
Tubuh Mbak Gotik terkulai di atas bad tanpa sadar. Matanya terpejam sempurna dan terlihat luka-luka lecet serta lebam di area wajah juga bengkak di kakinya. Entah kronologi kecelakaan seperti apa karena belum ada satu orang pun yang menyampaikannya padaku.
"Gimana keadaan Ibu, Pak?" tanya Tisa, resepsionis kantor yang baru saja bekerja dua bulan lalu.
"Belum sadar juga. Sebetulnya kronologi kecelakaannya gimana, sih?" Aku bertanya pada Tisa saat berada di luar ruang ICU Mbak Gotik.
Tisa mulai bercerita, tetapi aku mengajaknya duduk dan kami pun berbincang-bincang.
Ternyata Mbak Gotik baru saja pulang entah dari mana, ia pulang menggunakan jasa ojek online yang membuatku geleng-geleng kepala karena sesungguhnya ia bisa meneleponku atau sopirnya kalau memang ia butuh.
"Nah, jadi pas Ibu Zaskia lagi kasih helm itu pada tukang ojek, ada anak sekolah naik motor dan menabrak beliau," terangnya.
"Anak sekolah itu ada di kantor, Pak, di pos scurity," terangnya lagi.
"Suruh saja dia pulang."
"Tapi, nanti gimana kalo Tuan Bobby menghasut masalah ini, Pak?"
"Biar saya yang urus, kasih tau saja pihak scurity kantor untuk melepaskan anak sekolah itu dengan catatan meninggalkan identitas."
"Baik, Pak, kalau begitu saya ijin pulang dan saya juga akan memberitahukan hal ini pada scurity di kantor."
Aku mengangguk dan Tisa berlalu pergi.
Tiba-tiba saja dering ponsel berbunyi dan ternyata panggilan dari teman kerjaku yang bernama Fiktor.
"Iya, Bang. Ada apa?" Aku menjawab sambungan ponsel darinya yang masih di luar ruangan.
"Mbak Gotik, gimana, Le?"
"Masih belum sadar, Bang."
"Oh, iya, gue cuma mo kasih tau ke lu. Jangan main-main sama cewek lain, Mbak Gotik lagi mantau lu, tau?!"
"Hah? Mantau gimana maksudnya?" Aku menjadi bingung dengan ucapan Bang Fiktor.
__ADS_1
"Jadi, Mbak Gotik itu ngikutin lu ke mana pun lu pergi. Entah tujuannya apa, gue gak tau."
Deg!
Dadaku berdebar kencang saat Bang Fiktor mengucapakan kalimat itu.
Sejauh mana Mbak Gotik mengikutiku?
Percakapan kami pun usai tanpa titik terang. Hanya Mbak Gotik yang tahu sejauh mana ia mengikutiku. Jangan-jangan ia sudah mengetahui siapa aku?
**
Sudah satu jam Mbak Gotik belum sadarkan diri dan saat ini giliran kedua orang tuanya yang mencekokiku dengan begitu banyak pertanyaan. Bahkan Tuan Bobby menyalahkanku atas kejadian siang tadi yang mengakibatkan putrinya sampai tertabrak motor.
"Kenapa kau tidak menahan bocah sialan itu di kantor?!" sengit Tuan Bobby padaku.
"Dia mungkin bersalah, Tuan. Tapi bukan dengan cara mengintimidasinya. Kita bisa ke rumah si anak, karena saya menyuruh staf kantor untuk meminta identitas si anak."
"Lalu, kau percaya begitu saja? Kau percaya bocah sialan itu tidak berbohong pada scurity?"
Aku terdiam.
"Kia begitu karena ulah bocah sialan itu! Arrgghhh! Dasar orang miskin!" Tuan Bobby masih saja emosi.
"Maaf, Tuan, bukankah sebaiknya kita fokus pada kesehatan Mbak Kia?" Aku menyela ucapan Tuan Bobby yang masih tersulut emosi.
"Kamu––" ucap Tuan Bobby sambil menatapku dengan sinis serta tangan yang mengepal. Hampir saja pukulan penuh emosi melayang pada pipi kalau saja Nyonya Sintia tidak melerai.
"Sayang, sudah!" Nyonya Sintia menarik lengan suaminya agar menjauh dariku.
"Benar kata Levine, kita punya uang dan apa susahnya kalau kita lebih berfokus pada Kia saja? Kamu emosi pun, tidak akan membuahkan hasil," sambung Nyonya Sintia yang seolah bernego dengan suaminya.
Ya, aku menghargai ekspresi keduanya. Tuan Bobby marah-marah karena ia begitu menyayangi dan peduli pada putrinya. Sedangkan apa yang dikatakan oleh Nyonya Sintia pun tidaklah salah, bahwa benar adanya mereka itu memiliki uang untuk membayar seluruh biaya di rumah sakit. Jadi, untuk apa memperdebatkan seseorang yang menabrak? Hal ini seolah sia-sia dan alangkah bijaknya kalau memikirkan kesehatan dan keselamatan putri mereka yang diutamakan, bukan mencari yang tidak ada disaat mereka pun tidak mengetahui keadaan putrinya saat ini.
Malam ini kedua orang tua dari Mbak Gotik menginap di rumah sakit. Tuan Bobby sudah terlelap di sofa, sedangkan Nyonya Sintia masih setia menunggu putrinya yang terbaring di bad dengan selalu menggenggam satu tangannya.
__ADS_1
"Nyonya istirahat saja, Mbak Kia biar saya yang menjaga." Aku berkata pada Nyonya Sintia karena waktu telah menunjuk pada angka dua malam.
"Mana mungkin bisa nyenyak jika kondisi putriku saja belum sadar?" ucap Nyonya Sintia.
Aku melihat kekhawatiran mendalam melalui sorot mata Nyonya Sintia. Ketulusan kasih sayang dari sang ibu untuk anaknya benar-benar aku lihat malam ini. Ada rasa iri dari dalam sini karena aku belum pernah merasakan kasih tulus dari mama yang telah pergi meninggalkanku sejak usiaku masih balita. Namun, bukan rasa benci yang ada dalam hati, melainkan rasa rindu yang semakin membuncah.
Aku merindu sosok mama. Aku menginginkan perhatiannya, cara memanjakan anaknya dan hal-hal lain yang sering aku lihat dari ibu tiri ku untuk anaknya.
Tidak berselang lama dokter ke ruangan dan memeriksa keadaan Mbak Gotik. Mungkin sudah jalannya, Mbak Gotik pun tersadar ketika sedang dilangsungkannya pemeriksaan dokter.
"Awhh ...." rintih Mbak Gotik masih dengan mata terpejam.
Aku membulatkan mata, lalu melihat ekspresi wajah Nyonya Sintia yang terlihat bahagia melihat binar mata dan bibir merahnya yang melengkung.
"Kamu sadar, Sayang?" tanya Nyonya Sintia sambil mengusap kepala putrinya.
"Apa yang kamu keluhkan, Nak?" sambung Nyonya Sintia.
"Seluruh tubuhku sakit, begitu pun dengan wajahku, Bunda." Terdengar lirih penuh kesakitan dari bibir Mbak Gotik.
"Baik, saya periksa dulu, ya, Mbak," ucap sang dokter.
Keadaan Mbak Gotik tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya baik-baik saja kata dokter dan untuk rasa sakit dinyatakan wajar karena mungkin hantaman dari sepeda motor bahkan tubuh Mbak Gotik terpental beberapa meter dari tempat kejadian katanya.
Tuan Bobby pun terbangun, wajah bahagianya terlihat saat melihat putrinya yang sudah dapat berbicara. Namun, keadaan ramai itu menjadi hening saat dokter telah keluar ruangan juga kedua orang tua Mbak Gotik yang memutuskan untuk beristirahat karena mungkin sudah merasa lega dengan kesadaran anaknya.
"Tidur, gih! Istirahat," titahku pada Mbak Gotik saat jarum jam mengarah ke angka tiga.
Bukannya menjawab Mbak Gotik malah menatapku dengan sorot yang benar-benar tidak ramah.
"Kenapa liatin gue begitu?" tanyaku yang sesungguhnya mulai tidak enak. Aku curiga kalau Mbak Gotik telah mengetahui siapa aku yang sebenarnya.
"Jangan coba-coba membohongiku. Aku kecewa karena kamu menyembunyikan sesuatu dariku," ucap Mbak Gotik dengan seringai di bibirnya.
"Maksud, Mbak?"
__ADS_1
"Jangan menipuku!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
Sungguh aku tidak dapat berkata apa-apa. Hanya mampu menghela napas panjang dan mengempaskannya perlahan untuk dapat menerima kenyataan. Apakah identitasku akan terbongkar malam ini?