Pesona Mbak Galak

Pesona Mbak Galak
Menunggunya Jatuh Cinta


__ADS_3

Kami pulang di antara derasnya hujan yang menimpa mobil. Ternyata benar dugaanku, sinyal ponsel Mbak Gotik sempat turun bahkan pengakuannya sempat tidak ada sinyal sama sekali membuat dirinya sulit menghubungi siapapun.


Sesungguhnya pertemuan Mbak Gotik dengan kliennya sudah selesai sejak tadi. Bahkan ia sempat diajak pulang oleh kliennya untuk diantar pulang, tetapi ia menolak.


"Kenapa gak mau?" tanyaku yang dibalas tatapan sinis olehnya.


"Dih, malah jutek. Salah gue apa, coba?" Aku kembali bertanya dengan seulas senyum, tetapi Mbak Gotik masih tidak mau menjawab.


Tidak ada percakapan dalam mobil. Hanya kebisuan yang menemani kami selama perjalanan dan hanya bunyi derasnya hujan turun yang menimpa mobil kami hingga kini mobil telah sampai di pekarangan rumahnya.


Aku membuka pintu mobil dan membuka payung, kemudian aku berjalan untuk membuka pintu mobil Mbak Gotik agar ia bisa turun tanpa kebasahan dengan payung yang telah aku bawakan untuknya.


Perlahan Mbak Gotik keluar dan aku meraih pinggangnya agar tubuh kami berdekatan. Bukan bermaksud lancang, aku hanya meminimalisir kalau saja tubuh Mbak Gotik kebasahan.


"Jangan pegang pinggangku!" Mbak Gotik menepuk lenganku kananku yang sedang melingkar di pinggangnya, sedangkan tangan kiriku memegang payung.


Aku pun melepaskan seperti yang ia mau.


"Sorry, gue gak ada niat kurang ajar, kok."


"Gak niat kurang ajar tapi curi kesempatan!" sengitnya yang membuatku tersenyum.


"Kok, tau?" Aku tersenyum dengan memperlihatkan barisan gigi-gigi yang tersusun rapi.


"Taulah! Keliatan dari karakter muka kamu!"


"Hehe ... berarti Mbak tau kalo gue sayang sama Mbak?"


"Dih!" jawab Mbak Gotik seolah kesal, tetapi pipinya terlihat merona.


Kami sama-sama menapaki anak tangga untuk masuk ke kamar. Sesungguhnya di bawah pun ada kamar besar yang dulu ditempati oleh mendiang neneknya, tetapi Mbak Gotik masih belum mau menempatinya. Ia masih sedih seumpama masuk ke kamar itu karena membuatnya rindu akan nenek yang telah pergi tuturnya.


Aku hanya mengganti baju dan celana yang cukup basah karena tadi sudah mandi sebelum menjemput mbak Gotik. Hidung yang mulai meler membuatku merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Ya, tubuhku memang selemah itu terhadap hawa dingin. Namun, aku pastikan akan menjaga sekuat tenaga orang yang aku cinta dan bersedia hidup bersamaku hingga menua.


**


Waktu menunjuk pada angka delapan malam. Sudah banyak hari telah aku lewati bersama Mbak Gotik. Namun, keadaannya masih sama saja sedangkan ibu mertuaku masih selalu meneror untuk memberikan cucu pada mereka.


Hampir satu bulan usia pernikahanku dengan Mbak Gotik dan masih berjalan seperti ini, tidak ada perubahan yang berarti dalam hubungan kami berdua. Mbak Gotik nampak sibuk dengan pekerjaannya dan aku yang mulai sibuk mencari alasan ketika dipaksa untuk memberikan cucu padanya.


"Bunda?" Sepasang mata Mbak Gotik membulat saat bundanya datang ke rumah kami.


"Bunda apa kabar?" tanya Mbak Gotik lagi saat ia sedang berada di ruang keluarga malam ini.


"Bunda ingin menginap di sini, kebetulan Ayahmu sedang ada pekerjaan di luar kota," ungkap mertuaku.


Tentu saja Mbak Gotik terlihat bahagia. Karena momen ini sepertinya jarang terjadi. Di mana satu keluarga yang selalu sibuk mengelola perusahaan. Bahkan, Mbak Gotik pun demikian. Hanya mendiang neneknya yang selalu ada dan setia menemani Mbak Gotik mengobrol santai. Tak ayal ia lebih memilih untuk tinggal bersama sang nenek daripada kedua orang tuanya.


Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita. Mungkin hal itu juga diterapkan oleh keluarga Albern untuk Mbak Gotik. Namun, sepertinya mereka lupa kalau yang diinginkan sang anak bukan hanya hal itu saja, sang anak akan selalu menginginkan perhatian dan kasih sayang seperti ucapan selamat ulang tahun yang mungkin terucap dengan manis persatu tahun sekali.


Tidak lama Alda membawakan latte yang dipinta oleh ibu mertuaku.


"Silahkan, Nyonya, Non dan Mas Levine." Alda menata latte tersebut di meja.


"Aku ke toilet bentar, Bun," kata Mbak Gotik kemudian berlalu begitu saja. Di saat yang bersamaan aku mendapatkan pesan dari seseorang.


"Maaf, Nyonya. Saya ijin angkat telpon sebentar." Aku mengangguk sebagai penghormatan kemudian berlalu menuju teras luar.


Malam ini begitu dingin dengan sisa hujan yang mengguyur bumi dari siang tadi. Semilir angin malam serta tetes-tetes gemericik air yang menimpa genteng seolah menjadi irama yang syahdu malam ini.


"Mau apa lagi?" Aku menerima panggilan ponsel yang ternyata dari Om Riko.


"Harwit, cepatlah pulang. Abangmu tidak mau diajak ke rumah sakit," jawab Om Rico dari dalam ponsel.


Aku tersenyum sarkas. Merasa lucu dengan abangku yang seolah menjadi sosok anak kecil.

__ADS_1


"Kalau aku pulang emang Abang mau ke rumah sakit? Paksa aja, Om! Dia sudah tua, masa iya kelakuannya seperti anak kecil?"


"Om sudah paksa, Harwit, tapi Abangmu tetap tidak mau. Bahkan dokter yang datang ke rumah pun ditolaknya," terang Om Rico.


Perdebatan kami berlangsung cukup lama. Om Rico yang menyuruh aku untuk segera pulang, sedangkan aku yang mati-matian menolak karena tidak mau bertemu dengannya.


Usia Bang Alex memang sudah lebih dari cukup. Perbedaan usia kami terpaut tujuh tahun. Antara aku dan Bang Alex mempunyai karakteristik yang berbanding terbalik. Bang Alex yang memiliki sikap manja sedangkan aku memiliki karakteristik yang keras dan tidak suka diatur.


"Besok aku ke rumah, tapi bukan untuk tinggal di sana. Papa ada, kan?"


"Ada."


"Besok aku pulang, tapi ingat, tidak usah menghubungiku lagi malam ini!" Aku memutus panggilan ponsel.


Sepertinya cukup lama aku berdebat dengan Om Rico. Suasana di ruang keluarga tampak menghangat ketika melihat Mbak Gotik bersama ibunya. Canda tawa terlepas begitu saja di bibir dua wanita yang terpaut usia. Keduanya tampak cantik, tak ayal saat ini aku mulai suka melihat wajah Mbak Gotik setelah halal menjadi milikku. Meski tidak aku ungkiri kalau ia belum sepenuhnya menjadi milikku.


Entah aku bodoh atau aku terlalu baik padanya. Dalam pandangan hukum negara dan agama pun seharusnya aku sudah memiliki hakku atas dirinya. Namun, entah mengapa aku memilih untuk menunggu. Menunggu Mbak Gotik jatuh cinta padaku.


"Ki, Kia." Nyonya Sintia menepuk-nepuk pipi Mbak Gotik yang terlihat tidak sadarkan diri.


Bukan hanya sekali ibu mertuaku mencoba membangunkan putrinya, tetapi Mbak Gotik terlihat seolah tidak sadarkan diri.


Dia tidur atau pingsan?


"Mbak Kia kenapa, Nyonya?" tanyaku saat sudah berada di samping Mbak Gotik.


Aku yang panik setengah mati merasa heran dengan polah ibu mertuaku yang seolah biasa saja. Sempat terpikir dalam lamunan; apakah dia bukan ibu kandung dari Mbak Gotik? Karena saat putrinya tidak sadarkan diri, Nyonya Sintia terlihat biasa-biasa saja.


"Cepat bawa ke kamar dan laksanakan tugasmu untuk memberikan cucu pada saya!" Ucapan Nyonya Sintia membuatku bingung.


"Maksudnya?" Aku menyipitkan mata.


"Kia akan kembali terbangun sekitar dua jam kemudian karena aku telah memberikan obat penenang untuknya supaya dapat terlelap malam ini. Jadi, lakukan tugasmu dengan baik. Kamu laki-laki normal, kan?" tanya Nyonya Sintia yang membuatku heran atas permintaannya.

__ADS_1


__ADS_2