
Mbak Gotik masih merengut saat aku mengemudikan setir mobil menuju pusara neneknya.
"Enggak usah turun!" cegahnya saat aku hendak membuka pintu mobil.
"Eh, gak bisa! Gue harus pastiin Mbak aman."
"Yang ada kalau ada kamu itu yang enggak aman, Lele."
Perdebatan dalam mobil terjadi hingga akhirnya aku mengalah dan hanya menunggu Mbak Gotik dalam mobil.
Hampir setengah jam berlalu Mbak Gotik belum juga kembali. Mau menyusul ke sana tetapi ia sudah melarangku dari awal. Terpaksa hanya menunggu dengan resah dan gelisah dalam mobil.
Lebih dari satu jam aku menunggu dan Mbak Gotik belum juga kembali. Kekhawatiran mulai membuncah hingga akhirnya aku memutuskan keluar dari dalam mobil setelah beberapa saat aku sempat ketiduran dalam mobil.
"Harwit?" ucap seorang lelaki paruh baya ketika kami berpapasan denganku.
"Don't touch me!"
"Oke, oke! Tapi denger dulu," katanya lagi.
"Sorry, aku sibuk!" Aku berlalu pergi.
"Abangmu sakit!" pekiknya.
Aku tersenyum sarkas ketika tubuh ini membelakangi pria paruh baya yang bernama Rico––pamanku.
"Dokter banyak, Om. Dan lagi, bukannya dulu dia yang mengusirku dari rumah?"
"Kalian hanya salah paham saja, cepatlah pulang. Apakah kamu tidak menyayangi Abangmu?"
"Dan apakah dia menyayangiku?" jawabku sambil menatap tajam ke arah Om Rico.
"Tentu saja!"
"Bulshittt!!!"
"Tapi, Harwit––" Om Rico meraih tanganku.
"Stop ngikutin dan jangan menampakkan wajah di depan istriku!"
"Istrimu? Kamu sudah menikah?" tanyanya lagi.
Aku tidak menjawab, hanya menunjukkan cincin nikah yang sudah tersemat di jari manis dan seketika itu Om Rico sepertinya tidak percaya, tapi aku tidak mau peduli dan melanjutkan perjalananku setelah berpesan jangan sampai mengikuti.
Bukan tidak peduli Abang, tetapi aku terlanjur sakit hati olehnya meski berulang kali aku mencoba melupakan. Tuduhan itu terlalu menyakitkan sampai detik ini rasa itu masih tetap sama, tidak berkurang meskipun sedikit saja.
Di sana terlihat Mbak Gotik masih mengusap nisan yang menancap pada pusara neneknya.
"Mbak?"
Aku menyapanya dan saat ini wajah Mbak Gotik mendongak dengan memutar kedua bola matanya seolah memperlihatkan ketidaksukaannya terhadapku.
"Ngapain kamu ke sini, sih?!" tanya Mbak Gotik yang terlihat kesal.
"Mbak lama. Udah satu jam lebih gue tunggu di mobil sampe kering, Mbak belum balik juga."
Padahal sesungguhnya aku khawatir padanya. Aku bisa saja kembali tidur di mobil kalau aku mau, tetapi rasa khawatirku padanya melebihi mengkhawatirkan pada orang lain. Entah, sejak kapan aku memiliki perhatian padanya? Bahkan, pada Abang sendiri aku tidak sekhawatir ini.
__ADS_1
"Tadi ada cowok dan kami mengobrol bareng cukup lama, tapi dia Om-om, kok. Bukan berondong sepertimu!" sengitnya.
"Dih! Padahal berondong lebih mempesona," ledekku sambil memalingkan pandangan.
"Om-om lebih menggoda!" ucapnya yang cukup berhasil menciptakan rasa panas di dalam sini.
"Ayok, pulang! Nanti hujan lagi kek kemarin. Mau, ketemu sama Katemi yang asli di sini?" kataku bernada jutek.
"Ish!"
Seperti biasanya, Mbak Gotik menurut meskipun ia jutek dan anti sekali aku pegang meski hanya tangannya saja. Liciknya, dia bebas seumpama memegang dan memelukku dengan berdalil 'tidak sengaja'. Dasar wanita!
**
Saat ini aku dan Mbak Gotik libur ke kantor. Tidak ada hal atau pun kegiatan yang kami lakukan. Seperti biasanya Mbak Gotik terlihat sibuk. Tidak di kantor, tidak di rumah ia selalu bergelut dengan bisnisnya. Sungguh, ia wanita pekerja keras di mataku.
Mungkin saat ini aku belum bisa memberikan gaji yang pantas untuknya. Jujur saja sesungguhnya aku malu memberikan gajiku padanya. Namun, hal ini merupakan bentuk tanggung jawabku sebagai suami padanya.
"Mbak," kataku saat ia terlihat khusuk di meja kerja bersama laptopnya.
"Hem?" jawabnya tanpa menolehku.
"Ini." Aku memberikan amplop coklat padanya.
Saat ini mata Mbak Gotik tertuju padaku. Kacamata yang sedang ia kenakan akhirnya dibuka dan ia letakkan di meja samping laptop.
"Apa ini?" tanya Mbak Gotik sambil bersender di kursi kerjanya seraya melipat tangan di dada dengan mata yang terlihat serius menatapku.
"Gaji gue. Gak seberapa emang, tapi ini hak Mbak."
Mbak Gotik tersenyum. Matilah aku kalau sampai dia mencerca karena aku berani memberikan uang yang mungkin baginya tidak seberapa.
Aku mengangguk.
"Itu kewajiban gue, meski mungkin Mbak enggak butuh, tapi ini bentuk tanggung jawab gue pada Mbak."
Benar dugaanku. Tawa Mbak Gotik pecah seolah mengolok-olokku. Sudahlah, sudah nasib orang kecil direndahkan seperti ini. Namun, setelah tertawa ia meraih amplop tersebut.
"Makasih, ya?" katanya yang membuatku sedikit lega. Dia menerimanya? Astaga, Tuhan ... aku bahagia.
"Tapi, jangan harap aku bisa memberikanmu malam pertama! Aku tahu modus-modus cowok kayak kamu, Lele!" sambungnya yang kembali salah paham.
Mbak Gotik sepertinya masih merasa kalau pernikahan ini tidaklah realita. Pernikahan main-main yang bisa berujung kapan saja. Sejujurnya aku tidak ingin ia berpikir seperti itu, tapi apa yang bisa aku perbuat?
Tiba-tiba saja ponselku berdering. Ada notifikasi panggilan masuk ketika aku berada di kamar Mbak Gotik. Akhirnya kubuka pesan tersebut dan alangkah terkejutnya aku saat melihat notifikasi dari satu nama.
[Tolong temui aku di Restoran Kemuning saat ini juga!] Isi chat yang masuk di ponselku.
[Baik.] Tanpa pikir panjang aku membalas pesan singkat itu.
"Pesan dari siapa?" tanya Mbak Gotik saat mataku masih terfokus pada layar ponsel.
"Bukan siapa-siapa," jawabku singkat. "Gue keluar rumah dulu, ya? Ada urusan."
"Tumben enggak ajak aku?" tanya Mbak Gotik.
"Biasanya juga gak mau kalo gue ajak pergi. Emang mau ikut?" tanyaku meski ragu.
__ADS_1
"Enggak lah, tapi jangan macem-macem di luar. Awas kalau sampai ketahuan!" ancamnya.
"Kalo gak ketauan, gak pa-pa, ya?"
"Ish, Lele!" Mata Mbak Gotik membulat sambil mendobrak meja. Sepertinya ia kesal dan aku hanya dapat tersenyum.
"Tapi, gue butuh uang buat jaga-jaga kalo motor mogok atau habis bensin, Mbak," ucapku sambil nyengir.
Mbak Gotik memutar bola matanya sambil kembali memberikan amplop cokelat tadi padaku. Meski malu, akhirnya aku ambil selembar uang berwarna merah dalam amplop itu hanya untuk jaga-jaga saja, kemudian selebihnya aku kembalikan padanya.
"Emang segitu cukup?" tanya Mbak Gotik.
"Cukup."
"Di ATM kamu enggak ada uang?"
"Enggak. Kan, abis buat emas kawin kemarin."
"Astaga!"
Mbak Gotik membungkam mulutnya sendiri seraya mata bulatnya menjadi menyipit. Sepertinya ia tertawa di balik lengannya itu.
Aku membalikkan tubuh, tetapi Mbak Gotik kembali memanggil.
"Lele!"
Aku menoleh.
"Jangan pakek motor, pakek mobil aja sudah mau hujan. Ini, kuncinya!" Mbak Gotik memberikan kunci mobilnya.
Aku tersenyum.
"Gak usah, Mbak. Udah biasa gue hujan-hujanan, lagian ada jas hujan di bagasi motor, kok," sanggahku.
"Nurut, gak?!" ucapnya dengan mata membulat. Lagi-lagi aku harus mengalah mengesampingkan malu yang aku miliki di hadapannya.
"Nah, gitu, dong." Mbak Gotik tersenyum saat kunci mobil sudah kupegang. "Ingat, ponsel selalu aktifkan, ya?!"
"Baik, Nonaaa. Ada lagi?"
Mbak Gotik tersenyum, lalu menggeleng dan aku memilih pergi dari ruang kerjanya menuju garasi.
Langit memang sudah mendung. Sebetulnya Mbak Gotik menikah di musim yang tepat (musim hujan), tapi sayang sekali ia masih menganggapku orang lain dan masih seperti orang asing.
Mobil melaju cepat melewati aspal hitam mulus di pusat kota. Hingga akhirnya mobil yang kukendalikan sudah berada di lobi parkir restoran.
Aku turun dari mobil dan benar saja, hujan turun dengan sangat deras ketika aku sudah berada di pintu restoran.
Aku mematung sebelum seorang pelayan menyapaku. Mencari sosok yang kucari dan ternyata ada di meja paling pojok.
"Selamat malam, Mas. Ada yang bisa dibantu?" Pelayan restoran menyapaku dengan ramah.
"Tidak, terima kasih. Orang yang sedang saya cari sudah saya temui. Itu, orangnya sudah duduk di meja paling ujung." Aku menunjuk.
"Baik, Mas. Silahkan." Ia merundukkan badannya begitu sopan.
Aku tersenyum, lalu berjalan menuju meja yang cukup jauh dari pintu.
__ADS_1
"Selamat malam ...." Aku menyapa dan seseorang yang menungguku terlihat sedih saat ia menatapku.