.


"Kata siapa? Jelas aku akan menghukum karena aku paling tidak suka orang yang ngaret!" ketusnya sambil melirikku sinis.


**


Tidak ada obrolan dalam mobil. Mbak Gotik terlihat diam dan hanya melihat pada jalanan yang ada di hadapannya, paling sesekali ia melirik ke jendela mobil di sampingnya. Bayangkan saja kalau dalam mobil kami tidak melakukan komunikasi apa pun pasti waktu akan terasa begitu lama ketika ada di perjalanan menuju Jogjakarta.

__ADS_1


Aku memutuskan untuk memutar lagu hanya sekadar memecah keheningan. Kebetulan aku menyukai lagu-lagu slow mau itu romantis atau tentang patah hati.


"Mana janjimu, janjimu dulu ...."


Aku mengikuti lirik lagu yang sedang mengalun. Cukup lama aku mengikuti liriknya, tetapi keadaan masih terasa hening. Tidak ada protes ataupun mengikuti lagu yang sedang kuputar.


Aku menangkap satu hal dari kaca spion mobil. Pipi Mbak Gotik sudah basah entah dia sadar atau tidak karena pandangannya tetap terlihat fokus ke depan.


Tidak ingin ada sesuatu hal yang buruk terjadi aku memilih untuk memarkirkan mobil di pinggir jalan dan tepat dugaanku, Mbak Gotik sepertinya melamun. Perlahan aku mengusap satu pipinya, lalu ia terlihat terperanjat seolah sadar dari lamunan.


"Lele?" ucapnya saat ia menatapku.


Aku tersenyum dan Mbak Gotik dengan cepat mengusap kedua pipi dan juga kedua sudut matanya.


"Sorry," kataku merasa tidak enak.


"Kok, maaf?" tanya Mbak Gotik dengan tatap heran dan sendu.


"Pasti ada yang Mbak ingat ketika gue nyanyi, kan? Gue janji gak nyanyi lagu itu lagi deh." Aku mengangkat tangan dan mengacungkan jari tengah dan telunjuk sehingga membentuk huruf V. Pasti Mbak Gotik mengingat Pak Erwin.


"Gak pa-pa. Perlahan aku pasti bisa melupakannya. Sesungguhnya pernikahanku kemarin dengan Mas Erwin batal itu sedikit bersyukur, karena sesungguhnya aku pun gamang dengan keputusan kemarin," katanya yang membuatku tersenyum masam.


"So? Cinta Mbak bukan buat Pak Erwin?"


Mbak Gotik menggeleng.


"Lalu, kenapa Mbak marah pada perempuan yang dulu sama Pak Erwin ketika menyinggung perkara Mbak? Kalau emang gak cinta, harusnya bisa aja dong."


"Jujur hati aku emang bukan buat Mas Erwin. Ada hati lain yang aku jaga, tetapi ia tidak mau memperjuangkanku dulu karena kasta kami berbeda katanya."


"Lalu apa bedanya sama gue, coba? Kenapa Mbak malah milih gue yang hanya staf rendahan di kantor Mbak? Padahal Mbak bisa pilih dirut atau yang berpangkat di kantor Mbak. Banyak cowok yang masih singel."


"Mungkin kita jodoh. Ah, entahlah. Kenapa juga kamu jadi ribet, sih, Le? Aku sudah sering bilang kalau pernikahan kita bisa bubar kapan aja!"

__ADS_1


Ingin sekali aku membungkam bibirnya. Seenaknya saja membubarkan pernikahan. Dikata pernikahan itu seperti permainan atau drama sinetron yang bisa dimulai dan berakhir kapan saja?


Hai, Nona! Jangan harap kamu bisa mempermainkan perasaanku. Lihatlah, aku akan memperjuangkan pernikahan ini dan aku akan pastikan kamu tidak bisa meninggalkanku, entah dengan cara apa.


"Lele, ayok lanjut perjalanannya," pinta Mbak Gotik membuatku sedikit kaget.


Oh, Tuhan. Entah aku egois atau tidak. Namun, bukankah cinta itu tidak harus memiliki? Cinta itu harusnya melihat orang yang kita sayang bahagia dan aku pun ikut bahagia?


'Tolol, tolol! Sejak kapan lu punya pikiran menyerah seperti itu, Le? Sepertinya lu lupa dengan kegigihan terhadap apa pun. Lu lupa udah kabur dari bokap karena ingin memerdekakan kebebasan? Bagi lu, kebebasan itu hak yang patut lu perjuangkan. Lalu, apa bedanya dengan cinta lu? Ingat, lu cinta sama dia, kan? Tunjukkin kalo lu mampu bahagiain dia. Kalo lu mampu meluluhkan hatinya dan lu mampu lindungi dia. Bukan malah beralasan; cinta itu berarti merelakan, semua itu cuma bulshittt! Omong kosong ketika lu aja belum mencoba!'


Lagi, aku seakan ditampar oleh setan. Ya, bisikan yang aku anggap setan ini terkadang benar. Entah, bisikannya selalu menampar, tetapi kalau aku pikirkan dengan hati yang tenang memang ada benarnya. Apakah yang aku anggap setan itu merupakan suara hati?


"Oke, fix! Gue mau perjuangin," gumamku yang sepertinya terdengar oleh Mbak Gotik.


"Perjuangin apa?" kata Mbak Gotik dengan mata menyipit.


"Perjuangin Mbak, lah! Apa lagi?"


Aku menjawab dengan serius dan jujur keadaannya terasa horor karena menjadi hening. Sungguh, aku tidak suka hal ini. Begitu sulit sepertinya untuk membuka hati Mbak Gotik.


"Le, sebenarnya lelaki itu telah meninggal dunia," ucap Mbak Gotik dan spontan aku berucap;


"Thanks, God!" Sambil mengangkat kedua tangan di depan wajahku.


"Leleeee!" Mbak Gotik terlihat kesal.


'Astaga, mulut lu, Le! Gimana dia mau buka hati buat lu? Saat ini lu dianggap orang yang paling tega karena dianggap bersyukur dengan kematian cowok itu. Dasar tolol! Meski syukur yang lu ucapin gue juga dukung. Kesempatan lu terbuka lebar, tapi lu malah tutup dengan kata terima kasih yang gak tepat. Dasar Lele rawa!'


"Setan, lu bisa diem, gak, sih? Jangan bikin gue panik begini," celetuk bibir ini begitu saja berucap.


"Apa? Setelah tadi kamu mengucap syukur saat mendengar kekasihku meninggal dan saat ini kamu bilang aku setan?" tanya Mbak Gotik dengan mata membulat saat menatapku.


Mampus!

__ADS_1


Sepertinya aku mendebat hati di saat yang salah. Aku harus bagaimana, Tuhan? Tidak mungkin juga aku beralasan sedang bicara pada diriku sendiri, bukan?


__ADS_2